Anggota Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Depok, Khairul Umam (31 tahun), mengaku mendapat teror setelah membuat konten tentang helm di Instagram pribadinya.
Konten helm itu diunggahnya tak lama setelah ramai peristiwa anggota Brimob, Bripda Mesias Victoria Siahaya, menghantamkan helm hingga remaja di Kota Tual, Maluku, tewas.
"Gue mau ngasih tahu lu, ini namanya helm. Gunanya itu buat ngelindungi kepala, bukan buat ngancurin kepala warga," demikian konten Khairul.
Setelah unggahan tersebut, Khairul mengaku mendapatkan teror melalui pesan WhatsApp. Pesannya berisi ancaman sekaligus penyebaran identitas Khairul.
Polisi Bicara
Auditor Kepolisian Madya Tk II Itwasum Polri, Kombes Pol Manang Soebeti, mengaku telah melacak sosok peneror Khairul. Dia memastikan, pelakunya bukanlah anggota Polri.
"Itu kan yang WA cuma satu orang, pakai satu nomor itu. Gimana kalau kita buka siapa dia itu yang nge-WA anggota Damkar itu. Jadi biar jelas, biar enggak dituduh-tuduh polisi lagi, polisi lagi. Ngapain polisi neror-neror," kata Manang lewat akun Instagramnya.
Dalam unggahannya, Manang membeberkan sosok peneror itu bernama Wawan Gunawan. Dia pun menampilkan wajah pelaku dengan mata yang disensor.
Dari identitas yang dibeberkan Manang, Wawan tercatat bekerja sebagai buruh harian lepas yang tinggal di kawasan Subang, Jawa Barat.
Pada unggahan lainnya, Manang juga telah melakukan video call dengan Khairul. Manang meminta Khairul untuk tetap tenang. Dia juga tak mempersoalkan unggahan Khairul soal helm.
"Tenang aja, nggak ada masalah itu. Aman," ucap Manang.
"Kita mah fine-fine aja," sambung dia.
Cerita Khairul
Khairul bercerita mengenai konten helmnya itu. Dia menyebut, memang kerap bikin konten mengenai fungsi seragam Damkar yang digunakannya, untuk mengedukasi masyarakat.
"Iya, ya maksudnya kan emang ya emang sudah pada faktanya fungsi helm itu gunanya buat ngelindungin kepala gitu. Ya kayak gitu aja," kata dia kepada wartawan.
Dia tidak menyangka bahwa kontennya itu malah viral. Dia juga tidak bertujuan untuk menyinggung siapa pun dengan konten tersebut.
"Nah, kalau masalah respons dari netizen-netizen tuh kan itu udah di luar kontrol saya tuh, gitu," kata dia.
Khairul kemudian menceritakan teror yang ia dapat. Mulai dari komentar di kolom instagramnya, hingga ada yang mengiriminya pesan melalui WhatsApp. Mulanya, orang yang me-WA dia mengajak untuk ngopi dan memberi THR.
"Saya respons dengan baik, sampai akhirnya dia bilang "semoga selamat", ya saya balikin doa baik lagi kan," kata dia.
"Tapi dia balasnya ternyata kayak gitu dan akhirnya saya diemin. Ketika udah dapat chat-nya udah mulai arah-arah ancaman rada halus nih, saya diemin. Saya hapus chat-nya. Eh dia WhatsApp lagi. Sampai dia bilang, 'Tunggu ya saya ada kejutan buat kamu', gitu-gitu," sambung Khairul.
Dari situ, orang yang mengiriminya pesan mulai menge-chat hal yang macam-macam. Mulai dari menyebut alamat rumah Khairul, nama orang tuanya, hingga hal lainnya. Khairul juga diminta untuk menjelek-jelekan salah satu institusi. Akhirnya dia memilih untuk mengabaikannya saja.
Namun, dia merasa terornya itu masih belum terlalu parah. Dia sempat diminta untuk melaporkan teror tersebut, tetapi memilih untuk tidak melakukannya.
"Ya saya pikir 'Ah ini mah entar juga hilang', maksud saya gitu kan. karena memang ya udah jadi saya nggak meneruskan itu dan nggak memperbesar itu gitu dengan sampai LP (laporan polisi) apa segala macam itu," ucapnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar