Presiden Amerika Serikat Donald Trump berjalan masuk bersama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu setibanya di Gedung Putih, Washington DC, Amerika Serikat, Selasa (4/2/2025). Foto: Andrew Caballero-Reynolds/AFP
Jika Israel dibantu Amerika Serikat untuk menyerang Iran, maka seharusnya China dan Rusia Juga ikut membantu Iran untuk menghadapi kedua negara yang menyerangnya.
Sudah saatnya China dan Rusia memperlihatkan dirinya secara terang-terangan dalam membela negara yang ditindas oleh Amerika Serikat. Sebab jika hal itu tidak dilakukan, AS tentu akan semakin bebas menzalimi negara-negara yang tidak mau ikut perintahnya.
Saatnya China dan Rusia unjuk kekuatan dengan menggerakkan armadanya, melewati kawasan teluk supaya AS berpikir 10 kali untuk menyerang Iran.
Apalagi AS tahu, bila negaranya terseret terlaku jauh ke dalam peperangan, maka negaranya dalam jangan menengah atau panjang tidak akan pernah bisa untuk menang. Lihat saja yang terjadi di Vietnam dan Afghanistan.
Di Vietnam, AS tunduk kepada tentara Viet Cong yang berjuang melawan tentara AS dengan menggunakan taktik gerilyanya--sehingga akhirnya Amerika Serikat mundur dari perang Vietnam. Sama halnya di Afghanistan, ternyata senjata canggih yang dimiliki Amerika tidak mampu mengendorkan para Thalian sehingga AS terpaksa angkat kaki.
Oleh karena itu belajar dari sejarah, AS tentu tidak akan berani masuk terlalu jauh dalam peperangan melawan negeri Ayatullah tersebut. Sebab, mereka tidak akan sanggup untuk melawan semangat dari para mullah yang tidak akan pernah merasa gentar sedikit pun untuk perang menghadapi musuh--terutama Israel dan AS.
Untuk itu dalam perang kali ini, sudah saatnya Iran menghadapkan moncong senjata balistiknya ke Washington DC dan ke Tel aviv untuk menghancurkan singgasana Trump dan Netanyahu.
Sehingga diharapkan AS dan Israel tidak lagi berani berbuat seenaknya untuk menghancurkan negara dan kepala negara yang tidak mereka sukai. Ini sangat penting dilakukan oleh Iran, China, dan Rusia secara bersama--karena dunia sekarang ini sudah sangat rindu, kedatangan hari di mana manusia bisa hidup di muka bumi tanpa kehadiran Donald Trump dan Netanyahu.
Dulu, mengirim paket identik dengan momen khusus, seperti berkirim dokumen penting antarkantor, mengirim kado ulang tahun, atau memindahkan barang dagangan dalam skala besar.
Hari ini? Kita bisa mengirim nyaris apa saja, mulai dari charger ponsel yang tertinggal di rumah, sepasang sepatu incaran, sampai segelas americano kesukaan. Cukup buka aplikasi, kurir pun datang merapat. Itulah gambaran pergerakan logistik kita hari ini—di mana pergerakan tersebut akan meningkat saat memasuki Ramadan.
Fenomena ini tentu tidak terjadi dalam semalam. Pandemi COVID-19 menjadi titik balik yang paling transformatif. Saat mobilitas fisik manusia dibatasi ketat oleh aturan pembatasan sosial, satu jenis mobilitas justru melonjak tajam: mobilitas barang.
Orang-orang berhenti pergi ke mal atau pasar, tetapi hasrat berbelanja tidak ikut mati. Aktivitas ekonomi sekadar berpindah ke layar ponsel. Di masa-masa itu, jasa kurir bukan lagi sekadar pelengkap layanan. Mereka bertransformasi menjadi urat nadi yang menjaga jantung ekonomi harian tetap berdetak. Kebiasaan itu menetap hingga hari ini.
Satu Dekade Transformasi: dari Puluhan ke Ratusan Triliun
Jika kita mundur satu dekade ke belakang, lanskap logistik dan e-commerce Indonesia ibarat bumi dan langit. Bank Indonesia melaporkan bahwa nilai transaksi e-commerce di Indonesia pada tahun 2014 sebesar USD2,6 miliar atau setara dengan Rp34,9 triliun. Namun, lompatan kuantum terjadi berkat penetrasi internet dan perubahan gaya hidup.
Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), realisasi nilai transaksi perdagangan elektronik pada 2023 telah meroket hingga Rp453,75 triliun, dengan volume mencapai 3,71 miliar transaksi. Ekosistem marketplace—seperti Shopee, Tokopedia, dan TikTok Shop—menjadi katalis utama pertumbuhan ini.
Ilustrasi menerima paket dari kurir. Foto: Shutterstock
Dampaknya langsung terasa pada volume distribusi barang. Sebagai gambaran, satu perusahaan ekspedisi berskala besar saja bisa mencatatkan total pengiriman hingga 7,3 miliar paket hanya dalam satu kuartal pada akhir 2024.
Angka yang fantastis ini membuktikan bahwa barang yang didistribusikan bukan lagi sekadar milik korporasi, melainkan juga jutaan pelapak UMKM yang menggantungkan napas bisnisnya pada rantai logistik.
Motor Penggerak Ekonomi yang Kerap Terlupakan
Merujuk pada data Badan Pusat Statistik (BPS), sektor transportasi dan pergudangan—di mana jasa pos dan kurir bernaung—menyumbang sekitar 5,89% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia di 2023. Sektor ini tumbuh 13,96 %, lebih cepat daripada ekonomi nasional secara keseluruhan pada periode 2022–2023.
Lebih hebatnya lagi, tren pertumbuhannya sangat agresif. Bahkan, analisis dari lembaga independen (Supply Chain Indonesia) memproyeksikan bahwa sektor tersebut tumbuh melampaui 12% pada 2025/2026 (islnews, 2025). Angka ini jauh meninggalkan rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional yang konsisten di kisaran 5%. Saat sektor lain terengah-engah, logistik justru berlari kencang.
Di Balik Angka Triliunan: Keringat di Atas Jok Motor
Namun, di balik deretan angka statistik triliunan rupiah dan persentase PDB yang gagah, ada realitas keras di jalanan. Sering kali kita lupa bahwa tulang punggung dari semua kemudahan ini adalah para kurir yang berpeluh menembus cuaca.
Pahlawan pergerakan logistik hari ini. Kurir tanpa lelah berpindah dari satu ke tujuan lain mengantarkan pesanan konsumen. Foto: Dokumentasi pribadi
Coba perhatikan mereka saat sore hari di tengah kemacetan kota. Di atas jok motor yang sempit, karung setinggi punggung diikat kencang, berisi puluhan kotak harapan pelanggan.
Pekerjaan ini tidak kenal ampun, terlebih jika ada barang fragile (pecah belah). Mereka harus lincah bermanuver di sela-sela mobil sambil memastikan hampers mangkuk keramik, stoples kue nastar, atau botol sirup di kantong depan tidak retak sedikit pun.
Terkadang, mereka memacu kendaraan di bawah terik matahari atau hujan lebat, mengorbankan waktu istirahat agar puluhan paket itu sampai dengan selamat. Bagi mereka, ini tidak sekadar memindahkan barang, tetapi pertaruhan target harian demi menyambung hidup keluarga di rumah.
Ujian Puncak: Ramadan dan Lebaran di Depan Mata
Kini, mesin logistik nasional tengah dipanaskan untuk melewati "ujian kelulusan" tahunan mereka menghadapi lonjakan pengiriman menjelang Ramadan dan Idulfitri.
Tradisi masyarakat sudah bergeser. Jika dulu orang menenteng langsung sirup dan kaleng biskuit untuk sanak saudara saat mudik, kini silaturahmi kerap diwakilkan lebih awal lewat paket Lebaran.
Data dari industri logistik memproyeksikan adanya lonjakan volume pengiriman sebesar 10% hingga 30% menjelang Ramadan. Transaksi e-commerce—terutama pada jam-jam sahur dan berbuka—kerap melonjak berlipat ganda berkat masifnya promo.
Bayangkan saja beban para kurir ini ketika harus mengejar target pengiriman yang membengkak: sering kali mereka bekerja sambil menahan haus dan lapar karena sedang berpuasa.
Di balik setiap pesanan baju koko, mukena baru, hingga kue kering yang di-checkout hari ini, ada ribuan kurir dan rantai pasok raksasa yang bekerja siang dan malam.
Pada akhirnya, pergeseran budaya ini menegaskan bahwa manusia mungkin bisa memilih untuk lebih banyak diam di rumah, menghindari kemacetan, atau bekerja dari mana saja.
Namun, selama jari masih bisa menggeser layar dan menekan tombol "pesan", barang-barang akan terus berlari melintasi aspal jalanan, menyambung denyut nadi perekonomian negeri.