Ilustrasi reaktor nuklir Iran. Foto: AFP/MAJID ASGARIPOUR / MEHR NEWS
Ambisi nuklir melalui proyek uranium Iran menjadi salah satu sumber ketegangan negara tersebut dengan Amerika Serikat (AS) dan sekutunya. AS dan Israel sejak lama memandang Iran yang memiliki senjata nuklir sebagai ancaman eksistensial.
Mengutip Bloomberg pada Minggu (1/3), saat terakhir kali inspektur International Atomic Energy Agency (IAEA) dapat mengakses cadangan uranium Iran, mereka menemukan bahwa Iran telah mengumpulkan 441 kilogram uranium yang ditingkatkan hingga 60 persen.
"Angka itu meningkat lebih dari 50 persen dibandingkan Februari 2025. Jika diproses lebih lanjut, jumlah itu cukup untuk membuat sekitar selusin bom nuklir," tulis laporan Bloomberg.
Namun, status terkini persediaan tersebut belum jelas. Iran memang tetap memiliki pengetahuan teknis yang memungkinkan negara itu membangun kembali program nuklirnya dengan relatif cepat.
Uranium alami terutama terdiri dari dua isotop yakni U-238 dan U-235. Isotop U-235 penting untuk reaksi fisi yang dibutuhkan baik untuk pembangkit listrik tenaga nuklir maupun senjata, tetapi kadarnya rendah dalam bijih uranium mentah.
"Karena itu, uranium harus diperkaya untuk meningkatkan konsentrasi U-235 menggunakan ribuan sentrifugal yang berputar dengan kecepatan sangat tinggi untuk memisahkan isotop," tulis laporan Bloomberg.
Ambang sekitar 3,7 persen cukup untuk bahan bakar sebagian besar pembangkit listrik tenaga nuklir. Untuk ambang di atas 20 persen disebut 'uranium yang diperkaya tinggi' karena memerlukan penanganan khusus dan relatif cepat untuk ditingkatkan ke tingkat senjata. Konsentrasi tipikal untuk senjata nuklir adalah 90 persen.
Adapun uranium yang diperkaya tinggi ke ambang 60 persen bisa digunakan untuk bom sederhana meski daya dan keandalannya lebih rendah. Iran sebelumnya menyatakan bersedia membatasi pengayaan pada tingkat non-militer tetapi tidak akan menghentikan sepenuhnya.
Laporan Bloomberg menyebut peningkatkan pengayaan hingga 90 persen secara teknis tidak terlalu sulit bagi Iran. Namun, langkah berikutnya yakni mengubah uranium menjadi logam yang dapat digunakan dalam bom memerlukan fasilitas yang sebelumnya dihancurkan di Isfahan pada serangan Juni.
Media Iran melaporkan lokasi itu juga menjadi sasaran pada serangan Februari 2026.
Selain bahan fisil, Iran juga memerlukan mekanisme bom dan sistem pengiriman. Diperkirakan Iran sudah memiliki pengetahuan teknis untuk membuat perangkat sederhana tipe 'gun-assembly' seperti bom yang dijatuhkan AS di Hiroshima pada 1945.
Untuk menyerang target jauh, Iran membutuhkan hulu ledak yang cukup kecil untuk dipasang di rudal balistik dan mampu bertahan saat masuk kembali ke atmosfer. Namun, Iran belum melakukan uji coba yang menunjukkan kemampuan membuat hulu ledak nuklir.
Sebelumnya, Iran diketahui melakukan studi perakitan perangkat semacam itu hingga 2003, tetapi menurut laporan intelijen AS, kemungkinan Iran belum melanjutkannya. Perkiraan waktu yang dibutuhkan Iran untuk menyelesaikan tahapan tersebut berkisar antara empat bulan hingga dua tahun.
Kondisi Proyek Uranium Terkini
Foto satelit dari Planet Labs PBC ini menunjukkan fasilitas pengayaan uranium Fordo di Iran (1/4/2025). Foto: Planet Labs PBC/viaREUTERS
Saat ini belum jelas apakah pengayaan uranium masih bisa dilakukan di dua fasilitas utama Iran yakni Fordow Fuel Enrichment Plant dan Natanz Nuclear Facility setelah diserang tahun lalu.
Namun, citra satelit menunjukkan adanya kerusakan besar di permukaan akibat bom penghancur bunker yang dijatuhkan AS pada Juni tahun lalu.
Adapun fasilitas utama di Natanz memiliki struktur lebih dari 40 meter di bawah tanah dan dilindungi baja dan beton setebal sekitar delapan meter.
Fasilitas Fordow bahkan lebih diperkuat karena dibangun di sisi gunung dan diyakini berada 60 sampai 90 meter di bawah tanah.
Presiden AS, Donald Trump, memang mengatakan program nuklir Iran telah dihancurkan oleh serangan AS tahun lalu. Namun banyak ahli berpendapat Iran masih mempertahankan kemampuan kunci.
Analisis awal Pentagon memperkirakan program Iran mengalami kemunduran satu hingga dua tahun. Namun, gambaran pasti baru akan jelas setelah inspektur IAEA dapat memverifikasi langsung kerusakan di lokasi.
Saat ini memang ada kemungkinan Iran memurnikan kembali uranium yang tersisa di fasilitas rahasia yang tidak diketahui dunia luar. Pada pertengahan Juni, Organisasi Energi Atom Iran menyatakan telah membangun fasilitas pengayaan ketiga di lokasi yang dirahasiakan dan aman.
Sebelumnya, Natanz dan Fordow juga dibangun secara diam-diam dan baru diizinkan diperiksa IAEA setelah hampir selesai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar