Anggy Umbara, sutradara film 402: Rumah Sakit Angker Korea, saat ditemui di kawasan Setiabudi, Jakarta Selatan. Foto: Salsha Okta Fairuz/kumparan
Sutradara Anggy Umbara membagikan cerita menarik di balik proses syuting film 402: Rumah Sakit Angker Korea. Film horor produksi MD Pictures dan Umbara Brothers ini merupakan adaptasi dari film Korea populer, Gonjiam: Haunted Asylum.
Anggy Umbara mengungkap bahwa proses syuting dilakukan di sebuah rumah sakit terbengkalai di Korea. Menurutnya, lokasi tersebut memang memiliki suasana yang cukup menyeramkan.
“Menuju ke sananya lewat hutan-hutan, terus ada kuburan di pinggir-pinggir jalan. Sampai tempatnya juga banyak patung-patung segala macam,” kata Anggy saat ditemui di kawasan Setiabudi, Jakarta Selatan.
Konferensi pers perilisan trailer dan poster film 402: Rumah Sakit Angker Korea, di kawasan Setiabudi, Jakarta Selatan. Foto: Salsha Okta Fairuz/kumparan
Karena lokasi yang cukup angker, pihak produksi di Korea sampai menghadirkan beberapa orang yang dianggap memiliki kemampuan spiritual atau shaman.
“Pas kita syuting itu shamannya beneran ada. Mereka datangin beberapa orang pintar yang dihormati secara spiritual,” ungkap Anggy.
Anggy mengatakan, para shaman tersebut melakukan semacam permisi atau ritual sesuai tradisi mereka. Hal itu dilakukan agar proses syuting berjalan lancar dan tidak ada gangguan.
“Kita bilang saja ke production support di sana, kalau mau syuting di sini, bilangin dong jangan diganggu-ganggu kalau ada yang aneh-aneh. Akhirnya mereka blessing in their ways,” tutur Anggy.
Saputra Kori saat ditemui di kawasan Setiabudi, Jakarta Selatan. Foto: Salsha Okta Fairuz/kumparan
Saputra Kori Cerita Tantangan Main di Film Found Footage 402: Rumah Sakit Angker Korea
Selain lokasi yang menyeramkan, tantangan lain dalam film ini adalah konsep found footage. Para pemain tidak hanya berakting, tetapi juga harus ikut merekam adegan menggunakan kamera.
Anggy menjelaskan, ada banyak kamera yang digunakan selama syuting. Setiap pemain memakai dua GoPro di tubuh mereka, satu mengarah ke wajah dan satu lagi ke depan. Beberapa pemain juga memegang kamera tambahan.
“Setiap orang pakai dua GoPro, ke mukanya dan ke depan. Terus ada yang pegang kamera besar lagi, pegang senter juga. Jadi satu orang minimal tiga kamera,” tutur Anggy.
Hal itu membuat proses penyutradaraan menjadi berbeda. Anggy harus memantau banyak monitor sekaligus dari jarak jauh karena kru tidak bisa terlalu dekat dengan pemain.
“Monitor saya banyak banget, kayak di ruang sekuriti. Harus fokus ke setiap orang, situasinya mau ambil dari GoPro yang mana, CCTV yang mana,” ucapnya.
Konferensi pers perilisan trailer dan poster film 402: Rumah Sakit Angker Korea, di kawasan Setiabudi, Jakarta Selatan. Foto: Salsha Okta Fairuz/kumparan
Saputra Kori, yang memerankan karakter Adit, juga menceritakan pengalamannya saat menjalani syuting. Meski dikenal sebagai konten kreator, Kori mengaku tetap merasa kesulitan karena harus berakting sambil mengoperasikan kamera.
“Tantangan terbesarnya gimana caranya akting, pegang tiga kamera, dan menyesuaikan dialog biar balance,” kata Kori.
Kori juga sempat mengalami kejadian lucu sekaligus menegangkan saat syuting. Ia pernah terlalu jauh naik ke lantai atas karena tidak mendengar instruksi cut melalui HT.
“Harusnya naik cuma sampai lantai dua, tapi karena enggak dengar, aku naik sampai lantai empat. Terus aku ngerasa kok enggak ada orang, kok enggak ada cut juga,” ungkapnya.
Elang El Gibran saat ditemui di kawasan Setiabudi, Jakarta Selatan. Foto: Salsha Okta Fairuz/kumparan
Elang El Gibran, pemeran Bara, juga mengatakan bahwa konsep found footage membuat fokus para pemain harus terbagi. Mereka harus tetap masuk ke dalam karakter, tetapi di saat yang sama juga memastikan gambar yang diambil tetap bagus.
“Rumitnya karena fokus harus terbelah antara pengadeganan dan cari footage yang bagus,” kata Elang.
Film 402: Rumah Sakit Angker Korea bercerita mengenai kumpulan content creator dengan nama Para Pencari Hantu yang melakukan live streaming di sebuah rumah sakit paling angker di Korea Selatan.
Di sana, kelompok tersebut mendapat serangkaian teror yang mengerikan dan mencekam. Film ini dijadwalkan tayang di bioskop pada 9 Juli.
Deretan rumah yang masih dalam tahap pembangunan perumahan di Kendari, Sulawesi Tenggara, Kamis (3/10/2024). Foto: ANTARA FOTO/Andry Denisah
PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) mencatat telah menyalurkan kredit pembiayaan rumah (KPR) subsidi sebanyak 6 juta unit untuk masyarakat kategori desil 3 atau rentan miskin.
Sebagaimana diketahui desil 3 merupakan klasifikasi kelompok masyarakat yang berada di urutan ke 21-30 persen tingkat kesejahteraan terendah secara nasional. Dalam program bantuan pemerintah, desil 3 dikategorikan sebagai kelompok rentan miskin.
"Kalau desil 3 kpr subsidi di BTN ada 6 juta rumah dari awal program," kata Direktur Utama Bank Tabungan Negara, Nixon LP Napitupulu dalam keterangannya, Minggu (24/5).
Menurut Nixon, dalam mengalurkan kredit perumahan, ada dua strategi utama yang dilakukan BTN yaitu, melalui program KPR subsidi dan lewat bantuan pembangunan rumah swadaya bagi masyarakat dengan penghasilan paling rendah.
Program KPR subsidi dirancang untuk masyarakat dengan batas maksimal penghasilan tertentu agar tepat sasaran kepada kelompok MBR. Sementara bagi masyarakat di desil 1 dan 2 yang dinilai belum mampu mengakses kredit perbankan, pemerintah menyalurkan Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS).
"KPR tentu dibantu pemerintah. Pemerintah buat program KPR subsisdi yang dibatasi maksimal income. Maksudnya ini memang menyasar masyarakat penghasilan rendah karena banyak unbanked. Kalau ada 10 desil, maka bisa dibilang yang paling sulit tinggal desil 1-2 sedangkan desil 3-8 diintervensi KPR," jelasnya.
Tahun ini, kata Nixon, program BSPS disebut menyasar sekitar 400 ribu rumah tangga di seluruh Indonesia. "Yang desil 1-2 ini pemerintah mengeluarkan BSPS bantuan simulan pembangunan swadaya jadi pemerintah kasih 20-25 juta tahun ini ada 400 ribu per rumah tangga," lanjutnya.
Kaji Tenor hingga 40 Tahun
Direktur Utama BTN, Nixon Napitupulu ditemui di Menara BTN, Jakarta Pusat pada Selasa (18/11/2025). Foto: Argya D. Maheswara/kumparan
Nixon menambahkan, pemerintah saat ini juga tengah mengkaji skema tenor KPR hingga 40 tahun. Langkah itu diharapkan dapat memperluas akses masyarakat berpenghasilan rendah terhadap pembiayaan rumah.
"Hari ini pemerintah mengkaji KPR sampai 40 tahun, mudah-mudahan desil 1-2 bisa dapat. Ini cara penetrasi MBR," sebutnya.
Selain lewat pembiayaan rumah, BTN juga mengandalkan digitalisasi untuk menjangkau masyarakat yang belum tersebtuh akses pembiayaan bank.. Nixon menilai penetrasi telepon seluler di Indonesia saat ini jauh lebih tinggi dibanding kepemilikan rekening bank.
Ia mencontohkan, selama lebih dari 70 tahun BTN menyalurkan sekitar 6 juta KPR. Namun dalam waktu kurang dari tiga tahun, pengguna mobile banking BTN sudah mencapai sekitar 5 juta akun.
"Kita buat digitalisasi untuk perbankan. Penetrasi HP lebih banyak dibanding penetrasi account. BTN usia 70 lebih KPR 6 jutaan, mobile tidak sampai 3 tahun sudah 5 juta mobile banking account. Menurut saya jumlah KPR di-takeover user mobile. Penetration rate sekarang lebih mudah karena mobile bisa buka dari rumah. Itu cara kami akses unbanked," tambahnya.