Search This Blog

Puasa Hari Ketiga: Ketika Manusia Belajar dari Tiga Krisis Sosial Jepang

kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
Puasa Hari Ketiga: Ketika Manusia Belajar dari Tiga Krisis Sosial Jepang
Mar 20th 2026, 00:00 by Afidatul Asmar

Ilustrasi Seorang pekerja duduk termenung di bangku pinggir jalan di kawasan kota Jepang setelah hari kerja yang panjang, menggambarkan tekanan kehidupan urban dan budaya kerja yang sering kali menuntut manusia melampaui batas kemampuannya. Foto: Gemini AI
Ilustrasi Seorang pekerja duduk termenung di bangku pinggir jalan di kawasan kota Jepang setelah hari kerja yang panjang, menggambarkan tekanan kehidupan urban dan budaya kerja yang sering kali menuntut manusia melampaui batas kemampuannya. Foto: Gemini AI

Puasa Ramadan sering kali tidak hanya mengajarkan umat Islam tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga mengajarkan cara membaca kehidupan manusia secara lebih dalam. Pada hari ketiga Ramadan, refleksi tentang makna hidup menjadi semakin penting. Dunia modern berkembang dengan sangat cepat, teknologi semakin canggih, dan ekonomi semakin maju. Namun, kemajuan tersebut tidak selalu sejalan dengan kebahagiaan manusia.

Salah satu contoh yang sering dibicarakan dalam kajian sosial modern adalah fenomena yang terjadi di Jepang. Negara ini dikenal sebagai salah satu negara paling maju di dunia, dengan teknologi tinggi, sistem pendidikan yang kuat, serta ekonomi yang stabil. Namun di balik kemajuan tersebut, Jepang menghadapi beberapa krisis sosial yang cukup serius. Tiga di antaranya yang sering dibahas oleh para peneliti sosial adalah fenomena kematian akibat kerja berlebihan, isolasi sosial ekstrem, serta rumah-rumah kosong yang semakin banyak ditinggalkan penduduknya.

Fenomena pertama dikenal sebagai karoshi, yaitu kematian akibat kerja berlebihan. Istilah ini muncul di Jepang sejak dekade 1970-an dan menjadi simbol budaya kerja yang sangat keras. Banyak pekerja di Jepang yang bekerja lebih dari sepuluh hingga dua belas jam sehari. Tekanan pekerjaan yang tinggi, target perusahaan yang ketat, serta budaya loyalitas kepada perusahaan membuat sebagian orang bekerja tanpa mengenal batas waktu.

Dalam beberapa kasus, seseorang yang masih berusia produktif tiba-tiba meninggal karena serangan jantung atau stroke setelah mengalami kelelahan kerja yang ekstrem. Bahkan ada juga yang mengalami depresi berat hingga mengakhiri hidupnya sendiri karena tekanan pekerjaan yang terus-menerus.

Fenomena ini menunjukkan bahwa keberhasilan ekonomi tidak selalu berarti keberhasilan dalam membangun kehidupan manusia yang seimbang. Islam sejak awal sebenarnya telah mengajarkan keseimbangan antara kerja dan kehidupan pribadi.

Allah berfirman dalam Al-Qur'an:

"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia." (QS. Al-Qashash: 77)

Ayat ini oleh banyak mufasir dijelaskan sebagai prinsip keseimbangan hidup. Dalam tafsir klasik, dijelaskan bahwa manusia tidak boleh terjebak dalam satu sisi kehidupan saja. Tidak boleh hanya mengejar dunia hingga melupakan akhirat, tetapi juga tidak boleh meninggalkan tanggung jawab dunia.

Karoshi sebenarnya adalah gambaran ekstrem dari manusia yang kehilangan keseimbangan hidup. Pekerjaan yang seharusnya menjadi sarana keberkahan berubah menjadi sumber penderitaan.

Rasulullah SAW bahkan menegaskan pentingnya keseimbangan hidup dalam sebuah hadis yang sangat terkenal. Ketika sahabat Abdullah bin Amr terlalu berlebihan dalam ibadah hingga meninggalkan kehidupan sosialnya, Rasulullah berkata:

"Sesungguhnya tubuhmu memiliki hak atasmu, matamu memiliki hak atasmu, dan keluargamu memiliki hak atasmu." (HR. Bukhari)

Hadis ini menunjukkan bahwa Islam sangat menekankan keseimbangan antara kerja, ibadah, dan kehidupan keluarga.

Krisis kedua yang terjadi di Jepang adalah fenomena hikikomori. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan seseorang yang menarik diri sepenuhnya dari kehidupan sosial. Mereka tinggal di kamar atau rumah selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun tanpa berinteraksi dengan masyarakat.

Sebagian besar dari mereka adalah generasi muda yang mengalami tekanan sosial yang tinggi, kegagalan akademik, atau kecemasan sosial. Mereka akhirnya memilih untuk hidup dalam isolasi.

Dalam banyak kasus, mereka hanya berinteraksi melalui internet atau permainan digital. Dunia nyata menjadi sesuatu yang menakutkan bagi mereka.

Fenomena ini semakin meningkat dalam beberapa dekade terakhir. Para peneliti sosial memperkirakan bahwa ratusan ribu bahkan jutaan orang mengalami kondisi ini dalam berbagai tingkat.

Dalam perspektif Islam, manusia pada hakikatnya adalah makhluk sosial. Al-Qur'an menggambarkan bahwa manusia diciptakan untuk hidup bersama dan saling mengenal.

Allah berfirman:

"Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, lalu Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal." (QS. Al-Hujurat: 13)

Ayat ini menunjukkan bahwa interaksi sosial adalah bagian dari fitrah manusia. Kehidupan yang sepenuhnya terisolasi bertentangan dengan tujuan penciptaan manusia itu sendiri.

Dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa manusia membutuhkan hubungan sosial untuk membangun kehidupan yang harmonis. Tanpa interaksi, manusia dapat kehilangan arah dan makna hidup.

Hikikomori menjadi contoh nyata bagaimana modernitas dapat menciptakan kesepian yang mendalam. Meskipun teknologi memungkinkan manusia terhubung secara digital, namun kedekatan emosional justru semakin berkurang.

Krisis ketiga yang menarik perhatian adalah fenomena akiya, yaitu rumah-rumah kosong yang ditinggalkan penghuninya. Di banyak daerah pedesaan Jepang, jumlah rumah kosong semakin meningkat setiap tahun.

Hal ini terjadi karena beberapa faktor, seperti penurunan jumlah penduduk, urbanisasi besar-besaran ke kota-kota besar, serta populasi lansia yang semakin tinggi.

Akibatnya, banyak rumah yang akhirnya terbengkalai. Beberapa bahkan ditinggalkan selama puluhan tahun tanpa penghuni.

Fenomena ini sebenarnya tidak hanya persoalan ekonomi atau demografi, tetapi juga mencerminkan perubahan dalam struktur keluarga dan masyarakat.

Dulu, keluarga besar hidup bersama dalam satu rumah. Generasi muda tinggal bersama orang tua dan kakek-nenek. Namun dalam masyarakat modern, struktur keluarga semakin kecil dan terpisah.

Akibatnya, rumah yang dulu penuh dengan kehidupan perlahan berubah menjadi bangunan kosong.

Dalam perspektif Islam, rumah bukan sekadar bangunan fisik. Rumah adalah tempat lahirnya ketenangan dan kasih sayang.

Al-Qur'an menyebutkan:

"Dan Allah menjadikan bagimu rumah-rumahmu sebagai tempat tinggal." (QS. An-Nahl: 80)

Para ulama tafsir menjelaskan bahwa rumah adalah ruang utama untuk membangun ketenangan batin. Dalam rumah, manusia belajar tentang cinta, tanggung jawab, serta hubungan antar generasi.

Ketika rumah-rumah menjadi kosong, sebenarnya yang hilang bukan hanya bangunan, tetapi juga nilai-nilai sosial yang dulu hidup di dalamnya.

Puasa Ramadan mengajarkan manusia untuk kembali melihat makna kehidupan secara lebih dalam. Lapar dan dahaga yang dirasakan sepanjang hari menjadi pengingat bahwa manusia bukan hanya makhluk ekonomi, tetapi juga makhluk spiritual.

Dalam banyak kajian psikologi modern, para ilmuwan menemukan bahwa manusia membutuhkan tiga hal utama untuk merasakan kehidupan yang bermakna: hubungan sosial, tujuan hidup, dan keseimbangan aktivitas.

Menariknya, tiga hal ini justru telah lama diajarkan dalam Islam. Puasa Ramadan memperkuat hubungan manusia dengan Tuhan, sedekah memperkuat hubungan dengan sesama, dan ibadah harian menciptakan ritme kehidupan yang seimbang.

