Sekretaris Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Ganjar Harimansyah saat memberikan materi pada Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) Tingkat Provinsi Lampung 2025 | Foto : Eka Febriani / Lampung Geh
Lampung Geh, Bandar Lampung — Upaya mempertahankan eksistensi bahasa daerah terus digencarkan melalui Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) Tingkat Provinsi Lampung 2025.
Kegiatan yang digelar Balai Bahasa Provinsi Lampung ini menjadi bagian dari program nasional pelindungan bahasa dan sastra yang menekankan regenerasi penutur bahasa Lampung di kalangan pelajar.
Kepala Balai Bahasa Provinsi Lampung Halimi Hadibrata menjelaskan, penyelenggaraan FTBI tahun ini dilatarbelakangi oleh kondisi bahasa Lampung yang kini masuk kategori rentan punah. Karena itu, sejak 2023 hingga 2025 Balai Bahasa secara berkelanjutan melaksanakan program revitalisasi bahasa daerah.
"Festival ini menjadi bagian dari penguatan kembali bahasa daerah. Para guru utama dilatih untuk mengajar muatan lokal bahasa Lampung dengan berbagai wahana ekspresi seperti pidato, mendongeng, membaca aksara, dan bernyanyi lagu daerah," ujar Halimi saat diwawancarai Lampung Geh, Rabu (22/10).
Kepala Balai Bahasa Provinsi Lampung, Halimi Hadibrata | Foto : Eka Febriani / Lampung Geh
Ia menambahkan, setelah mendapatkan pelatihan, guru utama tersebut melakukan pengimbasan kepada guru lain di sekolah masing-masing.
Proses ini kemudian diteruskan kepada para siswa, terutama di jenjang SD dan SMP, sebagai generasi muda yang diharapkan menjadi tunas penutur bahasa Lampung.
"Tunas Bahasa Ibu berarti anak-anak muda yang belajar dan menuturkan bahasa Lampung. Harapannya, jumlah penutur akan terus bertambah dari tahun ke tahun sehingga terjadi regenerasi dan ketahanan bahasa Lampung semakin kuat," ungkapnya.
Sementara itu, Sekretaris Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Ganjar Harimansyah menegaskan, FTBI merupakan bagian dari program pelindungan bahasa dan sastra di bawah Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) Tingkat Provinsi Lampung 2025 | Foto : Eka Febriani / Lampung Geh
"Sebelum festival ini berlangsung, para guru utama terlebih dahulu mengikuti bimbingan teknis. Setelah itu mereka mengimbaskan ke guru-guru lain yang kemudian mengajarkan bahasa Lampung di sekolah. Nah, hasil dari proses pembelajaran itulah yang dipertunjukkan dalam Festival Tunas Bahasa Ibu," jelas Ganjar.
Ia menyebutkan, berdasarkan hasil penelitian pada 2021, bahasa Lampung memiliki indeks vitalitas sebesar 0,72, yang menempatkannya dalam kondisi rentan.
Bahkan, menurut data terakhir, status bahasa Lampung menurun menjadi terancam punah, lantaran semakin sedikit generasi muda yang menuturkannya di rumah maupun lingkungan sosial.
"Banyak keluarga di Lampung yang tidak lagi menggunakan bahasa Lampung di rumah. Kalau dibiarkan, bahasa ini bisa punah di tanahnya sendiri. Karena itu, kegiatan seperti FTBI ini menjadi langkah penting dalam menjaga keberlangsungan bahasa daerah," kata Ganjar.
Ganjar menambahkan, para pemenang FTBI tingkat provinsi nantinya akan mewakili Lampung dalam ajang Festival Tunas Bahasa Ibu tingkat nasional di Jakarta. (Cha/Lua)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar