Bulan purnama muncul di atas Sobornaya, Masjid Katedral Moskow di Moskow, Rusia, Minggu (22/8). Foto: Kirill KUDRYAVTSEV/AFP
Ambisi Rusia untuk kembali mendominasi antariksa tampaknya semakin membara. Negeri Beruang Merah itu berencana menempatkan pembangkit listrik tenaga nuklir di Bulan dalam satu dekade mendatang, tepatnya pada tahun 2036.
Langkah strategis ini diambil untuk menyuplai energi bagi program luar angkasa mereka serta stasiun riset gabungan yang digarap bersama China. Hal ini terjadi di tengah perlombaan negara-negara adidaya mengeksplorasi satu-satunya satelit alami Bumi tersebut.
Sejak kosmonaut Soviet, Yuri Gagarin, menjadi manusia pertama di luar angkasa pada 1961, Rusia memang membanggakan dirinya sebagai kekuatan utama antariksa. Namun, dalam beberapa dekade terakhir, posisi mereka mulai disalip oleh Amerika Serikat (AS) dan China.
Reputasi Rusia bahkan sempat terpukul keras pada Agustus 2023 ketika misi tanpa awak Luna-25 gagal total dan menabrak permukaan Bulan saat mencoba mendarat. Belum lagi kehadiran Elon Musk yang merevolusi peluncuran kendaraan luar angkasa, bidang yang dulu menjadi spesialisasi Rusia.
Mengutip laporan Reuters, Rabu (24/12), badan antariksa negara Rusia, Roscosmos, menyatakan rencananya untuk membangun pembangkit listrik di Bulan pada 2036. Mereka telah menandatangani kontrak dengan perusahaan kedirgantaraan Lavochkin Association untuk merealisasikannya.
Meski Roscosmos tidak secara eksplisit menyebut kata "nuklir" dalam pernyataan awalnya, mereka menyebutkan proyek ini melibatkan Rosatom (korporasi nuklir negara Rusia) dan Institut Kurchatov (institut penelitian nuklir terkemuka di Rusia). Keterlibatan dua raksasa ini menjadi sinyal kuat bahwa pembangkit tersebut bertenaga nuklir.
Roscosmos menjelaskan bahwa tujuan utama pembangkit ini adalah untuk memberi daya pada program Bulan Rusia. Ini mencakup tenaga untuk kendaraan penjelajah (rover), observatorium, hingga infrastruktur Stasiun Riset Bulan Internasional (International Lunar Research Station) Rusia-China.
"Proyek ini merupakan langkah penting menuju penciptaan stasiun bulan ilmiah yang berfungsi secara permanen dan transisi dari misi satu kali ke program eksplorasi bulan jangka panjang," tulis Roscosmos dalam pernyataannya.
Kepala Roscosmos, Dmitry Bakanov, pada Juni lalu juga sempat menyinggung salah satu tujuan korporasi adalah menempatkan pembangkit nuklir di Bulan serta mengeksplorasi Venus.
Gerhana bulan terlihat di belakang Patung Kebebasan di U.S di Washington, AS. Foto: Joshua Roberts/REUTERS
AS Tak Mau Kalah
Rusia bukan satu-satunya pemain dalam rencana ini. Badan Antariksa AS, NASA, juga pernah menyatakan niatnya untuk menempatkan reaktor nuklir di Bulan pada kuartal pertama tahun fiskal 2030.
"Kita sedang berada dalam perlombaan ke Bulan, perlombaan dengan China. Dan untuk memiliki pangkalan di Bulan, kita butuh energi," ujar Menteri Transportasi AS, Sean Duffy, saat ditanya mengenai rencana tersebut pada Agustus lalu.
Duffy menambahkan, saat ini AS tertinggal dalam perlombaan ke Bulan. Menurutnya, energi sangat penting untuk menopang kehidupan di sana dan menjadi batu loncatan bagi manusia untuk menuju Mars.
Sebagai informasi, aturan internasional memang melarang penempatan senjata nuklir di luar angkasa. Namun, tidak ada larangan untuk menempatkan sumber energi nuklir di sana, selama mematuhi aturan tertentu.
Kenapa semua negara berlomba ke sana? Beberapa analis antariksa memprediksi adanya "demam emas" di Bulan. NASA memperkirakan ada jutaan ton Helium-3, isotop langka yang sangat berharga di Bumi.
Selain itu, rare earth metals, yang digunakan dalam ponsel pintar, komputer, dan teknologi canggih, juga tersedia di Bulan, termasuk scandium, yttrium, dan 15 lantanida lainnya.
Setiap Hari Ibu, saya selalu menemukan unggahan yang serupa: ucapan terima kasih, foto masa kecil, dan kalimat tentang pengorbanan seorang ibu yang tak terhingga. Semua terasa hangat dan tulus. Namun, di tengah perayaan itu, saya kerap bertanya-tanya, apakah kita benar-benar melihat kehidupan ibu apa adanya, atau hanya merayakan gambaran ideal yang kita anggap wajar sejak lama.
Di balik ucapan manis dan simbol kasih sayang, banyak ibu tetap menjalani hari yang sama seperti kemarin. Bangun lebih pagi, mengurus rumah, memastikan kebutuhan keluarga terpenuhi, lalu bekerja baik di dalam maupun di luar rumah. Semua dilakukan nyaris tanpa jeda. Beban ini sering disebut pengorbanan, padahal bagi banyak ibu, ia adalah rutinitas yang melelahkan dan jarang dipertanyakan.
Saya melihat sendiri bagaimana peran ibu tidak pernah tunggal. Seorang ibu bisa menjadi pengasuh utama, pengatur keuangan rumah tangga, pendamping pendidikan anak, sekaligus pencari nafkah. Peran-peran ini berjalan bersamaan, sering kali tanpa pembagian yang seimbang.
Ketika ibu merasa lelah, respons yang muncul kerap normatif: "namanya juga ibu." Kalimat sederhana ini terdengar biasa, tetapi menyimpan anggapan bahwa kelelahan adalah bagian yang harus diterima, bukan sinyal adanya ketimpangan. Seolah-olah, selama ibu masih mampu bertahan, beban itu sah untuk terus dipikul.
Masyarakat menaruh harapan besar pada sosok ibu. Ibu diharapkan sabar, kuat, dan selalu hadir. Bahkan ketika bekerja di luar rumah, tanggung jawab domestik tetap melekat sepenuhnya. Di sisi lain, keterlibatan pihak lain dalam pengasuhan masih sering disebut sebagai bantuan, bukan kewajiban bersama.
Narasi tentang "ibu yang kuat" memang terdengar positif, tetapi tanpa disadari, ia juga menjadi beban. Kekuatan ibu dipuji, sementara sistem yang seharusnya menopang justru luput dari perhatian. Akhirnya, banyak ibu bertahan bukan karena kondisinya adil, melainkan karena tidak ada pilihan lain.
Mengurus rumah, merawat anak, menjaga keseimbangan emosional keluarga, semua ini adalah kerja. Namun, karena tidak menghasilkan upah, kerja tersebut sering dianggap tidak bernilai secara ekonomi. Padahal, tanpa kerja perawatan, kehidupan keluarga tidak akan berjalan.
Ketika kerja ini tidak terlihat, perlindungan pun menjadi minim. Dukungan terhadap kesehatan mental ibu, jaminan sosial, hingga kebijakan ramah keluarga masih belum sepenuhnya menjangkau realitas yang mereka hadapi. Banyak ibu akhirnya mengandalkan ketahanan pribadi, bukan dukungan sistemik.
Hari Ibu seharusnya menjadi lebih dari sekadar perayaan simbolik. Bagi saya, hari ini justru relevan untuk mengajukan pertanyaan yang lebih jujur: apakah apresiasi kita benar-benar meringankan beban ibu, atau hanya mengulang pujian yang sama setiap tahun?
Menghargai ibu berarti berani membicarakan hal-hal yang tidak nyaman tentang pembagian peran yang timpang, tentang kerja perawatan yang tidak diakui, dan tentang kelelahan yang sering dianggap biasa. Tanpa percakapan ini, Hari Ibu akan terus berakhir sebagai seremoni, bukan perubahan.
Beban ganda yang dialami ibu bukan semata-mata persoalan individu. Ia adalah persoalan keluarga, masyarakat, dan kebijakan. Selama pengasuhan dan kerja domestik masih dianggap tanggung jawab satu pihak, keadilan akan sulit terwujud.
Perubahan memang tidak instan, tetapi dimulai dari kesadaran bahwa apa yang selama ini dianggap wajar, sebenarnya bisa dipikirkan ulang. Hari Ibu memberi kita momentum untuk memulai refleksi tersebut.
Merayakan ibu seharusnya berarti melihat mereka sebagai manusia seutuhnya dengan batas, kebutuhan, dan hak yang sama. Selama beban ganda masih dianggap hal biasa, penghormatan terhadap ibu akan selalu terasa belum selesai.
Hari Ibu bukan hanya tentang mengucapkan terima kasih, tetapi tentang memastikan bahwa kasih itu diterjemahkan dalam sikap, pembagian peran, dan sistem yang lebih adil.