Search This Blog

Living Together: Kebebasan Mahasiswa yang Menguji Batas Etika Modern

kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
Living Together: Kebebasan Mahasiswa yang Menguji Batas Etika Modern
Feb 15th 2026, 08:00 by Kristin Danda Yuliani Lingga

Ilustrasi tinggal bersama pasangan tanpa ikatan pernikahan (living together). Foto: Prostock-studio/Shutterstock
Ilustrasi tinggal bersama pasangan tanpa ikatan pernikahan (living together). Foto: Prostock-studio/Shutterstock

Fenomena living together—atau tinggal bersama tanpa ikatan pernikahan—kini semakin marak terjadi di kalangan mahasiswa. Bagi sebagian generasi muda, pilihan ini dianggap sebagai wujud kemerdekaan personal, cara membangun kedekatan emosional, sekaligus solusi praktis terhadap tingginya biaya hidup di kota pendidikan.

Namun, di balik meningkatnya praktik ini, muncul pertanyaan penting: Apakah kebebasan tersebut selaras dengan nilai etika yang selama ini menjadi landasan moral masyarakat dan dunia akademik? Mahasiswa sebagai agen intelektual seharusnya tidak hanya mengikuti tren, tetapi juga mampu mempertimbangkan dampaknya secara reflektif dan kritis.

Living together di kalangan mahasiswa semakin mengemuka sebagai bagian dari perubahan sosial generasi muda. Ruang-ruang privat—seperti kos bebas, apartemen mahasiswa, dan kompleks hunian di sekitar kampus—sering kali menjadi latar normalisasi praktik tinggal bersama tanpa ikatan pernikahan.

Bagi sebagian mahasiswa, living together dianggap sebagai bentuk kebebasan personal, kedewasaan, atau cara praktis untuk "menguji kecocokan" dalam hubungan.

Namun, semakin berkembangnya fenomena ini menimbulkan pertanyaan mendasar: Apakah kebebasan tersebut benar-benar mencerminkan kemajuan berpikir, atau justru menempatkan mahasiswa dalam pusaran kebingungan moral yang mengikis batas-batas etika modern?

Living Together sebagai Representasi Kebebasan Mahasiswa

Ilustrasi mahasiswa. Foto: Shutterstock
Ilustrasi mahasiswa. Foto: Shutterstock

Bagi banyak mahasiswa, living together merupakan konsekuensi dari era modern yang memberikan ruang luas bagi kebebasan memilih gaya hidup. Konsep ini sering dianggap sebagai cara untuk memahami pasangan secara lebih realistis, menguji kecocokan sebelum menikah, atau sekadar berbagi beban ekonomi di tengah biaya hunian yang semakin tinggi.

Sayangnya, kebebasan ini kerap dipandang hanya dari sisi praktis, tanpa mempertimbangkan aspek psikologis, sosial, dan etika yang lebih dalam. Ketika dua individu yang masih dalam tahap perkembangan emosional tinggal bersama, dinamika hubungan sering kali menjadi lebih intens dan tidak terkontrol. Tekanan ekonomi, kecemburuan, dan ketidaksiapan emosional justru dapat memicu konflik berkepanjangan.

Masalah ini terlihat pada kasus living together di Surabaya pada 2024 yang berakhir tragis. Sepasang mahasiswa yang telah tinggal bersama selama beberapa tahun terlibat pertengkaran hebat yang kemudian memicu tindakan kekerasan fatal.

Kapolsek Sukolilo, AKP Muhammad Irfan, menjelaskan, "Dari hasil pemeriksaan, keduanya sudah hidup satu atap cukup lama tanpa dukungan keluarga maupun pengawasan lingkungan. Ketegangan emosional yang menumpuk diduga menjadi pemicu utama terjadinya insiden tersebut," sebagaimana diberitakan oleh media nasional.

Kasus ini menunjukkan bahwa hubungan yang dijalani tanpa kesiapan mental dan batas etika yang jelas dapat berujung pada konsekuensi yang jauh lebih serius daripada yang dibayangkan mahasiswa pada awalnya.

