PT Pertamina Hulu Kalimantan Timur (PHKT) melakukan pengeboran pengembangan dua sumur sisipan (infill) di Lapangan Kerindingan. Foto: Dok. PHE
PT Pertamina (Persero) mengungkapkan Indonesia masih punya sumber daya minyak non-konvensional (MNK) sebesar 11 miliar barel untuk mendukung ketahanan pasokan di dalam negeri, di tengah disrupsi rantai pasok global.
Wakil Direktur Utama Pertamina, Oki Muraza, mengatakan dunia sedang menghadapi tantangan pasokan global. Perang AS-Israel dan Iran yang memblokir Selat Hormuz menyebabkan 25 persen pasokan minyak terhambat.
Selain itu, sekitar 19 persen perdagangan LNG dari kawasan Teluk Persia juga tersendat. Kondisi ini menyebabkan lonjakan harga minyak mentah Brent hingga 63 persen dan harga LNG dari Jepang dan Korea Selatan sekitar 58 persen.
Untuk mengantisipasi rembetan dampaknya ke ketahanan energi Indonesia, Oki memastikan Pertamina melaksanakan dua strategi. Pertama, kenaikan kegiatan eksplorasi dan produksi minyak di dalam negeri.
"Hal pertama yang kita lakukan untuk menghadapi globalisasi terbalik adalah dengan mencoba meningkatkan atau memaksimalkan produksi minyak dan gas domestik," kata Oki saat IPA Convex ke-50, Rabu (20/5).
Kedua, lanjut Oki, yakni menjalin kemitraan, baik itu terlibat dengan kerja sama antar pemerintah (government to government/G2G) maupun antar perusahaan. Pasalnya Indonesia masih memiliki peluang sumber daya migas yang luar biasa, namun perlu didukung lebih lanjut oleh kemitraan dengan investor salah satunya untuk memproduksi minyak non-konvensional.
Wakil Direktur Utama Pertamina, Oki Muraza, hadir di Global Excecutive Talk, IPA Convex ke-50 di ICE BSD, Rabu (20/5/2026). Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparan
"Kita dapat melihat peluang yang kita miliki, yang terdiri dari sumber daya non-konvensional. Kabar baiknya adalah baru-baru ini kita memiliki 11 miliar barel minyak di tempat (in place) untuk sumber daya non-konvensional," ungkap Oki.
Menurutnya, untuk menarik sumber daya MNK tersebut, perusahaan perlu didukung oleh kebijakan fiskal yang menguntungkan dari pemerintah, serta mengundang banyak mitra untuk menciptakan sebuah ekosistem terintegrasi seperti di Cekungan Permian, AS.
"Kami berusaha mengembangkan sumber daya manusia yang siap untuk bisnis yang non-konvensional ini," imbuhnya.
Selain itu, Pertamina juga menggarap lapangan minyak yang sudah tua dan meningkatkan produksinya melalui teknologi enhanced oil recovery (EOR). Oki menyebutkan potensinya di Lapangan Minas, Blok Rokan, saja mencapai 4 miliar barel.
"Untungnya, kami memiliki proyek percontohan yang sukses untuk chemical EOR. Kami masih memiliki sekitar 4 miliar barel di satu lapangan di Minas. Ini adalah pekerjaan rumah lain yang kami lakukan," jelas Oki.
Tidak hanya chemical EOR, Oki juga menyebutkan Pertamina memiliki potensi ekspansi lapangan thermal EOR, bahkan menjadi salah satu yang terbesar di dunia.
"Kami mencoba melakukan ekspansi dengan bekerja sama dengan perusahaan afiliasi kami, PLN, dalam hal listrik. Dan yang terakhir, tentu saja, kami mencoba menyediakan layanan sumur dan lainnya untuk meningkatkan produksi," kata Oki.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar