May 29th 2023, 18:11, by Nicha Muslimawati, kumparanBISNIS
Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo di Gampong Blang Miro, Kecamatan Simpang Tiga, Kabupaten Aceh Besar. Foto: Kementan RI
Vietnam berencana memangkas kuota eksporberas sebesar 44 persen menjadi 4 juta ton pada 2030 demi memenuhi pasokan dalam negeri. Angka itu jauh lebih rendah dibanding kuota ekspor beras 2022 yang mencapai 7,1 juta ton.
Indonesia menjadi negara langganan yang membeli beras dari Vietnam. Pada akhir 2022 dan awal 2022, Indonesia mengimpor 500 ribu ton beras yang didatangkan dari sejumlah negara termasuk Vietnam.
Menanggapi hal tersebut, Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo memastikan stok beras di Tanah Air berlimpah. Sehingga keputusan Vietnam memotong jumlah kuota beras ekspor pada 2030 mendatang tak berdampak pada kebutuhan stok beras di RI.
"Beras kita cukup banyak, siapa bilang? coba lihat data BPS. Kita for stock-nya juga cukup dan kemarin juga sudah ada yang masuk," ujar Syahrul Yasin Limpo saat ditemui di Kompleks Istana Negara, Senin (29/5).
Yasin memastikan tidak masalah jika Vietnam memutuskan untuk memotong 44 persen dari kuota ekspor di 2030. Ia mengatakan, jumlah pasokan beras dalam negeri sudah mencukupi untuk memenuhi kebutuhan cadangan beras pemerintah.
Dirjen Perkebunan Kementerian Pertanian, Kasdi Subagiono, mengatakan akan memprioritaskan pemenuhan beras dari pasokan dalam negeri. Ia memastikan akan memenuhi jumlah cadangan beras yang diambil dari stok panen raya.
"Prinsipnya pemenuhan dalam negeri dulu, aku bilang ke Pak Dirjen (Dirjen Tanaman Pangan) disiapkan itu, enggak mungkin dalam negeri kurang terus," ungkap Kasdi.
Vietnam memutuskan untuk memangkas kuota ekspor untuk memastikan ketahanan pangan dalam negeri, melindungi lingkungan, dan beradaptasi dengan perubahan iklim. Vietnam sendiri merupakan negara pengekspor beras terbesar ketiga di dunia setelah India dan Thailand.
"Langkah tersebut untuk meningkatkan ekspor beras berkualitas tinggi, memastikan ketahanan pangan dalam negeri, melindungi lingkungan dan beradaptasi dengan perubahan iklim," demikian kutipan dokumen pemerintah Vietnam pada 26 Mei 2023.
Dengan pemotongan kuota ekspor tersebut, Vietnam diperkirakan akan kehilangan pendapatan dari ekspor beras sebesar USD 2,62 miliar per tahun pada 2030. Pendapatan itu turun dari USD 3,45 miliar dari tahun 2022.
Vietnam akan mendiversifikasi pasar ekspor beras untuk mengurangi ketergantungannya pada negara mana pun. Filipina telah lama menjadi pengimpor beras terbesar di Vietnam, menyumbang 45 persen dari pengirimannya tahun lalu.
Menurut data bea cukai Vietnam, ekspor beras dari negara tersebut dalam empat bulan pertama tahun ini naik 40,7 persen dari tahun sebelumnya menjadi 2,9 juta ton. Indonesia dan Filipina menjadi negara langganan yang membeli beras dari Vietnam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar