Search This Blog

Sosok Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran yang Tewas Usai Serangan AS-Israel

kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
Sosok Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran yang Tewas Usai Serangan AS-Israel
Mar 1st 2026, 10:35 by kumparanNEWS

Pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei. Foto: WANA (West Asia News Agency)/Handout via REUTERS
Pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei. Foto: WANA (West Asia News Agency)/Handout via REUTERS

Ayatollah Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran yang telah memerintah selama lebih dari tiga dekade, tewas usai serangan Amerika Serikat dan Israel.

Kematiannya pada usia 86 tahun itu menutup bab panjang kepemimpinan paling berpengaruh dalam sejarah Republik Islam Iran sejak Revolusi 1979.

Khamenei lahir di Mashhad, kota terbesar kedua di Iran, pada 1939. Dia merupakan anak kedua dari delapan bersaudara dalam keluarga religius. Ayahnya adalah seorang ulama Syiah.

Sejak kecil, pendidikannya didominasi oleh kajian Alquran. Dia bahkan memenuhi syarat sebagai ulama pada usia 11 tahun.

Dilansir Al-Jazeera, Khamenei menjabat sebagai Pemimpin Tertinggi Iran sejak 1989, menggantikan pendiri Republik Islam, Ayatollah Ruhollah Khomeini.

Dalam sistem politik Iran, posisi tersebut memberinya otoritas tertinggi atas seluruh cabang kekuasaan serta kendali penuh atas militer dan kebijakan strategis negara, sekaligus berperan sebagai pemimpin spiritual.

Selama masa pemerintahannya, Khamenei memimpin Iran di tengah hubungan yang konfrontatif dengan Barat, mulai dari sanksi ekonomi berat hingga gelombang protes domestik terkait kondisi ekonomi dan isu hak-hak sipil.

Ia secara terbuka menyebut Amerika Serikat sebagai "musuh nomor satu Iran", dengan Israel berada tepat di belakangnya.

Kekuatan Khamenei sangat bertumpu pada loyalitas dua institusi keamanan utama Iran: Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) dan pasukan paramiliter Basij, yang memiliki ratusan ribu relawan dan menjadi tulang punggung stabilitas rezim.

Orang-orang bereaksi saat mereka berkumpul setelah Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam serangan Israel dan Amerika Serikat pada Sabtu, di Lapangan Enghelab, Teheran, Iran, 1 Maret 2026. Foto: Majid Asgaripour/WANA via Reuters
Orang-orang bereaksi saat mereka berkumpul setelah Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam serangan Israel dan Amerika Serikat pada Sabtu, di Lapangan Enghelab, Teheran, Iran, 1 Maret 2026. Foto: Majid Asgaripour/WANA via Reuters

Nuklir dan Poros Perlawanan

Di bawah kepemimpinannya, Iran mengembangkan program nuklir kontroversial yang menjadi garis patahan utama hubungan Teheran dengan Barat. Khamenei berulang kali menegaskan Iran tidak akan membangun senjata nuklir dan menyatakan program tersebut murni untuk tujuan sipil.

Intelijen Amerika Serikat dan badan pengawas nuklir PBB juga tidak menemukan bukti bahwa Iran mengejar senjata atom meski Israel dan sejumlah pejabat di pemerintahan Trump terus mendorong narasi sebaliknya.

Khamenei juga membangun apa yang dikenal sebagai Axis of Resistance, jaringan longgar kelompok sekutu di kawasan Timur Tengah yang memungkinkan Iran memproyeksikan kekuatan terhadap musuh-musuhnya.

Strategi ini membuat Iran terhindar dari serangan langsung besar selama lebih dari 30 tahun, sebagaimana diberitakan CNN.

Namun, kekuatan tersebut mulai runtuh dalam tahun-tahun terakhir kepemimpinannya. Rangkaian peristiwa yang dipicu oleh serangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023 mengguncang citra Iran sebagai kekuatan regional yang kebal.

Israel kemudian melancarkan perang besar di Gaza, menyerang Hezbollah di Lebanon, dan bergerak ke Suriah setelah jatuhnya Presiden Bashar al-Assad.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kala itu berjanji akan menyelesaikan pekerjaan, yang berpuncak pada serangan langsung Israel ke Iran pada Juni 2025.

Serangan tersebut, yang diklaim bertujuan melumpuhkan program nuklir Iran, akhirnya menyeret Amerika Serikat. Presiden AS Donald Trump menyatakan fasilitas nuklir Iran telah dihancurkan total.

Orang-orang bereaksi saat mereka berkumpul setelah Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam serangan Israel dan Amerika Serikat pada Sabtu, di Lapangan Enghelab, Teheran, Iran, 1 Maret 2026. Foto: Majid Asgaripour/WANA via Reuters
Orang-orang bereaksi saat mereka berkumpul setelah Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam serangan Israel dan Amerika Serikat pada Sabtu, di Lapangan Enghelab, Teheran, Iran, 1 Maret 2026. Foto: Majid Asgaripour/WANA via Reuters

Dari Ulama hingga Menjadi Pemimpin

Khamenei menjadi ulama Syiah sejak muda dan aktif melawan rezim Shah Mohammad Reza Pahlavi sebelum Revolusi Islam 1979. Aktivismenya membuat ia beberapa kali dipenjara.

Pada 1981, Khamenei selamat dari upaya pembunuhan yang membuat lengan kanannya lumpuh. Tak lama berselang, ia terpilih sebagai presiden Iran yang keras terhadap Barat, terutama Amerika Serikat.

Ia pernah menyatakan, "Kami sama sekali tidak bersedia memulai perang habis-habisan dengan Amerika Serikat, tetapi jika itu terjadi, kami pasti akan melakukan pertahanan yang sangat kuat."

Setelah wafatnya Khomeini pada 1989, Khamenei naik menjadi Pemimpin Tertinggi hanya dalam hitungan pekan. Meski tidak memiliki otoritas keagamaan setinggi pendahulunya, ia dikenal piawai secara politik.

Secara bertahap, ia mengonsolidasikan kendali atas militer, intelijen, peradilan, dan media negara, memastikan tak ada keputusan besar yang diambil tanpa persetujuannya.

Bagi para pendukungnya, Khamenei adalah pemimpin teguh dan tak gentar yang melampaui politik praktis. Namun bagi para pengkritiknya, ia dipandang sebagai penguasa otoriter yang menindas oposisi dan membuat Iran terisolasi dari dunia Barat.

Media files:
01kjknv32wtc3tvz0c98epnkz2.jpg image/jpeg,
You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar