Media fun drive mobil listrik Seres E1 di Jakarta. Foto: Sena Pratama/kumparan
CEO PT Sokonindo Automobile sebagai distributor DFSK Indonesia, Alexander Barus melihat peluang pertumbuhan BEV (Battery Electric Vehicle) di tengah bayang-bayang harga bahan bakar minyak meningkat imbas konflik Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran.
Menurutnya harga minyak mentah yang kini sudah merangkak naik 29 persen, tertinggi sejak 2022, dapat menjadi momentum penguatan alternatif mobilitas ke kendaraan energi baru (New Energy Vehicle/NEV) seperti mobil elektrifikasi.
"Kalau saya melihat ini banyak akan pergeseran ke mobil listrik (BEV). Karena listrik kita ini sumbernya banyak dari batubara, dia enggak ada unsur minyak. Begitu dicas dia bisa jalan, jadi menurut saya ini adalah kesempatan untuk mobil listrik," katanya di Jakarta, Senin (9/3/2026).
Meningkatnya populasi mobil listrik atau jenis elektrifikasi lainnya yang dapat menekan konsumsi BBM, Alexander menilai akan mampu mengurangi beban impor minyak mentah dan juga subsidi bahan bakar yang diberikan pemerintah.
Mobil elektrifikasi Aito M7 yang merupakan hasil pengembangan Huawei dan Seres Group (DFSK). Foto: dok. CarNewsChina
"Mungkin penjualan (NEV) kita bisa bertambah dua kali lipat atau lebih dari kenaikan harga minyak tadi. Kalau kondisi Timur Tengah ini tidak mereda, saya kira akan naik terus semua barang karena berhubungan dengan komponen transportasi," jelasnya.
Senada dengan Alexander, pakar otomotif Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu memandang bila efek kenaikan harga minyak dunia nantinya begitu terasa pada produk bahan bakar yang dibeli, kemungkinan dapat mengubah persepsi masyarakat.
"Tetapi di sisi lain, krisis Selat Hormuz berpotensi menjadi katalisator percepatan transisi energi di Indonesia. Ini dapat menjadi momentum baru untuk membuktikan bahwa ekosistem BEV dan sejenisnya sudah siap," terangnya kepada kumparan.
"Bayangkan misalnya Pertamax tembus Rp 15 ribu per liter, maka rasio biaya operasional BEV hanya mencapai 1/5 atau 1/6 dari ICE (Internal Combustion Engine). Ini tentu lebih menguntungkan biaya operasional BEV, konsumen yang punya mobilitas tinggi tentu melihatnya bukan sekadar gaya hidup, melainkan instrumen penghematan," imbuh Yannes.
Yannes menambahkan, rentang momentum yang diprediksi moderat ini harusnya bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan awarness terhadap NEV, utamanya BEV. Apalagi, belum ada kejelasan lanjutan dari insentif mobil listrik untuk tahun ini.
"Nah, jika pemerintah mampu menjaga harga listrik dan pasokan (PLN) tetap stabil di tengah badai (keterbatasan) minyak ini, maka daya tarik BEV di Indonesia akan menjadi semakin tidak tertahankan secara ekonomi," tandasnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar