Search This Blog

Cerita Pilu Mahasiswa Palestina di Indonesia Putus Komunikasi dengan Keluarga

kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
Cerita Pilu Mahasiswa Palestina di Indonesia Putus Komunikasi dengan Keluarga
Oct 13th 2023, 10:37, by Arfiansyah Panji Purnandaru, kumparanNEWS

Keluarga dan kerabat berduka di samping jenazah warga Palestina yang tewas dalam serangan Israel, di sebuah rumah sakit di Kota Gaza, Rabu (11/10/2023). Foto: Mohammed Salem/REUTERS
Keluarga dan kerabat berduka di samping jenazah warga Palestina yang tewas dalam serangan Israel, di sebuah rumah sakit di Kota Gaza, Rabu (11/10/2023). Foto: Mohammed Salem/REUTERS

Serangan Israel di Jalur Gaza dan Tepi Barat, Palestina, telah menewaskan ribuan orang. Kementerian Kesehatan Palestina dalam keterangannya menyebut total korban tewas mencapai 1.448 jiwa, 447 di antaranya adalah anak-anak.

Situasi yang sulit juga dirasakan warga Gaza di luar negeri. Salah satunya adalah Mohammed Albohisi yang saat ini tengah kursus Bahasa Indonesia di FIB UGM. Rencananya, tahun depan Mohammed akan mengambil program magister bioteknologi di UGM.

"Jadi orang-orang di sana sudah menderita, mereka sudah menderita selama bertahun-tahun dan sekarang bahkan lebih buruk lagi, karena saat ini, ada begitu banyak korban, lebih dari 1.000 orang sejauh ini, ada begitu banyak orang yang terluka. Ada banyak rumah hancur," kata Mohammed saat ditemui awak media di lingkungan kampus UGM, Kamis (12/10) sore.

"Dan sekarang bahkan kami tidak punya Wi-Fi untuk berkomunikasi dengan keluarga kami," jelasnya.

Mohammed Albohisi mahasiswa asal Gaza, Palestina, yang tengah menuntut ilmu di Indonesia. Foto: Arfiansyah Panji/kumparan
Mohammed Albohisi mahasiswa asal Gaza, Palestina, yang tengah menuntut ilmu di Indonesia. Foto: Arfiansyah Panji/kumparan

Mohammed dibesarkan di kota kecil di selatan Gaza, Deir-al Balah. Keluarganya lalu pindah ke pusat Kota Gaza. Mohammed berkesempatan menempuh pendidikan di Yogyakarta karena mendapat beasiswa dari pemerintah Indonesia.

Terputusnya komunikasi dengan keluarga di Gaza membuat Mohammed tak bisa mengetahui keadaan keluarganya di sana.

"Kita tidak bisa mengetahui apakah mereka aman atau tidak, bahkan masyarakat di sana pun tidak bisa saling berkomunikasi dengan mudah. Terlalu berbahaya pindah dari satu tempat ke tempat lain, karena Anda bisa kena serangan, Anda bisa terbunuh. Dan tahukah Anda, saat ini sedang terjadi pemboman besar-besaran di Gaza dan sangat tidak aman, benar-benar membabi buta, sehingga bisa menghancurkan apa saja," katanya.

Kondisi sulit di Gaza sebenarnya tidak hanya dialami kali ini saja. Mohammed kecil juga merasakan sulitnya kehidupan di Gaza. Katanya, banyak situasi yang tidak manusiawi. Berperang dari waktu ke waktu, sekolah hancur, rumah juga hancur. Katanya, serangan bisa datang kapan pun.

"Kehidupan di sana sangat sulit, seperti hidup di penjara terbuka terbesar di dunia dan terutama bagi generasi muda saya karena kita merasakan blokade di Gaza. Gaza diblokir setelah tahun 2006. Jadi ini seperti penjara besar dengan lebih dari dua juta orang tinggal di dalamnya. Situasi yang sangat sulit. Jadi sebenarnya kita melihat situasi saat ini di Gaza, memang tidak pernah lebih baik sebelumnya. Maksud saya, dulunya tidak terlalu stabil dan sekarang menjadi lebih buruk. Sebenarnya lebih buruk. Dan sekarang ini yang terburuk," katanya.

Mohammed Albohisi mahasiswa asal Gaza, Palestina, yang tengah menuntut ilmu di Indonesia. Foto: Arfiansyah Panji/kumparan
Mohammed Albohisi mahasiswa asal Gaza, Palestina, yang tengah menuntut ilmu di Indonesia. Foto: Arfiansyah Panji/kumparan

Untuk mengecek kondisi keluarga dan teman di Gaza, Mohammed hanya bisa mengandalkan pemberitaan dari media. Termasuk kabar terkini tak ada air dan listrik selama tiga hari di Gaza.

"Dan sekarang rumah sakit kehabisan pasokan listrik dan jika bantuan terus dihalangi untuk memasuki Gaza, Anda tahu, apa yang akan terjadi. Ribuan orang akan mati," katanya.

Mohammed mengaku terakhir bisa berkomunikasi dengan keluarganya adalah dua hari yang lalu. Saat itu keluarganya mengaku takut karena situasi sangat buruk.

"Mereka bahkan mengatakan kepada saya hal semacam ini 'pengeboman ini yang belum pernah kami lihat sebelumnya'," katanya.

"Maksud saya, Anda berbicara tentang orang-orang yang menyaksikan banyak perang dalam hidup mereka, tapi kali ini berbeda dan lebih kejam, banyak orang yang tidak bersalah, orang-orang sekarat. Dulu pergi menjauh dari perbatasan mungkin lebih aman. Tapi sekarang serangan terjadi di mana-mana, jadi tidak ada tempat yang bisa menyelamatkan kita sekarang," jelasnya.

Keluarga dan kerabat berkumpul di samping jenazah warga Palestina yang tewas dalam serangan Israel, di sebuah rumah sakit di Kota Gaza, Rabu (11/10/2023). Foto: Mohammed Salem/REUTERS
Keluarga dan kerabat berkumpul di samping jenazah warga Palestina yang tewas dalam serangan Israel, di sebuah rumah sakit di Kota Gaza, Rabu (11/10/2023). Foto: Mohammed Salem/REUTERS

Mohammed sendiri tampak begitu mengkhawatirkan keluarganya. Terlebih dia seorang paman dengan tiga keponakan yang masih anak-anak.

"Mereka masih anak-anak. Saya komunikasi dengan kakak perempuan saya. Dia sangat mengkhawatirkan mereka (tiga anaknya), kadang-kadang terutama untuk anak-anak, situasi seperti ini sangat berdampak, sampai menangis bahkan," katanya.

Tak benar jika disebutkan ada tempat yang aman di Gaza. Menurutnya, distrik ini terlalu kecil. Mohammed pun mengaku kehilangan banyak tetangga termasuk salah satu gurunya di sana.

"Minimal seseorang, dia kehilangan seorang teman dan atau dia kehilangan guru atau bahkan dia kehilangan ibu atau ayah. Ini sebenarnya sangat menakutkan. Anda tahu, dan di Gaza, seperti kalian, wilayahnya sangat kecil, semua orang saling kenal," katanya.

"Setiap dari kita berusaha untuk menguatkan satu sama lain, seperti saudara perempuanku, ayahku, ibuku, saudara laki-lakiku semuanya berusaha untuk saling mendukung di masa yang sangat sulit ini karena saat ini sangatlah penting. Maksud saya, ini mungkin ironis, tapi kami mencoba optimis," katanya.

Media files:
01hcex8z69v47nara4gp1qzebq.jpg (image/jpeg)
You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar