Mar 20th 2023, 11:37, by Zuhri Noviandi, kumparanBISNIS
com-Ilustrasi LPG. Foto: Dok. Pertamina
Sejumlah pedagang di wilayah Kota Banda Aceh mengeluhkan kondisi harga gas LPG 3 kg yang dijual di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) mencapai Rp 40 ribu.
Kondisi tersebut dinilai sangat merugikan para pedagang, khususnya mereka penjual jajanan (kuliner) di pinggir jalan mengingat hampir memasuki Ramadhan.
Salah seorang penjual nasi di kawasan Lapangan Tugu, Darussalam, Siti mengaku selain harga mahal dirinya juga kesulitan memperoleh gas LPG 3 kg tersebut.
Setiap harinya, Siti membutuhkan dua hingga tiga tabung untuk menjalankan usahanya. Namun, selama ini dia hanya mendapat bagian satu tabung setiap minggu dari pangkalan.
"Kita dapatkan di pangkalan hanya satu dalam seminggu, sementara kita perhari butuh LPG 3 kg sebanyak tiga tabung, terpaksa harus kita beli di kios-kios pengecer yang harganya mencapai Rp.38.000," katanya, Senin (20/3).
Sejumlah pedagang kuliner di Banda Aceh yang mengeluhkan harga gas LPG 3 kg di atas HET. Foto: Zuhri Noviandi/kumparan
Selain itu, menurut Siti, selama ini dirinya juga harus mengantre di pangkalan untuk memperoleh satu tabung tersebut. Tak jarang dia harus pulang dengan tangan kosong.
"Kadang sering mengecewakan, karena setelah sekian lama menunggu, LPG juga tidak bisa kita dapatkan karena sudah habis," ujarnya.
Hal senada juga diungkapkan Fatimah, seorang penjual gorengan di Darussalam, menurutnya LPG 3 kg di pangkalan rutin masuk setiap minggunya. Namun, karena stok terbatas ia hanya mendapat satu tabung saja.
"Kami tidak tau mau mengadu ke mana, kami jualan untungnya hanya sedikit, kalau kami gunakan LPG yang 12 kilogram akan merugi kami, karena harganya sangat mahal," katanya.
Sejumlah pedagang kuliner di Banda Aceh yang mengeluhkan harga gas LPG 3 kg di atas HET. Foto: Zuhri Noviandi/kumparan
Salah seorang pedagang lainnya, Nurhafni, meminta pemerintah Aceh untuk memberi alokasi LPG 3 kg secara khusus bagi mereka penjual kuliner demi bisa tetap berjualan mencari nafkah.
"Jika LPG 3 kg di jual Rp 25 ribu per tabung terasa sudah cukup baik bagi kami, dari pada sekarang harus membeli mencapai Rp.40 ribu. Sangat tidak wajar bila dibandingkan harga yang di tetapkan pemerintah hanya Rp.18.000 permtabung," sebutnya.
Nurhafni berharap, pemerintah bisa memantau kembali penjualan LPG 3 kg karena sangat memberatkan mereka jika setiap hari harus mengeluarkan modal banyak.
"Di pangkalan LPG tidak cukup, tapi di kios-kios banyak dan dijual dengan harga tinggi, ini dari mana," ucap pedagang bakso tersebut.
Sejumlah pedagang kuliner di Banda Aceh yang mengeluhkan harga gas LPG 3 kg di atas HET. Foto: Zuhri Noviandi/kumparan
Menyikapi hal tersebut, Himpunan Wiraswasta Minyak dan Gas (Hiswana Migas) Aceh, meminta pemerintah untuk menertibkan pengecer illegal. Sebab, pihaknya juga menemukan penjualan gas LPG 3 kg di atas HET yaitu mencapai Rp 40 ribu.
"Sejumlah pedagang kuliner di kawasan Darussalam mengeluh, harga LPG 3 Kg mencapai Rp 38.000 hingga Rp 40.000, jauh dari harga yang di tetapkan pemerintah yaitu Rp 18.000," katanya.
Menurutnya, pedagang mengeluh sulitnya mendapatkan LPG 3 kg di pangkalan karena kuota terbatas, bahkan mereka lebih mudah memperolehnya di kios-kios pengecer dengan harga dua kali lipat.
"Ini sangat aneh, dari mana LPG 3 kg yang dijual di kios-kios, yang seharusnya LPG 3 kg hanya di jual di pangkalan," ucapnya.
Karena itu, Nahrawi mendesak instansi terkait untuk memperketat pengawasan peredaran LPG 3 kg di Aceh, sehingga LPG yang diperuntukkan untuk masyarakat miskin tersebut benar-benar tepat sasaran.
"Apalagi beberapa hari lagi akan memasuki bulan suci Ramadhan, tingkat kebutuhan LPG akan lebih banyak. Jika tidak di perketat pengawasannya, saya khawatir bulan Ramadhan usaha mikro khususnya para pedagang kuliner akan semakin sulit mendapatkan LPG melon tersebut," pungkasnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar