Ilustrasi pesawat Airbus. Foto: Manuel Esteban/Shutterstock
Airbus Indonesia menyatakan dukungannya terhadap pengembangan bioavtur atau Sustainable Aviation Fuel (SAF) buatan Pertamina. Hal ini karena SAF dinilai bisa mengurangi emisi karbon hingga 80 persen.
Senior Manager Business Growth Airbus Indonesia, Ridlo Akbar, menilai SAF merupakan solusi paling realistis untuk mendukung dekarbonisasi industri aviasi.
"Sebagai drop-in fuel, SAF dapat digunakan langsung tanpa perlu modifikasi pesawat atau infrastruktur bandara. Secara teknis, SAF mampu menurunkan emisi karbon hingga 80 persen dibandingkan bahan bakar fosil," kata Ridlo dalam keterangan tertulis, Senin (20/10).
Ia menjelaskan, saat ini pesawat Airbus mampu terbang dengan penggunaan SAF hingga 50 persen campuran. Ke depan, Airbus menargetkan pesawatnya mampu terbang menggunakan 100 persen SAF pada tahun 2030.
"Kami percaya dengan kolaborasi erat antara produsen bahan bakar, produsen pesawat, regulator dan pembuat kebijakan, serta operator maskapai, SAF dapat menjadi standar baru penerbangan global," ujarnya.
SVP Business Development PT Pertamina (Persero), Wisnu Medan Santoso, mengatakan pengembangan SAF menjadi bagian dari strategi jangka panjang Pertamina untuk memperkuat ketahanan energi nasional dan dekarbonisasi. Ia memastikan SAF Pertamina telah memenuhi standar internasional dan sudah diimplementasikan pada Pelita Air.
"Produk kami telah melewati fase uji coba penerbangan bersama Pelita Air dengan hasil yang sangat positif. Tanpa perlu modifikasi signifikan pada mesin pesawat, SAF kami menunjukkan performa yang stabil, aman, dan efisien," ujarnya.
Selain Pelita Air, Garuda Indonesia juga sudah menggunakan SAF pada penerbangan reguler. Heri Martanto, Caretaker Corporate Sustainability Group Head Garuda Indonesia, mengatakan SAF digunakan untuk rute Amsterdam–Jakarta.
"Hasil uji menunjukkan performa mesin tetap stabil dan aman. SAF memberikan kontribusi nyata dalam penurunan emisi karbon hingga 80 persen," ujarnya.
Ke depan, Garuda Indonesia juga akan terus memperbanyak penggunaan SAF untuk berbagai rute penerbangan. "Kami menargetkan pada tahun 2027 Garuda Indonesia sudah menggunakan SAF tidak hanya di bandara internasional, tetapi juga di bandara domestik," ujarnya.
Direktur Utama Pertamina Patra Niaga, Mars Ega Legowo Putra, berkomitmen untuk berada di lini depan dalam pengembangan energi bersih untuk industri penerbangan. Keberadaan SAF menjadi bagian dari komitmen Pertamina untuk membangun ekosistem energi hijau, berdaya saing, dan mendukung pencapaian Net Zero Emission 2060.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar