Search This Blog

Gen Z Cepat Resign: Tanda Manja atau Cari Lingkungan Kerja Sehat?

kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
Gen Z Cepat Resign: Tanda Manja atau Cari Lingkungan Kerja Sehat?
Aug 1st 2025, 12:50 by Lailamsaum Muthiillah

Ilustrasi karyawan resign. Foto: Shutterstock/shisu_ka
Ilustrasi karyawan resign. Foto: Shutterstock/shisu_ka
Baru 3 bulan kerja, sudah resign?"

Kalimat tersebut sering kali terdengar jika menyangkut generasi Z di dunia kerja. Dianggap manja, kurang tahan banting, atau tidak loyal. Apakah itu benar adanya? Atau justru tempat kerjanya yang bermasalah?

Fenomena Gen Z Resign

Gen Z kini menjadi kelompok karyawan dengan pertumbuhan tercepat di dunia kerja. Namun, banyak di antara mereka yang kesulitan beradaptasi dengan budaya kerja dan tuntutan profesional, sehingga memicu keinginan untuk resign.

Survei menunjukkan bahwa hampir 50% Gen Z di seluruh dunia mengalami tekanan kerja yang tinggi. Laporan Deloitte mencatat 46% Gen Z merasa stres karena tuntutan profesional. Di Indonesia, studi di Bandung mengungkap lebih dari 75% Gen Z berniat resign karena beban kerja berlebih, gaji rendah, dan budaya kerja yang tidak mendukung.

Perubahan ini berdampak langsung pada strategi rekrutmen, retensi karyawan, budaya perusahaan, hingga kebijakan perusahaan. Hal ini menjadi perhatian bagi perusahaan untuk lebih menciptakan lingkungan kerja yang lebih adaptif terhadap karakteristik Gen Z.

Perbincangan ini semakin ramai karena didorong oleh media sosial, di mana Gen Z banyak membagikan pengalaman kerja, burnout, hingga alasan mereka keluar dari perusahaan. Isu ini menjadi topik utama baik bagi pekerja maupun perusahaan, terutama di tengah perubahan dinamika kerja pascapandemi.

Kenapa Gen Z Cepat Resign?

Resign cepat di kalangan Gen Z bukanlah sekadar fenomena biasa. Ketidakstabilan ekonomi, krisis iklim, kenaikan biaya hidup, hingga dampak pandemi menjadi latar belakang tumbuhnya Gen Z. Kondisi ini membuat mereka terbiasa mencari pekerjaan yang mendukung dengan keinginan mereka.

Dari kacamata perusahaan, Gen Z dinilai tidak bisa berkomitmen. Namun tidak hanya itu, melainkan terdapat beberapa alasan, seperti:

  • Gen Z Ingin Cepat Naik Jabatan, Tapi Minim Adaptasi.

Banyak karyawan Gen Z memiliki ambisi yang tinggi untuk segera mendapatkan promosi. Namun kurangnya adaptasi terhadap budaya kerja sering menjadi hambatan.

  • Perbedaan Gaya Komunikasi Antargenerasi.

Tantangan utama yang sering kali ditemui di tempat kerja adalah perbedaan komunikasi antara Gen Z dan generasi sebelumnya (Gen X). Hal ini bisa memicu kesalahpahaman hingga ketegangan.

  • Gen Z Sering Dianggap Tidak Sabar dan Cepat Bosan.

Generasi Z kerap dinilai kurang sabar dalam menghadapi proses yang panjang, mereka lebih suka hasil cepat. Jika mereka merasa bosan dan tidak berkembang, mereka akan memilih resign.

Ilustrasi generasi Z. Foto: Shutterstock/Maria Bullfinch
Ilustrasi generasi Z. Foto: Shutterstock/Maria Bullfinch

Namun bagi Gen Z ada beberapa faktor yang mendorong mereka untuk resign, antara lain:

  • Kesehatan Mental Jadi Prioritas Gen Z.

Gen Z adalah generasi yang sangat sensitif. Lingkungan kerja yang penuh tekanan, minim dukungan, dan toxic culture bisa langsung jadi alasan untuk resign.

  • Tidak Ada Work-Life Balance.

Jam kerja yang panjang, lembur terus-menerus, adanya komunikasi kerja di luar jam kantor, membuat Gen Z merasa burnout. Hal inilah yang membuat mereka cenderung resign ke tempat yang lebih menghargai kehidupan pribadi.

  • Gaji Tidak Seimbang dengan Beban Kerja.

Kompensasi tidak seimbang dengan beban kerja dan biaya hidup, jadi salah satu alasan mereka mencari kerja yang lebih layak.

Solusi Bukan Sekadar Menyalahkan Salah Satu Pihak

Fenomena Gen Z yang cepat resign seharusnya tidak dianggap sebagai kemanjaan atau kurang berkomitmen. Begitupun perusahaan tidak bisa terus berpegang pada sistem lama tanpa evaluasi. Solusinya ada pada kedua belah pihak yaitu, Gen Z perlu mengembangkan ketahanan adaptif, sementara perusahaan perlu menciptakan lingkungan kerja yang lebih inklusif, mendukung, dan relevan dengan nilai generasi baru.

Karyawan Gen Z dikenal memiliki cara kerja yang berbeda, kreatif, dan ambisius yang tinggi. Perusahaan bisa melihat dari sisi positifnya untuk mempertahankan Gen Z di perusahaan dengan menyediakan tempat kerja yang sesuai, seperti :

  1. Memberikan pelatihan pengembangan karir.

  2. Menerapkan kebijakan kerja yang fleksibel.

  3. Mengakui dan menghargai karyawan Gen Z.

  4. Memberikan gaji yang kompetitif dan transparansi.

  5. Menciptakan budaya kerja yang positif, kolaboratif, dan inklusif.

Untuk menghadapi tantangan ini, dibutuhkan kolaborasi antara perusahaan dan karyawan Gen Z dalam menciptakan lingkungan kerja yang sehat, suportif, dan selaras dengan nilai generasi masa kini. Dengan saling memahami, baik Gen Z maupun perusahaan bisa tumbuh bersama dan menciptakan masa depan kerja yang lebih baik.

Media files:
01k1hf72bd71erpb4nnzp9h1w5.jpg image/jpeg,
You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar