Warga menunjukkan sumur yang digunakan untuk pam dusun untuk mengatasi kekeringan dengan ngeleb (membasahi daratan) di sekitar sumur dengan air dari Kali Progo, Selasa (3/10/2023). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
Musim kemarau panjang tahun ini menyebabkan kekeringan di sejumlah wilayah di Kabupaten Sleman. BPBD mencatat per Oktober 2023, total ada 1.184 jiwa yang terdampak.
"Jumlah terdampak 243 KK, jumlah jiwa 1.184," kata Kepala Pelaksana BPBD Sleman, Makwan, dalam laporannya, Selasa (10/10).
Jika berdasarkan wilayah maka ada empat kecamatan yang terdampak kekeringan.
Pertama, di Kapanewon atau Kecamatan Tempel, kekeringan terjadi di Kalurahan Banyurejo meliputi Pedukuhan Jambean, Pedukuhan Tangisan, dan Pedukuhan Plambongan.
Lalu di Kalurahan Margorejo, Tempel, lokasi yang terdampak kekeringan adalah Puskesmas Tempel 1.
Di Kecamatan Pakem, kekeringan terjadi di 2 pedukuhan dan 1 sekolah di Kalurahan Hargobinangun yakni Pedukuhan Kaliurang Barat, Kaliurang Timur, dan SMPN 2 Pakem.
"Di SMPN 2 Pakem air bersih dari PAM Swadaya PT AMI sudah menyala," kata Makwan.
Warga menunjukkan sumur yang digunakan untuk pam dusun untuk mengatasi kekeringan dengan ngeleb (membasahi daratan) di sekitar sumur dengan air dari Kali Progo, Selasa (3/10/2023). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
Selanjutnya di Kecamatan Moyudan kekeringan terjadi di Dusun Sejati, Sumberarum dan Nulisan, Sumberagung.
Untuk di Sejati warga sudah bisa mengatasi kekeringan dengan ngeleb (membasahi daratan) untuk meresapi sumur dengan air dari Kali Progo.
Terakhir di Kecamatan Ngaglik, kekeringan berdampak ke Puskesmas Ngaglik II.
Makwan menjelaskan sampai hari ini dropping air bersih masih terus dilakukan. "(Hari ini) pasang 5 hu lagi dan dropping (air bersih) Banyurejo," pungkasnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar