Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap penyebab panas tak normal di sejumlah wilayah Indonesia akhir-akhir ini. Khususnya di Jakarta, yang suhunya bahkan sempat menyentuh 35.2 derajat celsius, Rabu (15/10). "Kalau awal Oktober itu posisi matahari tepat di atas kepala, sudutnya 90 derajat, radiasi matahari maksimum," kata Ardhi Adhary Arbain, Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN pada Kamis (16/10). Menurut Ardhi, fenomena ini wajar terjadi dua kali dalam setahun, yakni pada April dan Oktober. "Kalau awal Oktober itu posisi matahari tepat di atas kepala, radiasi maksimum. Setelahnya enggak sepanas ini," ujarnya. Biasanya suhu di Jakarta berada di bawah 30 derajat Celsius, namun pada Rabu (15/10) sempat menyentuh 35,2 derajat Celsius. Ardhi menegaskan, kondisi panas ini hanya bersifat sementara dan akan kembali normal setelah Oktober. 📸: Dok. kumparan/Jamal Ramadhan. Follow WhatsApp Channel kumparan untuk dapat Informasi terpercaya dikirim langsung ke WhatsApp kamu. Ketik kum.pr/WAchannel di browser kamu sekarang, agar bisa share informasi tanpa ragu. #focus#suhupanas#news#oneliner#cuaca#suhu#suhuindonesia#bmkg#cuacapanas#info#beritaterkini#berita#infoterkini#bicarafaktalewatberita#kumparan
Fenomena panas melanda sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Jakarta. BMKG menyebut suhu tinggi hingga 37,6 derajat Celsius ini dipengaruhi pergerakan angin Monsoon Australia yang membawa udara kering dan hangat. Namun, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memastikan kondisi udara di Jakarta masih dalam batas normal dan diperkirakan akan turun hujan ringan dalam beberapa hari ke depan. Meski begitu, warga Jakarta tetap merasakan teriknya cuaca dalam keseharian. Banyak yang mengeluh baru mandi sudah kembali berkeringat saat hendak berangkat kerja. Beberapa warga memilih membawa kipas tangan elektronik atau air dingin untuk bertahan dari panas, bahkan ada yang mandi hingga tiga kali sehari. Di tengah suhu yang menyengat, Pram berharap warga tetap tenang dan menjaga suasana hati. "Yang penting Jakarta bahagia, hatinya enggak panas," ujarnya. 📸: Dok.Shutterstock/Ilustrasi, kumparan/Amira, Nasywa, Iqbal Firdaus, Jamal Ramadhan. Follow WhatsApp Channel kumparan untuk dapat Informasi terpercaya dikirim langsung ke WhatsApp kamu. Ketik kum.pr/WAchannel di browser kamu sekarang, agar bisa share informasi tanpa ragu. #focus#suhupanas#news#vidol#cuaca#suhu#suhuindonesia#bmkg#cuacapanas#info#beritaterkini#berita#infoterkini#bicarafaktalewatberita#kumparan
Di mana-mana berasa gerah, lebih panas ketimbang biasanya, kata BMKG bakal sampai November. Data BMKG pada 15 Oktober 2025 kemarin, di Majalengka, Jabar, dan Boven Digoel, Papua, suhu bahkan mencapai di atas 37,3-37,6 derajat Celsius. Di wilayah lain, Surabaya, Jatim, sampai Bima, NTB, suhunya 36-37 derajat. Sementara di Jakarta, menurut stasiun pengamatan di Kemayoran, suhu mencapai 35,2 derajat. Biasanya, suhu panas di Jakarta sekitar 32-34 derajat. BMKG memperkirakan suhu panas ini bakal terjadi sampai November mendatang. Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, bilang suhu panas ini disebabkan oleh posisi gerak semu matahari di bulan Oktober yang berada di selatan garis khatulistiwa. Faktor lainnya, penguatan angin timuran atau Monsun Australia. Angin itu bawa massa udara kering dan hangat, jadi pembentukan awan minim. Radiasi matahari pun sampai ke permukaan bumi secara maksimal. 📸: Dok. AFP/Ilustrasi, BMKG, Shutterstock/Ilustrasi. Follow WhatsApp Channel kumparan untuk dapat Informasi terpercaya dikirim langsung ke WhatsApp kamu. Ketik kum.pr/WAchannel di browser kamu sekarang, agar bisa share informasi tanpa ragu. #focus#suhupanas#news#svl#cuaca#suhu#suhuindonesia#bmkg#cuacapanas#info#beritaterkini#berita#infoterkini#bicarafaktalewatberita#kumparan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar