Wagini dan istrinya, Supeni, naik haji dari nabung bertani dan jualan kerupuk. Foto: Dok MCH 2024
"Pengin weruh (lihat) tanah suci," kata Wagini mengungkapkan alasannya begitu ingin pergi berhaji ke Makkah.
Kakek berusia 72 tahun asal Desa Tambahagung, Padukuhan Gading, Kabupaten Pati, ini akhirnya mendapat panggilan berhaji tahun ini. Dia berangkat bersama sang istrinya, Supeni.
Wagini merupakan jemaah haji tunanetra. Matanya tak bisa melihat sejak Juni 2013 silam karena glukoma.
Dia sempat berobat ke berbagai tempat agar matanya sembuh. Namun hal itu tak membuahkan hasil. Syaraf matanya putus dan harapan untuk bisa kembali melihat pun sirna.
Meski begitu, Wagini yang sehari-hari bekerja sebagai petani padi dan kacang hijau itu tetep bersyukur.
"Disyukuri, diparingi Gusti Allah," kata Wagini saat ditemui di hotelnya di kawasan Raudhah, Makkah, Rabu (5/6/2024).
Wagini awalnya mengolah tanah miliknya yang berukuran 250 meter. Namun sejak ia tidak bisa melihat, tanah itu akhirnya dikelola orang lain dengan model bagi hasil.
Dari hasil panen setahun dua kali, ia mendapat untung hingga Rp 2,5 juta. Uang itu lalu dia tabung untuk berhaji.
Istri Wagini, Supeni, juga begitu ingin pergi ke Tanah Suci. Sehari-hari, dia berjualan kerupuk rambak untuk membantu perekonomian keluarga.
"Saya jual kerupuk rambak dari terigu dan tepung pati, dibungkus kecil-kecil dijual Rp 400-500," kata Supeni yang sudah berjualan kerupuk sejak tahun 1987 ini.
Supeni membuat sendiri kerupuknya hingga menjual di pasar kecamatan Tambak Romo. Untung dari kerupuk ia tabung sedikit demi sedikit.
"Dari seribu dua ribu rupiah untung jualan kerupuk saya tabung. Pokoknya saya tabung di tempat yang hanya saya yang tahu dan orang lain tidak lihat," ucapnya.
Daftar haji tahun 2012
Pasangan suami istri itu mendaftar haji sejak 12 tahun lalu. Usai mendaftar mereka kembali menabung agar saat mendapat panggilan bisa melunasi biaya haji.
Setiap uang dengan jumlah tertentu terkumpul, keduanya langsung menyetor ke bank. Hingga akhirnya pada 2014, keduanya bisa melunasi biaya naik haji dan menjadi tamu Allah tahun ini.
Saat sudah berada di Makkah, Wagini dan Supeni tak mau menyia-nyiakan waktu. Mereka memperbanyak zikir, salat, dan menghafal Al-Quran.
Saat akhirnya bisa berdoa di depan rumah Allah, Wagini dan Supeni memohon agar diberi kesehatan dan keselamatan. "Nyuwun sehat, nyuwun selamat," katanya.
Jun 9th 2024, 00:09, by Ochi Amanaturrosyidah, kumparanNEWS
Lokasi polisi bakar suami dalam asrama Polres Mojokerto. Foto: Dok. Istimewa
Seorang polwan di Kota Mojoketo berinisial Briptu FN (28), nekat membakar suaminya sendiri yang juga polisi, Briptu RDW (29), di Asrama Polres Mojokerto, Jalan Pahlawan, Kelurahan Miji, Kecamatan Kranggan, Kota Mojokerto, Sabtu (8/6) pagi.
Akibat peristiwa itu, Briptu RDW mengalami luka bakar di sekujur tubuhnya dan masih dirawat di rumah sakit.
Berikut kronologi kejadiannya:
Pukul 09.00 WIB
Briptu FN mengecek saldo ATM milik suaminya dan mendapati gaji ke-13 sejumlah Rp 2,8 juta tinggal tersisa Rp 800 ribu. Setelah itu ia menghubungi suaminya untuk mengonfirmasi dan meminta korban segera pulang.
Sebelum pulang, FN membeli bensin terlebih dahulu dan memasukkannya ke botol air mineral. Sesampainya di rumah, botol berisi bensin itu diletakkan di atas lemari di teras rumahnya.
"[FN] memfoto [botol itu], setelah itu dikirimkan ke WA korban agar segera pulang," ucap Kapolresta Mojokerto, AKBP Daniel S Marunduri dalam keterangannya, Sabtu (8/6).
FN lalu meminta ART mereka, Marfuah, membawa ketiga anaknya bermain di luar.
Pukul 10.30 WIB
Tak lama RDW pulang dan langsung diajak masuk ke dalam rumah. Pintu pun dikunci dari dalam. RDW lalu diminta mengganti bajunya dengan kaus lengan pendek dan celana pendek. Setelah itu keduanya terlibat cekcok.
"[Setelah itu] tangan kiri korban pun diborgol dan dikaitkan di tangga yang berada di garasi. Dan dalam kondisi duduk di bawah, korban pun langsung disiram menggunakan bensin yang sudah disiapkan oleh terduga pelaku di sekujur tubuhnya dan korban hanya diam saja," terang Daniel,
"Setelah itu terduga pelaku menyalakan korek dan membakar tisu yang dipegang menggunakan tangan kanan sambil berkata 'ini lo yang lihaten iki' namun korban diam saja," lanjutnya.
Nahas api yang membakar tisu itu menyambar tangan FN dan menjalar ke tubuh RDW yang berlumuran bensin. Korban pun berteriak minta tolong dan berusaha menyelamatkan diri ke luar, namun tak bisa karena terhalang mobil dan tangannya terborgol ke tangga lipat.
Salah satu saksi, Bripka Alvian, yang mendengar teriakan itu lalu langsung masuk dan mencoba memadamkan api. Korban lalu langsung dibawa ke rumah sakit.
"Setelah itu saksi melaporkan kepada pimpinan dan mendatangkan ambulans untuk pertolongan pertama terhadap korban ke rumah sakit," ucapnya.
Dalam peristiwa tersebut, polisi mengumpulkan barang bukti berupa satu buah botol air mineral 1,5 ml, satu buah korek api bensol, satu buah borgol, satu buah tangga, satu buah baju judogi dan satu bungkus serpihan sisa baju korban yang terbakar.