Jika dilihat dari sudut pandang ini, tiga krisis sosial yang terjadi di Jepang sebenarnya berakar pada satu persoalan yang sama: hilangnya keseimbangan hidup.

Karoshi lahir dari budaya kerja tanpa batas. Hikikomori muncul dari keterasingan sosial. Akiya menjadi simbol melemahnya hubungan keluarga dan komunitas.

Semua ini menunjukkan bahwa kemajuan material saja tidak cukup untuk menciptakan masyarakat yang bahagia.

Islam mengajarkan bahwa keberhasilan hidup tidak hanya diukur dari kekayaan atau prestasi, tetapi juga dari ketenangan jiwa.

Allah berfirman:

"Ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang." (QS. Ar-Ra'd: 28)

Ayat ini sering disebut oleh para ulama sebagai inti dari kesehatan spiritual manusia. Ketika hati kehilangan hubungan dengan Tuhan, manusia dapat mengalami kegelisahan meskipun hidup dalam kemewahan.

Puasa Ramadan menjadi momen untuk memulihkan kembali keseimbangan tersebut. Dalam puasa, manusia belajar menahan diri, mengatur waktu, serta menata kembali prioritas hidup.

Manusia diingatkan bahwa hidup bukan sekadar mengejar pekerjaan tanpa henti, bukan sekadar bersembunyi dari masyarakat, dan bukan sekadar membangun rumah tanpa menghidupkan nilai-nilai keluarga.

Hari ketiga Ramadan mengajak kita merenung bahwa krisis sosial yang terjadi di berbagai belahan dunia sebenarnya adalah cermin bagi semua masyarakat. Kemajuan teknologi dan ekonomi harus diimbangi dengan pembangunan spiritual dan sosial.

Jika tidak, manusia dapat kehilangan arah hidup meskipun berada di tengah kemajuan peradaban.

Puasa mengajarkan bahwa keseimbangan adalah kunci kehidupan. Bekerja adalah ibadah, tetapi bekerja tanpa batas dapat merusak diri. Menyendiri kadang diperlukan untuk refleksi, tetapi hidup sepenuhnya terisolasi dapat menghancurkan jiwa. Rumah adalah tempat tinggal, tetapi rumah tanpa keluarga hanyalah bangunan kosong.

Ramadan hadir untuk mengingatkan kembali makna sederhana tersebut. Dalam keheningan sahur, dalam kesabaran menahan lapar, dan dalam kebersamaan saat berbuka, manusia diajak untuk kembali menemukan makna hidup yang sering hilang dalam hiruk-pikuk dunia modern.

Dengan cara itulah puasa bukan sekadar ritual tahunan, tetapi menjadi pelajaran besar tentang bagaimana membangun kehidupan yang lebih manusiawi, seimbang, dan penuh makna.

Media files:
01kkrdxwwa1hkmymwf8gry8phy.jpg image/jpeg,
You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.

Prabowo Ungkap Alasan Indonesia Gabung BoP

kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
Prabowo Ungkap Alasan Indonesia Gabung BoP
Mar 19th 2026, 21:30 by kumparanNEWS

Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto usai menghadiri KTT Board of Peace (BoP) atau Dewan Perdamaian di Washington DC, Amerika Serikat, Kamis (19/2). Foto: Zamachsyari/kumparan
Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto usai menghadiri KTT Board of Peace (BoP) atau Dewan Perdamaian di Washington DC, Amerika Serikat, Kamis (19/2). Foto: Zamachsyari/kumparan

Presiden Prabowo Subianto menjelaskan bahwa Indonesia bergabung dengan Board of Peace (BoP) setelah melalui pertimbangan matang, dengan tujuan mendukung kemerdekaan penuh Palestina.

Prabowo menyampaikan hal tersebut dalam diskusi yang digelar di kediamannya di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, bersama sejumlah pakar dan jurnalis senior, yang ditayangkan pada Kamis (19/3).

Dalam kesempatan tersebut, Prabowo menjelaskan awal keterlibatan Indonesia dalam pembentukan BoP bermula pada 23 September 2025, saat ia menyampaikan pidato di Sidang Umum PBB. Kala itu, ia menegaskan dukungan terhadap kemerdekaan Palestina sekaligus mendorong two-state solution.

Beberapa jam kemudian, lanjutnya, ia bersama tujuh pemimpin negara mayoritas Muslim dalam Group of Eight, seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Yordania, Turki, Pakistan, Qatar, dan Mesir, diundang oleh Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, dalam sebuah pertemuan.

Dalam pertemuan tersebut, Trump disebut meminta negara-negara itu untuk mendukung 21-point plan, yakni proposal untuk menciptakan perdamaian berkelanjutan di Gaza. Menurut Prabowo, rincian poin-poin tersebut dibacakan satu per satu oleh utusan khusus AS, Steve Witkoff.

Prabowo kemudian mendengarkan secara saksama proposal tersebut dan tertarik pada poin ke-19 dan ke-20, yang menjelaskan bahwa Palestina akan diberikan jalan untuk menjadi bangsa mandiri dan mampu menentukan masa depannya. Selain itu, terdapat pula poin bahwa AS akan memfasilitasi dialog antara Israel dan Palestina agar dapat hidup berdampingan secara damai.

Isi proposal tersebut dinilai sejalan dengan pandangan Indonesia terhadap isu Palestina, bahwa perdamaian jangka panjang dapat dicapai melalui two-state solution.

"Jadi, kita lihat ini (poin) 19 dan 20 ada peluang (untuk kemerdekaan Palestina), walaupun kita tahu ini sedikit. Akhirnya, kita berdelapan (pimpinan negara mayoritas Muslim) berdiskusi, kita dukung ini atau tidak? Akhirnya, dalam lobi-lobi, kita bilang, kita dukung," ujar Prabowo, seperti dikutip dari keterangan pers Bakom RI.

Selanjutnya, para pemimpin itu menunjuk Emir Qatar, Tamim bin Hamad Al Thani, untuk menjadi juru bicara mereka dalam menyampaikan kepada Trump bahwa negara-negara tersebut mendukung poin rencana tersebut.

"We like your plan. But the problem is not us. The problem is Prime Minister Netanyahu of Israel (Kami menyukai rencana Anda. Namun, masalahnya bukan kami. Masalahnya adalah Perdana Menteri Israel Netanyahu)," kata Prabowo mengenang momen itu.

Beberapa saat setelah pertemuan tersebut, lanjutnya, muncul gagasan mengenai pembentukan BoP yang sekaligus telah diadopsi dalam Resolusi Dewan Keamanan PBB 2803.

Menanggapi perkembangan ini, kedelapan negara mayoritas Muslim yang kemudian disebut sebagai Group of Eight kembali berunding mengenai apakah perlu ikut serta di dalamnya atau tidak.

Berdasarkan hasil perundingan, mereka menilai bahwa bergabung dalam BoP akan memberikan ruang yang lebih besar untuk memengaruhi arah kebijakan agar berpihak pada kepentingan Palestina. Hal ini, ujar Prabowo, dinilai lebih realistis dan konkret dalam memperjuangkan kemerdekaan Palestina dibandingkan memilih untuk tidak bergabung dengan BoP.

"Kalau kita di dalam, mungkin kita bisa memengaruhi dan membantu rakyat Palestina," ujarnya.

"Kalau di luar (BoP), kita tidak bisa (memperjuangkan Palestina). Jadi, akhirnya kita putuskan, kita masuk," paparnya.

Kendati demikian, ia mengatakan bahwa Indonesia tidak akan segan angkat kaki dari BoP jika hasil keputusannya tidak sejalan dengan kepentingan Indonesia atau Palestina. Bahkan, menurutnya, Indonesia bisa saja keluar dari dewan tersebut tanpa perlu merundingkannya terlebih dahulu dengan anggota Group of Eight lainnya.

"Selama kita di dalam BoP bisa membantu perjuangan rakyat Palestina, kita akan berusaha. Begitu kita mengambil kesimpulan tidak ada harapan dan justru kontraproduktif, kita menilai kita kehabisan waktu, kehabisan energi, dan tidak menguntungkan kepentingan nasional bangsa Indonesia, kita keluar," tambahnya.

Prabowo berharap Indonesia dan anggota Group of Eight lainnya dapat berkontribusi positif bagi perdamaian jangka panjang di Palestina.

"Jadi, saya menjalankan perjuangan bangsa Indonesia dari dulu. Kita selalu membela kemerdekaan Palestina," pungkasnya.

Media files:
01khwb7fgrsctc9s6j7agx09a6.jpg image/jpeg,
You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.