Ujian Etika dan Pergeseran Nilai di Kalangan Mahasiswa

Ilustrasi mahasiswa. Foto: exam student/Shutterstock
Ilustrasi mahasiswa. Foto: exam student/Shutterstock

Secara etika, living together menempatkan mahasiswa pada titik ambang antara modernitas dan moralitas. Etika bukanlah sekadar aturan kaku yang membatasi kebebasan individu, melainkan juga kompas yang menjaga keputusan tetap berada dalam batas yang bertanggung jawab.

Ketika mahasiswa memilih hidup bersama, mereka tidak hanya menegosiasikan aspek emosional dan ekonomi, tetapi juga harus mempertimbangkan bagaimana tindakan tersebut berimplikasi pada nilai-nilai yang sudah lama menjadi bagian dari kehidupan sosial Indonesia.

Beberapa survei kampus yang dilakukan di Bandung, Yogyakarta, dan Surabaya menunjukkan bahwa mayoritas mahasiswa sebenarnya masih memandang living together sebagai praktik yang bertentangan dengan norma sosial dan etika relasi.

Namun, meski penolakan normatif tinggi, praktiknya justru meningkat. Ini menandakan adanya kesenjangan antara pemahaman moral dan keputusan aktual sebuah gejala klasik dalam pergeseran nilai masyarakat modern.

Etika menuntut keseimbangan antara kebebasan dan tanggung jawab. Tanpa etika, kebebasan kehilangan arah. Tanpa tanggung jawab, hubungan kehilangan integritas. Dalam konteks mahasiswa, living together bukan sekadar persoalan "boleh atau tidak", melainkan juga persoalan kesiapan etis, termasuk kemampuan mengelola konflik, menjaga batasan, serta menghindari eksploitasi emosional dan psikologis.

Ilustrasi generasi muda. Foto: WHYFRAME/Shutterstock
Ilustrasi generasi muda. Foto: WHYFRAME/Shutterstock

Fenomena living together di kalangan mahasiswa menunjukkan bahwa kebebasan modern semakin memengaruhi cara generasi muda memandang hubungan, komitmen, dan gaya hidup. Namun, kebebasan tersebut tidak boleh meminggirkan etika yang menjadi fondasi kehidupan sosial dan akademik.

Solusi kritis yang perlu dikedepankan bukanlah sekadar pelarangan atau pembiaran, melainkan juga pendidikan etika relasi yang dapat diakses mahasiswa.

Kampus dapat memperkuat layanan konseling, menghadirkan seminar mengenai hubungan sehat, dan membuka ruang diskusi tentang batas etika modern. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya bebas memilih, tetapi juga paham konsekuensi dan siap bertanggung jawab.

Pada akhirnya, pertanyaannya bukan "Apakah mahasiswa boleh hidup bersama?" melainkan apakah mereka siap secara etis, emosional, dan moral untuk menjalani konsekuensinya. Sebab, kebebasan sejati bukan tentang bagaimana seseorang melampaui batas, melainkan tentang bagaimana ia mampu menjaga nilai ketika batas itu seolah tidak lagi terlihat.

"Kebebasan tanpa etika hanya menciptakan ruang kosong; etika tanpa kebebasan menciptakan kurungan. Keduanya harus berjalan seimbang agar kehidupan mahasiswa menjadi perjalanan yang matang, bukan petualangan yang berakhir penyesalan."

Media files:
01jy6dq4p349ggjpns6q1s88j9.jpg image/jpeg,
You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.

Kejuaraan Klub Mitra PB Djarum 2026, Panggung Ratusan Atlet Muda Bulu Tangkis

kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
Kejuaraan Klub Mitra PB Djarum 2026, Panggung Ratusan Atlet Muda Bulu Tangkis
Feb 15th 2026, 08:00 by kumparanSPORT

Kejuaraan Klub Mitra PB Djarum 2026 sukses digelar pada 9-14 Februari. Foto: PB Djarum
Kejuaraan Klub Mitra PB Djarum 2026 sukses digelar pada 9-14 Februari. Foto: PB Djarum

Kejuaraan Klub Mitra PB Djarum 2026 kembali menjadi panggung pembinaan atlet muda dengan format pertandingan yang semakin berkembang. Sebanyak 518 atlet dari 28 klub yang terdiri dari 25 klub mitra PB Djarum dan tiga klub undangan ambil bagian dalam ajang yang berlangsung di GOR Djarum, Jati, Kudus, Jawa Tengah, sejak 9 hingga 14 Februari 2026.

Kompetisi yang diinisiasi Bakti Olahraga Djarum Foundation dan PB Djarum mempertandingkan kategori perorangan U-9 dan U-11 serta nomor beregu U-13 dan U-15. Khusus sektor beregu, tahun ini format pertandingan mengadopsi sistem kejuaraan beregu dunia, yakni format Piala Thomas & Uber untuk U-13 serta format Piala Sudirman untuk U-15.

Program Director Bakti Olahraga Djarum Foundation sekaligus Ketua PB Djarum, Yoppy Rosimin mengatakan, Kejuaraan Klub Mitra yang digagas PB Djarum bersama Djarum Foundation sejak empat tahun lalu, menjadi wadah peningkatan kualitas atlet muda yang selama ini dibina oleh klub-klub mitra PB Djarum dari berbagai wilayah di Indonesia. Beberapa klub mitra dan klub undangan yang ambil bagian dalam kompetisi ini ialah PB Talenta Manado (Sulawesi Utara), PB Champion Makassar (Sulawesi Selatan), PB Victory Bandung (Jawa Barat) dan Hevindo Balikpapan (Kalimantan Timur).

"Kejuaraan Klub Mitra merupakan salah satu upaya dari PB Djarum dan Djarum Foundation untuk terus menjaga nyala api semangat bulu tangkis di Indonesia. Dengan kejuaraan ini, tiap-tiap klub dapat mengukur kemampuan para atletnya dan bersama-sama meningkatkan kualitas serta pembinaan sehingga akhirnya kita memiliki banyak atlet-atlet muda mumpuni yang dapat melanjutkan tongkat estafet regenerasi pebulutangkis elit di Tanah Air," ujar Yoppy.

Ia mencontohkan, upaya ini mulai membuahkan hasil dengan moncernya atlet-atlet klub mitra PB Djarum. Bahkan, beberapa nama berhasil menembus Pelatnas PBSI. Salah satunya ialah Selsi Jovika yang semula bermain untuk PB Champion Madiun. Hal serupa juga dialami oleh Moh Zaki Ubaidillah dan Richie Duta Richardo yang memulai karier di PB Champion Klaten sebelum akhirnya masuk PB Djarum.

"Selain membantu meningkatkan kualitas atlet, Kejuaraan Klub Mitra itu penting sekali untuk klub dan pelatihnya. Umumnya pelatih klub mitra adalah mantan atlet PB Djarum, jadi kejuaraan ini membantu ekosistemnya tetap hidup. Kami kumpulkan mereka, berdiskusi, kami petakan kebutuhan sekarang dan satu-dua tahun ke depan. Sehingga klub mitra juga menjadi wadah berbagi pengetahuan seputar perkembangan bulutangkis," Yoppy menjelaskan.

Kejuaraan Klub Mitra PB Djarum 2026 sukses digelar pada 9-14 Februari.  Foto: PB Djarum
Kejuaraan Klub Mitra PB Djarum 2026 sukses digelar pada 9-14 Februari. Foto: PB Djarum

Untuk itu, tidak hanya menyelenggarakan kompetisi di berbagai nomor usia, Kejuaraan Klub Mitra juga senantiasa memasukkan coaching clinic dan sharing session bagi para pelatih. Tahun ini, materi yang dipaparkan oleh Ari Subarkah selaku pelatih fisik PB Djarum ialah peningkatan endurance saat berlaga di gelanggang.

Sementara itu, peningkatan kualitas kompetisi juga terjadi dalam kejuaraan tahun ini dengan mengadopsi format tunggal putra dan putri, beregu putra dan putri hingga beregu campuran. Sigit Budiarto selaku Ketua Panitia Pelaksana menjelaskan bahwa penerapan tiga sistem pertandingan berbeda dirancang sebagai bagian dari proses pembelajaran kompetitif bagi atlet-atlet muda yang harus terbiasa menghadapi tekanan pertandingan sejak usia dini.

"Tahun ini, kita menggunakan sistem turnamen ada tiga kategori yang terdiri dari perorangan putra dan putri, kemudian di U-13 kami menggunakan sistem Thomas dan Uber, dan yang ketiga adalah sistem beregu campuran yang mengadopsi format Piala Sudirman untuk U-15. Alasan kami membuat sistem pertandingan seperti ini supaya peserta usia muda semakin terbiasa dengan situasi dan tekanan di setiap pertandingan. Harapan kami dengan diadakannya format kejuaraan yang berbeda-beda tersebut akan menjadi suatu pelajaran baru buat pelatih maupun atlet-atlet muda guna terus mengasah kegigihan, mental, dan semangat bertanding," kata Sigit.

Tiga format pertandingan di berbagai jenjang usia ini mendapat sambutan positif dari klub-klub mitra yang terlibat. Hal tersebut terlihat dari meningkatnya jumlah peserta dibanding tahun lalu yang diikuti 439 atlet.

"Kami bersyukur respons dari klub mitra sangat baik dengan menerjunkan banyak atlet di berbagai lapisan usia. Kami berharap, seluruh atlet yang terlibat tidak hanya dapat menambah jam terbang tapi juga menjadikan kompetisi ini pembelajaran agar bisa meningkatkan kemampuan mereka," tutur peraih Piala Thomas 2002 ini.

Kejuaraan Klub Mitra PB Djarum 2026 sukses digelar pada 9-14 Februari.  Foto: PB Djarum
Kejuaraan Klub Mitra PB Djarum 2026 sukses digelar pada 9-14 Februari. Foto: PB Djarum

Daftar pemenang Kejuaraan Klub Mitra PB Djarum 2026

Kategori Perorangan

U-9 Putra

  • Juara I : Ray Kalandra Al Kahfi (Champion Kudus)

  • Juara II : Yusuf Al Ghifari Prasetia (Champion Madiun)

  • Juara III : Azka Aldric Arrasyid (Victory Bandung) & Alfarizy Shagufta Mekka Heryanto (PMS Solo)

U-9 Putri

  • Juara I : Almeera Nafisha Shareen (Champion Madiun)

  • Juara II : Asha Adiba Zada (Champions Jepara)

  • Juara III : Inara Kania Aulia Mufida (Arista Semarang) & Gendhis Maheswari (Panorama Solo)

U-11 Putra

  • Juara I : Zayn Abdullah Rajendra (Champion Klaten)

  • Juara II : Kentaro Javas Kaivan Tsaqib (PB Champion Kebumen)

  • Juara III : Ibrahim Yuki Suwandi Yamamoto (Champion Klaten) & Kenzou Leonardo Wijaya (Champion Kudus)

U-11 Putri

  • Juara I : Ailsie Elaina Sembiring (Champion Kudus)

  • Juara II : Aqila Zyan Noufalin (Arista Semarang)

  • Juara III : Satmika Cinta (Champion Klaten) & Biancha Ramadhani Zhafira Wardoyo (Champion Madiun)

Kategori Beregu U-13 Putra

  • Juara I : Champion Klaten A

  • Juara II : Champion Jepara

  • Juara III : PMS Solo & Champion Kudus A

Kategori Beregu U-13 Putri

  • Juara I : Champion Klaten

  • Juara II : Arista Semarang

  • Juara III : Champion Kebumen & Kayp1 Champion Academy

Kategori Beregu Campuran U-15

  • Juara I : Champion Gading Jaya

  • Juara II : Champion Magelang

  • Juara III : Champion Klaten & Champion Jepara

Media files:
01khf3qrnv3xh14mn7cker4b40.jpg image/jpeg,
You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.