Oct 15th 2023, 18:05, by Ave Airiza Gunanto, kumparanBISNIS
Kepala Ekonom Bank Perrmata Josua Pardede. Foto: Selfy Sandra Momongan/kumparan
Neraca perdagangan Indonesia diproyeksi bakal surplus lagi. Adapun, Badan Pusat Statistik (BPS) bakal merilis data neraca perdagangan Indonesia periode September 2023 besok, Senin (16/10).
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengungkapkan, surplus perdagangan diperkirakan masih akan berlanjut. MeskI diproyeksikan akan menyusut.
"Surplus yang diharapkan diperkirakan sekitar USD 2,15 miliar, turun dari USD 3,13 miliar pada Agustus 2023," kata Josua kepada kumparan, Minggu (15/10).
Josua bilang, penurunan surplus perdagangan bulan September 2023 tersebut dipengaruhi oleh kinerja ekspor yang melemah akibat penurunan harga komoditas utama dan potensi risiko perlambatan ekonomi global.
Di sisi lain, kinerja impor juga diperkirakan akan menurun, tetapi tidak separah ekspor. Hal itu disebabkan oleh harga minyak dunia yang lebih tinggi dan permintaan domestik yang relatif kuat.
Josua memproyeksi ekspor Indonesia pada bulan September 2023 akan mengalami kontraksi sebesar 13,46 persen yoy. Beberapa faktor yang berkontribusi terhadap kontraksi ekspor tersebut antara lain pelemahan ekonomi Tiongkok dan berlanjutnya penurunan harga komoditas.
"Aktivitas impor Indonesia diperkirakan akan mengalami kontraksi pada tingkat yang lebih rendah dibandingkan ekspor, dengan penurunan-2,59 persen yoy," ungkap Josua.
Turunnya kinerja impor disebabkan oleh harga minyak yang lebih tinggi akibat pemangkasan produksi minyak OPEC+ dan konflik Israel-Hamas. Serta peningkatan permintaan minyak selama tiga bulan menjelang liburan Natal dan Tahun Baru.
Ilustrasi neraca perdagangan. Foto: Shutterstock
Josua melanjutkan, penurunan kinerja ekspor yang disebabkan oleh penurunan harga komoditas akibat melemahnya permintaan global, diproyeksikan akan diimbangi oleh kinerja impor yang relatif lebih kuat, sebagai konsekuensi dari ketahanan yang ditunjukkan oleh ekonomi domestik dan kenaikan harga minyak.
"Kami memperkirakan transaksi berjalan pada tahun 2023 akan mencatat defisit kecil sebesar-0,28 persen dari PDB dari surplus 0,96 persen dari PDB pada tahun 2022," tandasnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar