Search This Blog

Tradisi Ekstrem Suku Korowai: Ibu Hamil Dianggap Bawa Penyakit dan Diasingkan

kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
Tradisi Ekstrem Suku Korowai: Ibu Hamil Dianggap Bawa Penyakit dan Diasingkan
Jun 2nd 2023, 07:57, by Gitario Vista Inasis, kumparanTRAVEL

Anggota Suku Korowai. Foto: GUDKOV ANDREY/Shutterstock
Anggota Suku Korowai. Foto: GUDKOV ANDREY/Shutterstock

Tanah Papua enggak hanya dikenal dengan keindahan ragam tempat wisatanya. Di sana tersimpan banyak cerita dari suku-suku unik yang masih terjaga adat dan istiadat-nya.

Salah satunya adalah Suku Korowai yang mendiami wilayah Kabupaten Merauke, Asmat, Mappi, hingga Boven Digoel. Sebagai salah satu suku terbesar di Papua, Suku Korowai memiliki corak kehidupannya tersendiri.

Selain menggantungkan hidupnya dengan berburu dan hidup berpindah-pindah atau nomaden, suku ini juga masih memiliki satu tradisi yang enggak kalah uniknya. Tradisi ini berkaitan dengan proses lahirnya seorang anak di suku tersebut.

Ibu dan anak Suku Korowai. Foto: GUDKOV ANDREY/Shutterstock
Ibu dan anak Suku Korowai. Foto: GUDKOV ANDREY/Shutterstock

Bukan disambut dengan penuh suka cita, ibu hamil di Suku Korowai justru akan diasingkan oleh keluarga dan anggota suku mereka. Dikutip dari berbagai sumber, menurut keyakinan merek, ibu hamil dianggap terkena "penyakit" atau roh jahat.

Penyakit ini disebut bisa menyebar ke orang lain di sekitarnya, termasuk suami dan anak-anaknya. Oleh sebab itu, ibu hamil akan diasingkan ke hutan yang jauh dari pemukiman warga.

Diasingkan Tanpa Ditemani Siapa pun

Pengasingan itu bertujuan untuk menguji keberanian dan ketangguhan ibu hamil. Meski demikian, hal ini tentu sangat menyedihkan.

Sebab, saat melahirkan, para ibu hamil tidak mendapatkan bantuan dari siapa pun, mereka hanya mengandalkan apa yang ada di dalam sekitar.

Suku Korowai yang hidup di rumah-rumah panggung. Foto: Sergey Uryadnikov/Shutterstock
Suku Korowai yang hidup di rumah-rumah panggung. Foto: Sergey Uryadnikov/Shutterstock

Mereka percaya bahwa jika ibu hamil bisa hidup di hutan sendirian, maka ia akan melahirkan anak yang sehat dan kuat. Jika tidak, maka ia akan mati bersama bayinya.

Pengasingan ini biasanya berlangsung selama beberapa bulan, hingga ibu hamil siap melahirkan. Bila waktunya dianggap telah tiba, para wanita anggota Suku Korowai akan datang untuk mengambil bayi yang sudah dilahirkan sebagai penerus berikutnya.

Anggota Suku Korowai. Foto: Sergey Uryadnikov/Shutterstock
Anggota Suku Korowai. Foto: Sergey Uryadnikov/Shutterstock

Meski demikian, teknik melahirkan sendirian ini bukanlah tanpa risiko. Sebab, banyak perempuan Suku Korowai yang harus meregang nyawa akibat tradisi tersebut.

Oleh sebab itu, pemerintah setempat telah berupaya untuk mengubah tradisi melahirkan Suku Korowai, dengan membangun puskesmas dan posyandu.

Selain itu, beberapa LSM dan gereja juga turut memberi edukasi dan bantuan kepada masyarakat Korowai tentang persalinan yang aman.

Media files:
01h1rpyfb5gpv7dt3m04hh0ay9.jpg (image/jpeg)
You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Popular Posts