Progres pembangunan jembatan bailey di Provinsi Aceh. Foto: Bakom RI
Sebanyak 11 jembatan bailey di Provinsi Aceh sudah rampung 100 persen. Dibantu personel dari Kodam Iskandar Muda (IM), sebelas jembatan ini telah menyambungkan kembali akses di wilayah Aceh yang terputus akibat bencana banjir bandang dan longsor.
Hingga Sabtu (10/1), dari 11 jembatan bailey yang sudah selesai sepenuhnya, lima di antaranya ada di Kabupaten Bireuen. Yakni jembatan Teupin Mane, Teupin Reudeup, Jeumpa/Cot Bada, Matang Bangka, dan Kutablang.
Jembatan Teupin Mane menghubungkan ruas jalan Bireuen-Bener Meriah-Takengon, sementara Jembatan Teupin Reudeup menghubungkan ruas jalan Bireuen-Lhokseumawe.
Pembangunan jembatan darurat (Bailey) di Aceh pada Minggu (11/1/2026). Foto: Bakom RI
Kemudian, Jembatan Jeumpa/Cot Bada menghubungkan ruas jalan Peudada ke Bireun, Jembatan Matang Bangka menghubungkan ruas jalan Gampong Matang Bangka dan Matang Teungoh, dan Jembatan Kutablang menghubungkan Bireuen-Lhokseumawe.
Enam jembatan lainnya berlokasi di Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Utara. Di Bener Meriah, jembatan yang sudah selesai adalah Jembatan Weh Pase (Aceh Utara-Bener Meriah), Timang Gajah (Bireuen-Bener Meriah-Takengon), dan Jamur Ujung 1 (Bireuen-Bener Meriah-Takengon).
Progres pembangunan jembatan bailey di Provinsi Aceh. Foto: Bakom RI
Lalu, di Aceh Utara yakni Jembatan Panton Nisam (Jalan Aceh Utara), Bukit Dara Bhaktya (Kecamatan Bhaktya-Lhoksukon), dan Beutong Ateuh (Takengon-Nagan Raya).
Pembangunan 15 jembatan bailey di titik lainnya terus dikebut pemerintah dengan bantuan personel TNI. Beberapa yang sudah menunjukkan progres signifikan yakni Jembatan Jamur Ujung 2 (70 persen), Bener Kelipah (89 persen), dan Wehni Rongka (65 persen).
Pembangunan Terus Dipercepat
Progres pembangunan jembatan bailey di Provinsi Aceh. Foto: Bakom RI
Pembangunan lima jembatan darurat (Bailey) di Aceh pada Minggu (11/1) telah melampaui 50 persen. Jika rampung, jembatan-jembatan tersebut diharapkan dapat memulihkan konektivitas di sejumlah wilayah yang sempat terputus akibat banjir bandang dan longsor.
Kelima jembatan dengan progres signifikan tersebut berada di Kabupaten Bener Meriah, Aceh Tengah, dan Aceh Timur. Jembatan-jembatan itu dibangun TNI melalui Komando Daerah Militer (Kodam) Iskandar Muda
Di Kabupaten Bener Meriah, tiga jembatan Bailey mencatat kemajuan pembangunan yang pesat, di mana progresnya sudah mencapai lebih dari 80 persen.
Pertama, Jembatan Bener Kelipah yang berada di ruas jalan Aceh Utara–Bener Meriah–Takengon telah mencapai progres 91 persen, setelah TNI menyelesaikan pemasangan plat lantai dan peneguh jembatan serta menyiapkan material batu untuk perangkaian oprit.
Progres pembangunan jembatan bailey di Provinsi Aceh. Foto: Bakom RI
Kedua, Jembatan Jamur Ujung 2 di ruas jalan Bireuen–Bener Meriah–Takengon mencatat progres paling tinggi, yakni 97 persen, usai penyelesaian pembangunan oprit dan perapihan struktur jembatan. Ketiga, Jembatan Wehni Rongka yang juga berada di ruas jalan Bireuen–Bener Meriah–Takengon telah mencapai progres 80 persen setelah pemasangan struktur utama, gelagar lantai, dan plat lantai berhasil diselesaikan.
Selain di Bener Meriah, pembangunan jembatan Bailey juga menunjukkan perkembangan signifikan di wilayah lain. Di Aceh Tengah, pembangunan Jembatan Kr. Pelang saat ini telah mencapai progres 65 persen. Adapun di Aceh Timur, progres pembangunan Jembatan Baroh Bogeng tercatat telah menyentuh 80 persen.
Pembangunan jembatan darurat (Bailey) di Aceh pada Minggu (11/1/2026). Foto: Bakom RI
TNI memastikan akan terus mempercepat pembangunan seluruh jembatan darurat tersebut.
Dengan tambahan lima jembatan yang tengah dikebut ini, dan 11 jembatan Bailey yang sebelumnya telah rampung, maka total jembatan darurat yang berhasil dibangun di Aceh diperkirakan akan mencapai 16 unit dalam waktu dekat.
Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Yogya, Eko Suwanto. Foto: Dok. Istimewa
Dewan Pimpinan Cabang PDI Perjuangan Kota Yogyakarta memaknai peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-53 partai dengan menegaskan komitmen untuk berjuang sepenuhnya demi kebahagiaan dan kesejahteraan rakyat.
Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Yogyakarta Eko Suwanto mengatakan semangat gotong royong, kerja kemanusiaan, serta keberpihakan kepada masyarakat menjadi ruh utama gerak partai di tingkat lokal.
Ia menyebut PDI Perjuangan Yogyakarta akan terus turun ke lapangan untuk menemui warga, mendengarkan aspirasi, dan memperjuangkan kepentingan publik bersama Pemerintah Kota Yogyakarta, termasuk Wali Kota Hasto Wardoyo, Wakil Wali Kota Wawan Harmawan, serta Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kota Yogyakarta.
"Penanganan stunting, program bedah rumah, serta peningkatan layanan kesehatan dan pendidikan menjadi prioritas yang terus kami dorong. Partai harus berjalan seiring dengan rakyat dan berjuang sepenuhnya untuk kepentingan masyarakat," kata Eko.
Menurut Eko, peringatan HUT ke-53 tahun ini, yang mengusung tema Satyam Eva Jayate, menjadi momentum konsolidasi internal dan peneguhan kembali semangat juang kader agar selalu hadir dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.
Menjelang pelaksanaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I PDI Perjuangan di Jakarta, DPC PDI Perjuangan Kota Yogyakarta telah menggelar sejumlah agenda, termasuk konsolidasi internal, penyerapan aspirasi di lima daerah pemilihan, serta aksi-aksi sosial rutin melalui Badan Penanggulangan Bencana (Baguna) PDI Perjuangan.
Rangkaian peringatan HUT ke-53 PDI Perjuangan di Yogyakarta diisi dengan doa bersama dan tumpengan di Kantor DPC pada Sabtu (10/1), dilanjutkan kegiatan dapur umum serta aksi bersih-bersih Kali Code bersama masyarakat.
Eko mengatakan Rakernas I akan membahas berbagai isu strategis, mulai dari sikap politik partai hingga respons terhadap persoalan geopolitik, krisis ekologis, ekonomi, pemberantasan korupsi, penegakan hukum, serta agenda internal dan tanggung jawab kerakyatan partai.