Search This Blog

Menkes Budi Siap Lari 21 Km Sambil Dampingi Tunanetra demi Kampanye Hidup Sehat

kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
Menkes Budi Siap Lari 21 Km Sambil Dampingi Tunanetra demi Kampanye Hidup Sehat
May 7th 2026, 14:28 by kumparanNEWS

Budi Gunadi Sadikin, Menteri Kesehatan Republik Indonesia saat ditemui di kantornya, Jakarta, Senin (4/5/2026). Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
Budi Gunadi Sadikin, Menteri Kesehatan Republik Indonesia saat ditemui di kantornya, Jakarta, Senin (4/5/2026). Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, berencana mengikuti ajang Jakarta Marathon dengan berlari bersama penyandang tunanetra untuk mengkampanyekan gaya hidup sehat khususnya bagi generasi muda.

“Dan rencananya nanti di Jakarta Marathon, saya mau coba lari bersama teman-teman tunanetra. Saya mau lari 21 kilo sambil membimbing orang buta, supaya bisa menyindir anak-anak muda di sini yang masih gemuk-gemuk. ‘Tuh, orang buta saja lari, masa kalian yang sehat dan bisa melihat tidak lari,’” ujar Budi dalam sambutannya di acara peringatan Hari Obesitas Sedunia 2026, di Kantor Kementerian Kesehatan RI, Jakarta, Kamis (7/5).

Hadir dalam acara itu Duta Besar Denmark untuk Indonesia, Sten Frimodt Nielsen.

Adapun Jakarta Marathon 2026 akan digelar pada Juni nanti melombakan lari 5 km, 10 km, 42 km (full-marathon), dan 21 km (half-marathon).

Budi menegaska bahwa olahraga merupakan salah satu kunci penting dalam pencegahan obesitas, selain pengaturan pola makan. Menurut penghobi olahraga lari ini, aktivitas fisik yang rutin dapat memberikan dampak langsung terhadap kondisi kesehatan tubuh.

Menkes Budi Gunadi Sadikin (kedua dari kiri) saat mengikuti "kumparan Fun Run" di kawasan CFD Jakarta, Minggu (19/1/2025). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
Menkes Budi Gunadi Sadikin (kedua dari kiri) saat mengikuti "kumparan Fun Run" di kawasan CFD Jakarta, Minggu (19/1/2025). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

“Selain asupan, obesitas berhubungan dengan aktivitas, aktivitas fisik yang disiplin,” katanya.

Budi mencontohkan kebiasaan hidup sehat sejumlah tokoh yang dikenalnya, termasuk para duta besar yang rutin berolahraga seperti bersepeda dan lari.

“Pak Nielson (Duta Besar Denmark) itu tetangga saya. Jadi kami sudah pernah makan malam bersama. Jadi saya tahu hobi beliau adalah bersepeda," ujar Budi.

"Saya punya banyak duta besar yang tinggal dekat rumah saya. Ada Duta Besar Swedia, beliau juga suka lari. Duta Besar Jerman juga, Anda bisa lihat Indeks Massa Tubuhnya juga di bawah 24,” lanjutnya.

Budi juga menjelaskan, bahwa olahraga memiliki dampak biologis yang berpengaruh pada kesehatan, termasuk menurunkan risiko obesitas.

Warga tetap antusias lari pagi meskipun diguyur hujan pada saat CFD Thamrin-Sudirman, Jakarta Pusat, Minggu pagi (18/1/2026). Foto: Jeni Ritanti/kumparan
Warga tetap antusias lari pagi meskipun diguyur hujan pada saat CFD Thamrin-Sudirman, Jakarta Pusat, Minggu pagi (18/1/2026). Foto: Jeni Ritanti/kumparan

“Karena olahraga itu mengurangi hormon stres (kortisol), meningkatkan hormon bahagia (endorfin). Tapi bahasa itu susah dimengerti. Intinya, kalau olahraga, obesitas kita pasti berkurang,” katanya.

Ikut Maraton di London

Ia menambahkan, dirinya baru saja mengikuti ajang maraton di London yang menurutnya berdampak pada penurunan berat badan.

London Marathon Foto: Glyn Kirk/AFP
London Marathon Foto: Glyn Kirk/AFP

“Saya baru selesai ikut maraton London kemarin, setelah selesai maraton itu berat badan turun. Kalau sudah turun beratnya, kita tidak akan gemuk lagi karena dietnya jadi terasa lebih gampang,” ujarnya.

Budi juga menekankan pentingnya konsistensi aktivitas fisik sesuai rekomendasi kesehatan yang tepat.

“Sekali lagi, kita harus menciptakan olahraga ini, entah itu padel, lari, atau bulu tangkis. Yang penting sesuai saran WHO: 30 menit sehari, 5 hari seminggu itu minimal, di Zona 2. Kalau masih Zona 1, Anda harus lebih giat lagi,”katanya.

Tren Anak Muda

Sejumlah peserta beradu kecepatan saat mengikuti ajang Jakarta Marathon 2022 melintas di depan Gedung Kesenian Jakarta, Minggu (16/10/2022). Foto: Dok. Istimewa
Sejumlah peserta beradu kecepatan saat mengikuti ajang Jakarta Marathon 2022 melintas di depan Gedung Kesenian Jakarta, Minggu (16/10/2022). Foto: Dok. Istimewa

Ia juga mendorong agar olahraga dibuat menjadi tren di kalangan masyarakat agar lebih mudah diterima, khususnya oleh anak muda.

“Supaya bisa membangun kesadaran juga bahwa lari itu keren. Lari itu tren. Karena lari adalah olahraga yang paling murah,” ujar sarjana fisika nuklir ITB ini.

Selain kampanye olahraga, Budi juga berharap rencana ini dapat mendorong perubahan gaya hidup sehat untuk menekan obesitas, termasuk melalui edukasi pola makan dan aktivitas fisik yang berkelanjutan.

“Karena saya lihat di maraton ada yang pakai baju kuning tulisan ‘Saya Buta’ lalu ada pendampingnya yang pakai tulisan ‘Pelatih Tunanetra’. Jadi kita lari diikat bersama-sama. Mudah-mudahan dengan begitu bisa memotivasi teman-teman yang sehat: "Orang buta saja lari, masa kita yang sehat enggak lari". Dia buta saja tetap lari, Anda tidak buta, jadi ayo lari,” katanya.

Menteri Kesehatan (Menkes) RI, Budi Gunadi Sadikin saat memberikan sambutan di "Obesity Disease Awareness Event: Harapan yang Meringankan" di Gedung Prof. Sujudi Kementerian Kesehatan, Jakarta, Kamis (7/5/2026). Foto: Jeni Ritanti/kumparan
Menteri Kesehatan (Menkes) RI, Budi Gunadi Sadikin saat memberikan sambutan di "Obesity Disease Awareness Event: Harapan yang Meringankan" di Gedung Prof. Sujudi Kementerian Kesehatan, Jakarta, Kamis (7/5/2026). Foto: Jeni Ritanti/kumparan

Menutup sambutannya, Budi mengajak agar masyarakat bisa ikut berperan dalam perubahan gaya hidup sehat secara menyeluruh.

“Tapi saya butuh bantuan Anda untuk mengedukasi pasar, menciptakan gerakan, mengontrol apa yang Anda makan, dan terus berolahraga. Supaya Anda tidak obesitas, Anda sehat, dan yang paling penting Anda panjang umur,” ujarnya.

Media files:
01kqv06wr3kgpnf6hmr9mzt6tv.jpg image/jpeg,
You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.

Permintaan Terakhir Siswa Yatim Samarinda: Ingin Beli Sepatu tapi Ibu Tak Mampu

kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
Permintaan Terakhir Siswa Yatim Samarinda: Ingin Beli Sepatu tapi Ibu Tak Mampu
May 4th 2026, 19:23 by kumparanNEWS

Ibu Mandala, Ratnasari (kiri) dan Ketua TRC PPA Kaltim, Rina Zainun (tengah). Foto: Dok. Istimewa
Ibu Mandala, Ratnasari (kiri) dan Ketua TRC PPA Kaltim, Rina Zainun (tengah). Foto: Dok. Istimewa

Seorang siswa SMK di Samarinda, Kaltim, Mandala (16), meninggal dunia pada Jumat (24/4/2026). Mandala meninggal usai mengalami sakit dan bengkak pada kakinya diduga karena penggunaan sepatu sekolah yang kekecilan.

Peristiwa ini menyisakan duka mendalam sekaligus menyoroti kondisi ekonomi keluarga yang serba terbatas.

Ibu korban, Ratnasari, menuturkan bahwa awalnya anaknya hanya mengeluhkan sakit ringan. Tapi, dalam waktu sekitar tiga minggu, pembengkakan di kaki mulai terlihat dan rasa sakit semakin intens.

“Kurang lebih dua minggu pertama belum ada bengkak. Setelah sekitar 20 hari, bagian atas kaki mulai membesar,” katanya.

Meski sakit, Mandala tetap menjalani aktivitas sehari-hari, termasuk magang. Ia lebih banyak berdiri dan hanya duduk saat waktu istirahat. Keluhan biasanya disampaikan setelah pulang ke rumah.

Ingin Sepatu Baru

Sehari sebelum meninggal dunia, kondisi Mandala semakin memburuk. Pembengkakan di kaki terlihat parah. Ia sempat mendapatkan penanganan berupa suntikan di klinik sekitar lingkungan tempat tinggal.

“Setelah disuntik, dia bilang sudah tidak terlalu sakit. Kami kira membaik,” ujar Ratnasari.

Namun, pada Jumat (24/4/2026), Mandala meninggal dunia.

Malam sebelum meninggal, Mandala sempat menyampaikan keinginan terakhir untuk memiliki sepatu baru. Permintaan itu belum dapat dipenuhi.

“Dia bilang ingin sepatu untuk terakhir kalinya. Tapi saya tidak bisa membelikan,” tutur Ratnasari.

Tahan Sakit Pakai Sepatu Kekecilan

Kasus ini turut mendapat perhatian Tim Reaksi Cepat Perlindungan Perempuan dan Anak (TRC PPA), sebuah LSM di Kaltim, yang menerima laporan pada 25 April 2026.

Ketua TRC PPA Kaltim, Rina Zainun, mengungkapkan bahwa Mandala merupakan anak yatim yang tinggal bersama satu kakak dan tiga adiknya. Sang ibu, Ratnasari, bekerja sebagai penjual risoles keliling dengan penghasilan terbatas.

Sejak kelas 1 SMK, Mandala menggunakan sepatu ukuran 43. Namun, saat naik ke kelas 2, ukuran kakinya bertambah menjadi 45. Karena keterbatasan ekonomi, sepatu lama tetap digunakan dengan cara dimodifikasi menggunakan busa agar terasa lebih longgar.

“Sepatu itu tetap dipakai setiap hari. Bahkan diganjal dengan foam agar tidak terlalu keras, tapi justru menyebabkan kakinya bengkak,” ujar Rina.

Kondisi tersebut diperparah saat Mandala menjalani kegiatan magang di pusat perbelanjaan yang mengharuskannya berdiri dalam waktu lama. Selama sekitar satu bulan, keluhan nyeri di kaki semakin memburuk dan menjalar hingga ke pinggang dan kepala.

Media files:
01kqrryc55h0jzhpmh0x8a0e8n.jpg image/jpeg,
You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.