Menko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) saat berkunjung ke booth BYD di IIMS 2026. Foto: Fitra Andrianto/kumparan
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengunjungi ajang Indonesia International Motor Show (IIMS) 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Jumat (13/2/2026).
Dalam kunjungannya, AHY terlihat berkeliling sejumlah area pameran mulai dari Hall A hingga Hall C1-C2 dengan fokus pada teknologi kendaraan elektrifikasi.
AHY juga sempat mampir di booth BYD dan bertemu dengan Head of Public and Goverment Relation BYD Indonesia, Luther Panjaitan.
Salah satu booth yang menarik perhatian AHY adalah saat Luther memberikan miniatur Denza B5 yang baru diperkenalkan di Indonesia. Ia mengaku tertarik dengan model SUV elektrifikasi sub-brand premium BYD tersebut.
"Tertarik punya BYD, saya suka tuh Denza B5, tapi belum ada di sini katanya. Kapan-kapan ya kita lihat," ujar AHY di sela kunjungannya di IIMS 2026, Jumat (13/2/2026).
Lebih lanjut saat dikonfirmasi terkait kehadiran BYD di Indonesia, AHY pun memberikan tanggapan positif terhadap brand jenama China tersebut.
Menko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) saat berkunjung ke booth BYD di IIMS 2026. Foto: Fitra Andrianto/kumparan
"Luar biasa BYD, kayanya setiap kita di jalan raya kalau enggak di kiri, di kanan, di depan dan di belakang kita BYD. Artinya semakin banyak yang bukan hanya tertarik tapi juga menggunakan BYD," tegasnya.
Kehadiran AHY dinilai menjadi bentuk dukungan pemerintah terhadap perkembangan industri otomotif nasional yang tengah memasuki fase transisi menuju elektrifikasi.
Berbagai merek global memanfaatkan pameran tersebut untuk menampilkan kendaraan ramah lingkungan, mulai dari hybrid hingga battery electric vehicle (BEV), sejalan dengan arah kebijakan pembangunan mobilitas berkelanjutan.
Menko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) saat berkunjung ke booth BYD di IIMS 2026. Foto: Fitra Andrianto/kumparan
Kunjungan tersebut juga memperlihatkan meningkatnya perhatian pemerintah terhadap perkembangan kendaraan listrik di Indonesia. Seiring pertumbuhan ekosistem elektrifikasi, pameran otomotif seperti IIMS menjadi wadah penting bagi produsen untuk memperkenalkan teknologi terbaru sekaligus menguji respons pasar domestik.
Selain meninjau kendaraan elektrifikasi, AHY juga melihat berbagai inovasi otomotif yang ditampilkan para peserta pameran. Mulai dari teknologi efisiensi energi hingga fitur keselamatan modern yang menjadi bagian dari transformasi industri menuju mobilitas yang lebih berkelanjutan.
Berjumpa langsung Denza B5 PHEV di China. Foto: Aditya Pratama Niagara/kumparan
Ilustrasi Post Hustle Generation. Foto: Nathan McBride/Unplash
Post Hustle Generation kini bukan lagi sekadar jargon media sosial, melainkan juga refleksi perubahan nilai kerja generasi muda di banyak negara. Dalam situasi ekonomi yang tidak stabil dan biaya hidup yang terus naik, bekerja keras tidak lagi otomatis bermakna hidup lebih aman.
Generasi pascapandemi hidup dalam realitas di mana burnout, kecemasan, dan ketidakpastian lebih nyata daripada janji sukses korporasi. Maka, tidak mengherankan bila banyak orang muda mulai memutuskan bahwa hidup bukan hanya soal menaiki tangga karier.
Post Hustle Generation hadir bukan sebagai generasi anti-kerja, melainkan generasi yang menolak menjadikan kerja sebagai pusat eksistensi. Kerja dilihat sebagai alat untuk hidup, bukan hidup untuk kerja.
Fenomena ini mulai terasa kuat di Indonesia, terutama di kalangan mahasiswa, pekerja kreatif, dan pekerja digital. Pilihan kerja fleksibel, resign kolektif, dan penolakan terhadap budaya lembur menjadi gejala yang kian terbaca.
Yang menarik, perubahan ini terjadi bukan karena generasi ini kehilangan ambisi, melainkan karena ambisi telah bergeser dari akumulasi menuju kebermaknaan hidup.
Dari Hustle Culture ke Post Hustle
Ilustrasi bekerja. Foto: Shutterstock
Budaya hustle lahir dari keyakinan bahwa semakin keras bekerja, semakin dekat seseorang pada kesuksesan. Narasi ini diperkuat oleh budaya startup dan kapitalisme digital yang menormalisasi kerja tanpa batas.
Namun, penelitian oleh Clark et al. (2021)—dalam Journal of Vocational Behavior—menunjukkan bahwa overwork secara signifikan berkorelasi dengan penurunan well-being atau kesejahteraan, peningkatan kecemasan, dan kelelahan emosional. Artinya, kerja berlebihan justru melemahkan kualitas hidup dan produktivitas jangka panjang.
Inilah yang mendorong lahirnya Post Hustle Generation sebagai bentuk perlawanan kultural. Ketika tubuh dan pikiran menjadi korban, narasi sukses berbasis pengorbanan mulai kehilangan legitimasi.
Generasi ini menyadari bahwa sistem yang menuntut kerja ekstrem tidak sejalan dengan keberlanjutan manusia. Maka, yang dipersoalkan bukan kemalasan, melainkan struktur kerja yang tidak manusiawi.
Dalam konteks ini, Post Hustle bukanlah kemunduran etos kerja, melainkan bentuk rasionalitas baru.
Kerja Tidak Lagi Menjadi Sumber Identitas Utama
Ilustrasi perempuan bekerja. Foto: K-Angle/Shutterstock
Salah satu ciri utama Post Hustle Generation adalah melepaskan identitas dari pekerjaan. Seseorang tidak lagi merasa harus menjelaskan nilai diri melalui jabatan atau nama perusahaan.
Hal ini sejalan dengan penelitian psikologi di dalam Research in Organizational Behavior (2010) yang menegaskan bahwa makna kerja bukan berasal dari posisi atau gaji, melainkan dari pengalaman psikologis, relasi, dan kontribusi sosial.
Generasi pasca-hustle mulai mengejar pekerjaan yang "cukup" secara finansial, tetapi kaya secara makna. Mereka lebih tertarik pada pekerjaan yang memberi ruang tumbuh, bukan sekadar ruang naik.
Ini menjelaskan mengapa banyak yang rela berpindah karier, menolak promosi, atau memilih kerja fleksibel. Stabilitas psikologis dianggap lebih berharga daripada status.
Dalam sudut pandang anti-mainstream, pilihan ini justru mencerminkan kedewasaan dalam membaca realitas kerja modern.
Post Hustle dan Ketimpangan Ekonomi yang Tersembunyi
Ilustrasi perempuan stres saat bekerja. Foto: David Gyung/Shutterstock
Post Hustle Generation juga muncul sebagai reaksi terhadap kebuntuan mobilitas sosial. Kerja keras tidak lagi menjamin rumah, tabungan, atau masa depan aman.
Bagi banyak orang muda, bekerja 12 jam sehari hanya menghasilkan kelelahan, bukan kemajuan struktural. Ketika sistem tidak adil, menolak eksploitasi menjadi bentuk rasionalitas, bukan pembangkangan.
Di Indonesia, hal ini terlihat dari meningkatnya minat terhadap kerja lepas, usaha mikro, dan profesi kreatif. Pilihan tersebut sering dibaca sebagai kurang ambisius, padahal justru lebih adaptif.
Post Hustle Generation membaca dunia kerja sebagai arena yang tidak lagi memberi imbal balik sepadan. Maka, strategi hidup pun diubah.
Di sinilah post hustle menjadi bentuk kecerdasan sosial, bukan kemalasan kolektif.
Masa Depan Ambisi di Era Post Hustle
Ilustrasi generasi muda bekerja. Foto: Shutterstock
Ambisi dalam Post Hustle Generation tidak hilang, tetapi berpindah arah. Ambisi kini lebih diarahkan pada hidup yang layak, sehat, dan bermakna.
Generasi ini ingin bekerja, tetapi juga ingin hidup. Mereka menuntut dunia kerja yang manusiawi, bukan sekadar efisien.
Ke depan, tekanan dari Post Hustle Generation bisa memaksa perusahaan dan negara untuk merombak standar kerja. Isu seperti jam kerja, kesehatan mental, dan jaminan sosial akan semakin sentral.
Dalam perspektif ini, Post Hustle bukan ancaman bagi produktivitas, melainkan fondasi bagi ekonomi yang lebih berkelanjutan. Masyarakat yang tidak lelah secara struktural justru lebih inovatif.
Post Hustle Generation sedang membangun etika baru tentang arti sukses. Bukan tentang seberapa tinggi posisi, melainkan tentang seberapa utuh kehidupan.