Petir terpanjang yang menyambar dari Texas ke Kansas pada musim gugur 2017 tercatat memecahkan rekor sebagai sambaran petir terpanjang di dunia.
Fenomena langka ini terjadi saat badai besar melanda Great Plains, Amerika Utara, pada Oktober 2017. Dalam satu kilatan megaflash, petir menjalar sejauh 829 kilometer, melampaui rekor sebelumnya sejauh 61 kilometer. Bayangkan, jarak itu hampir setara dengan Jakarta ke Surabaya.
"Kami menyebutnya megaflash lightning, dan baru sekarang kita mulai memahami bagaimana dan mengapa bisa terjadi," ujar Randy Cerveny, ilmuwan geografi dari Arizona State University sekaligus anggota Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) seperti dikutip Science Alert.
Ia menambahkan, bukan tidak mungkin ada sambaran petir yang lebih ekstrem di luar sana, dan kita hanya tinggal menunggu waktu hingga teknologi mampu merekamnya.
Kilatan cahaya tersebut merambat hampir ke seluruh awan. Foto: GTRI/Michael Peterson
Apa Itu Megaflash Lightning?
Petir, salah satu fenomena alam paling memukau, terjadi ketika kondisi atmosfer menciptakan gesekan antarpartikel yang menghasilkan muatan listrik. Saat muatan itu menumpuk hingga tak tertahankan, terjadilah pelepasan energi dalam bentuk kilatan petir yang bisa memuat jutaan volt.
Kebanyakan sambaran petir hanya menempuh jarak kurang dari 16 kilometer dan bergerak vertikal. Namun dalam kasus megaflash, kilatan listrik menjalar horizontal di dalam awan, dan jika sistem awannya cukup besar, sambaran petirnya bisa membentang sangat jauh.
Sebelumnya, rekor petir terpanjang dipegang oleh kilatan pada 29 April 2020 yang menjalar sejauh 768 kilometer melintasi Texas, Louisiana, dan Mississippi.
Kedua sambaran petir terpanjang itu terdeteksi oleh satelit cuaca GOES-16 dan GOES-17 milik NOAA, yang dilengkapi alat Geostationary Lightning Mapper (GLM) untuk memantau aktivitas petir secara terus-menerus dari orbit geostasioner.
Citra satelit komposit menunjukkan perkembangan kilatan petir dari waktu ke waktu, dengan simbol merah dan biru menunjukkan lokasi terjadinya hantaman di darat. Foto: GTRI/Michael Peterson
Menariknya, sambaran petir tahun 2017 sebenarnya sudah direkam sejak awal. Namun, baru terungkap pada 2022 setelah tim ilmuwan yang dipimpin Michael Peterson dari Georgia Institute of Technology meninjau ulang data satelit tersebut.
Pengukuran megaflash tidak bisa dilakukan sembarangan. Dibutuhkan kombinasi data satelit dan data dari permukaan bumi untuk merekonstruksi bentuk dan ukuran sambaran dalam tiga dimensi, untuk memastikan bahwa itu benar-benar satu sambaran, bukan sambaran terpisah.
Fenomena ini sering luput dari pengamatan karena megaflash biasanya terjadi di balik awan besar.
Bukan kebetulan jika dua rekor petir terpanjang ini terjadi di wilayah Great Plains. Kawasan merupakan hotspot utama bagai badai petir sistem konvektif mesoskal, yakni tipe badai besar yang ideal untuk terbentuknya megaflash.
Peterson mengatakan, rekaman dari satelit geostasioner telah membuka peluang baru dalam mengamati petir ekstrem.
"Sekarang sebagian besar hotspot megaflash di dunia sudah tercakup satelit geostasioner, dan teknik pemrosesan datanya pun semakin canggih," ungkapnya.
Ia juga yakin, semakin lama data dikumpulkan, semakin besar peluang kita untuk mengamati jenis petir paling langka dan ekstrem di Bumi, serta mempelajari dampaknya terhadap kehidupan manusia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar