Search This Blog

Kenali Sisi Lain Kota, Hotel di Yogya Ini Ajak Tamu Jelajahi Kampung dan Pasar

kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
Kenali Sisi Lain Kota, Hotel di Yogya Ini Ajak Tamu Jelajahi Kampung dan Pasar
May 23rd 2026, 15:37 by Pandangan Jogja

Sekelompok tamu The Phoenix Hotel Yogyakarta berjalan menyusuri gang-gang Kampung Cokrokusuman dalam program Phoenix’s Urban Slice of Life: The Excursion di Yogyakarta, Sabtu (16/5). Foto: Dok. Istimewa
Sekelompok tamu The Phoenix Hotel Yogyakarta berjalan menyusuri gang-gang Kampung Cokrokusuman dalam program Phoenix’s Urban Slice of Life: The Excursion di Yogyakarta, Sabtu (16/5). Foto: Dok. Istimewa

Sabtu (16/5) pagi, sekelompok tamu The Phoenix Hotel Yogyakarta berjalan di gang-gang Kampung Cokrokusuman. Bukan untuk wisata foto, tapi untuk mencari tahu apa yang tumbuh dan hidup di sekitar hotel tempat mereka menginap.

Perjalanan itu bagian dari program Phoenix's Urban Slice of Life: The Excursion, kolaborasi The Phoenix Hotel Yogyakarta dengan Bhumi Bhuwana, rumah arsip di Prawirotaman yang merawat ingatan tentang kehidupan sehari-hari: sandang, pangan, papan, dan kesadaran hidup.

Program ini dirancang sebagai cara lain untuk mengenal Yogyakarta dari jarak yang lebih dekat, bukan lewat destinasi wisata utama, melainkan lewat kampung, pasar, dan meja makan. Tamu diajak untuk melihat resiliensi masyarakat Yogyakarta di tengah kota melalui berbagai kegiatan sederhana seperti menanam tanaman pangan dan obat di lahan terbatas hingga menginisiasi bank sampah.

Dalam perjalanan, peserta singgah di pasar tradisional untuk membeli berbagai bahan pangan lokal yang nantinya diolah bersama dalam sesi memasak di akhir kegiatan. Foto: Dok.Istimewa.
Dalam perjalanan, peserta singgah di pasar tradisional untuk membeli berbagai bahan pangan lokal yang nantinya diolah bersama dalam sesi memasak di akhir kegiatan. Foto: Dok.Istimewa.

Sebelum program berjalan, tim The Phoenix Hotel Yogyakarta dan Bhumi Bhuwana terlebih dahulu turun ke lapangan. Mereka memetakan ekosistem tanaman pangan yang tumbuh di lingkungan warga, mengamati aktivitas sosial kampung, dan mencatat arsitektur di sekitar kawasan The Phoenix Hotel Yogyakarta. Hasil riset itulah yang kemudian menjadi fondasi ekskursi sekaligus menu yang disajikan di akhir program.

Bukhi Prima Putri, Founder Bhumi Bhuwana, menjelaskan bagaimana pemetaan itu diterjemahkan menjadi pengalaman bagi peserta, mulai dari mengenal tanaman pangan dan aktivitas sosial warga, mampir ke pasar, hingga mencicipi hidangan yang terinspirasi dari arsip yang telah dikumpulkan Bhumi Bhuwana.

Didampingi pemandu Bhumi Bhuwana dan pengurus RT setempat, peserta berjalan dari gang ke gang di sekitar Kampung Cokrokusuman.

Mengenal tanaman pangan yang tumbuh di lingkungan kampung serta melihat aktivitas sosial warga. Foto: Dok.Istimewa
Mengenal tanaman pangan yang tumbuh di lingkungan kampung serta melihat aktivitas sosial warga. Foto: Dok.Istimewa

"Peserta dapat pengalaman baru. Mulai dari mencicipi tanaman-tanaman pangan yang ada di sekitaran Phoenix. Ternyata ada tanaman-tanaman yang tadinya cuma di pinggir jalan, mungkin cuma lewat aja, selewat aja, pohon-pohon ini ternyata selama ini cuma bisa dilihat, ternyata dia bisa dimakan," kata Bukhi kepada Pandangan Jogja, Sabtu (16/5).

Dari gang-gang di kampung, rombongan bergerak ke Pasar Kranggan. Peserta diberi misi untuk memilih dan membeli sendiri bahan yang nanti akan dimasak, beberapa di antaranya yakni kecombrang dan daun kelor. Executive Chef The Phoenix Hotel Yogyakarta , Chef Hanggita Prima Tama atau akrab dipanggil Chef Tama, menyebut momen belanja di pasar sebagai bagian yang tidak bisa digantikan dari program ini.

"Mereka akan dapat experience-nya, enggak cuma masak saja, tapi benar-benar ngambil dari bahan-bahan, belanja bahan-bahan yang fresh, bahan-bahan terbaik di pasar," ujarnya.

Peserta mengikuti sesi memasak bersama Chef Tama menggunakan bahan pangan yang dibeli langsung dari pasar tradisional. Foto: Dok. Istimewa
Peserta mengikuti sesi memasak bersama Chef Tama menggunakan bahan pangan yang dibeli langsung dari pasar tradisional. Foto: Dok. Istimewa

Sekembalinya ke dapur hotel, semua yang dibawa dari pasar mulai diolah dalam sesi cooking class bersama Chef Tama. Tidak ada yang hanya menonton, semua peserta ikut terlibat mulai dari mengulek bumbu hingga memasak hidangan yang nantinya disantap bersama.

Sesi makan siang menutup tiga hingga empat jam perjalanan. Tujuh hidangan tersaji di satu meja, dengan cita rasa Indische, Peranakan, dan Jawa yang hadir bersamaan.

Program "Urban Slice of Life" di The Phoenix Hotel Yogyakarta tersedia setiap hari mulai pukul 08.30 WIB, Reservasi dapat dilakukan melalui reservation@thephoenixyogya.com atau telp (0274) 566617.

Media files:
01ks9sd1n14bgbb3xhpdre9gpy.jpg image/jpeg,
You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.

Wamendagri Ribka Haluk Turun Langsung Kawal Perdamaian Konflik Suku di Wamena

kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
Wamendagri Ribka Haluk Turun Langsung Kawal Perdamaian Konflik Suku di Wamena
May 23rd 2026, 15:50 by kumparanNEWS

Wamendagri Ribka Haluk tegaskan stabilitas keamanan jadi syarat mutlak untuk jalankan pembangunan di Papua Pegunungan, Sabtu (23/5/2026). Foto: Dok. Kemendagri
Wamendagri Ribka Haluk tegaskan stabilitas keamanan jadi syarat mutlak untuk jalankan pembangunan di Papua Pegunungan, Sabtu (23/5/2026). Foto: Dok. Kemendagri

Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Ribka Haluk turun langsung dalam prosesi perdamaian konflik perang suku yang digelar di Markas Kepolisian Resor (Mapolres) Jayawijaya, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, Sabtu (23/5/2026).

Prosesi perdamaian tersebut ditandai dengan ritual adat patah panah sebagai simbol berakhirnya konflik antara kedua belah pihak. Selain itu, dilakukan pula penandatanganan surat pernyataan damai yang disaksikan pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda).

Dalam sambutannya, Ribka menyampaikan apresiasi kepada seluruh masyarakat dan tokoh adat yang telah membuka ruang perdamaian dengan penuh kerendahan hati dan jiwa besar.

“Saya tidak bisa bicara banyak. Saya mewakili pemerintah pusat yang hadir di kota ini. Sejak awal kami mengikuti seluruh tahapan dan semua yang dilakukan oleh pemerintah daerah maupun masyarakat,” katanya.

Ia juga menyampaikan pesan dari Menteri Dalam Negeri yang mewakili Presiden Republik Indonesia berupa apresiasi dan ucapan terima kasih kepada masyarakat Papua Pegunungan yang telah memilih jalan damai melalui pendekatan adat. Sebagai perempuan adat Papua, Ribka mengaku terharu melihat penyelesaian konflik dilakukan secara adat oleh para tokoh dan masyarakat.

“Saya menangis, tetapi saya bahagia karena orang-orang tua bisa menyelesaikan ini secara adat dengan jiwa besar,” ucapnya.

Ribka menegaskan bahwa keamanan menjadi syarat utama dalam pembangunan daerah. Menurutnya, pemerintah tidak akan mampu menjalankan pembangunan secara maksimal apabila kondisi keamanan tidak kondusif.

“Kalau keamanan tidak baik, maka pemerintah juga tidak bisa berbuat apa-apa. Daerah harus aman dulu baru kita bisa membangun,” ungkapnya.

Ia juga mengajak masyarakat untuk mengedepankan penyelesaian persoalan melalui jalur keluarga, tokoh adat, tokoh agama, dan pemerintah kampung sebelum berujung pada kekerasan.

“Jangan langsung selesaikan dengan cara-cara kekerasan. Sudah cukup,” tambahnya.

Di sisi lain, Gubernur Papua Pegunungan John Tabo menyebut perdamaian adat tersebut sebagai langkah penting untuk menghentikan siklus konflik antarsuku yang terus berulang di wilayah Papua Pegunungan.

Ia menjelaskan bahwa tradisi patah panah merupakan bagian penting dalam penyelesaian perang adat yang diwariskan leluhur.

“Hari ini kami melaksanakan satu tanda acara perdamaian lepas adat dengan mematahkan alat perang yaitu panah,” tuturnya.

Ia melanjutkan, penyelesaian konflik secara adat harus dilakukan secara utuh agar tidak memicu konflik baru di kemudian hari. Karena itu, Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan akan menyiapkan regulasi melalui Perdasi dan Perdasus terkait mekanisme penyelesaian konflik adat.

“Kita akan masukkan dalam Perdasi dan Perdasus supaya penanganan konflik seperti ini ada hukum peradilan adat yang berjalan,” ujarnya.

John Tabo juga mengingatkan pemerintah daerah agar tidak lagi menyelesaikan konflik adat menggunakan uang pemerintah. Ia menilai penyelesaian adat harus kembali pada nilai-nilai budaya asli masyarakat pegunungan.

Wamendagri Ribka Haluk tegaskan stabilitas keamanan jadi syarat mutlak untuk jalankan pembangunan di Papua Pegunungan, Sabtu (23/5/2026). Foto: Dok. Kemendagri
Wamendagri Ribka Haluk tegaskan stabilitas keamanan jadi syarat mutlak untuk jalankan pembangunan di Papua Pegunungan, Sabtu (23/5/2026). Foto: Dok. Kemendagri

“Persoalan begini tidak boleh lagi dibantu bayar pakai uang pemerintah kepada rakyat. Tidak boleh. Berhenti. Kamu selesaikan secara adat,” tegasnya.

Dalam kesempatan itu, ia turut mengajak seluruh masyarakat menjaga persatuan serta melindungi generasi muda Papua Pegunungan agar tetap berakar pada budaya dan nilai adat yang diwariskan leluhur.

Adapun pemerintah daerah bersama pemerintah pusat juga memastikan langkah rehabilitasi dan rekonsiliasi pascakonflik, termasuk penanganan rumah-rumah warga yang terdampak akibat konflik perang suku tersebut.

Prosesi perdamaian tersebut dihadiri para bupati, jajaran Forkopimda provinsi dan kabupaten, aparat TNI-Polri, tokoh gereja, tokoh adat, serta masyarakat dari berbagai wilayah di Papua Pegunungan.

Media files:
01ksa0d74ybk1zh0nfmkmycbtp.jpg image/jpeg,
You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.

Popular Posts