Presiden AS Donald Trump melambaikan tangan saat berjalan menuju Helikopter Marine One di Gedung Putih, Washington DC, Amerika Serikat, Kamis (22/5/2025). Foto: Mandel Ngan/AFP
Pemerintah Amerika Serikat mencatat lonjakan pendapatan bea cukai harian hingga mencapai rekor USD 16,5 miliar atau sekitar Rp 268,3 triliun (kurs Rp 16.261, Minggu 23 Mei pukul 10.00 WIB) pada bulan April.
Mengutip Bloomberg, kenaikan tajam ini mencerminkan dampak penuh dari aturan tarif universal yang baru diterapkan. Sebagian besar penerimaan bea cukai berasal dari pembayaran bulanan yang dilakukan importir untuk barang-barang yang diterima pada bulan April.
"Pendapatan harian dari bea cukai AS naik ke rekor USD 16,5 miliar karena importir Amerika melakukan pembayaran bulanan kepada pemerintah untuk barang yang diterima pada bulan April," tulis laporan Bloomberg.
Dalam data yang dirilis oleh Departemen Keuangan AS pada Jumat, tercatat sekitar dua pertiga importir membayar bea masuk secara kolektif sebulan setelah barang mereka tiba di pelabuhan.
Dengan batas waktu pembayaran jatuh pada hari Rabu, bulan April menjadi bulan pertama yang benar-benar menunjukkan besarnya dampak kebijakan tarif baru tersebut.
Meski mencatat rekor pendapatan, data menunjukkan bahwa kebijakan tarif Trump masih belum mampu menutup sepenuhnya kebutuhan anggaran.
Suasana bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Long Beach, California, Amerika Serikat, Rabu (2/4/2025). Foto: Frederic J. Brown/AFP
Presiden berharap tarif dapat menjadi sumber pemasukan besar untuk menutupi biaya pemotongan pajak besar-besaran yang baru saja disahkan melalui rancangan undang-undang di DPR.
Namun, pada tingkat saat ini, pemerintah diperkirakan masih kekurangan sekitar USD 2 miliar per hari dari target yang diharapkan. Di sisi lain, arah kebijakan perdagangan Trump masih terus berubah.
Ancam Berlakukan Tarif ke Apple
Ia kembali mengancam akan memberlakukan tarif tambahan, termasuk terhadap produk-produk dari Uni Eropa serta barang elektronik dari Apple dan Samsung jika dua raksasa teknologi itu tidak memindahkan produksinya ke AS.
Trump juga sempat mengumumkan rencana untuk mengenakan tarif balasan terhadap hampir seluruh negara di dunia, meskipun kemudian menunda implementasinya selama 90 hari di tengah gejolak pasar obligasi pemerintah.
Sebagian besar pendapatan baru berasal dari pungutan tarif sebesar 10 persen untuk banyak negara, ditambah tarif 25 persen untuk produk baja, aluminium, dan kendaraan.
Sementara itu, tarif untuk barang asal China mengalami lonjakan signifikan dari 20 persen saat awal masa jabatan Trump, pernah mencapai puncak 145 persen, dan kini berada di kisaran 51 persen.
Meskipun data Departemen Keuangan tidak merinci pendapatan berdasarkan jenis tarif, jumlah totalnya juga mencakup pajak cukai lain yang dipungut oleh Departemen Keamanan Dalam Negeri.
Dengan bea dan cukai bulan April yang telah dibukukan, total pendapatan yang diperoleh pemerintah AS diperkirakan mencapai USD 22,3 miliar bulan ini, angka tertinggi dalam sejarah jika dihitung secara nominal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar