Kondisi Bank Sampah Bumi Lestari di Kelurahan Srengseng, Jakarta Barat, dengan volume sampah yang tersisa relatif sedikit usai proses pengangkutan beberapa hari lalu, Jumat (15/5/2026). Foto: Aditya Nugraha/kumparan
Bank Sampah Bumi Lestari di RW 07, Kelurahan Srengseng, Jakarta Barat, menunjukkan jika sampah rumah tangga jika dikelola dengan baik bisa memiliki nilai ekonomi.
Melalui sistem pengelolaan sampah, warga dapat menabung dari hasil setoran sampah anorganik, bahkan mengonversinya menjadi emas.
Ketua Bank Sampah Bumi Lestari, Sukini (59), mengatakan bank sampah ini berdiri sejak 15 Februari 2015.
Kondisi Bank Sampah Bumi Lestari di Kelurahan Srengseng, Jakarta Barat, dengan volume sampah yang tersisa relatif sedikit usai proses pengangkutan beberapa hari lalu, Jumat (15/5/2026). Foto: Aditya Nugraha/kumparan
Inisiatif awal muncul dari mahasiswa kesehatan lingkungan yang menjalani praktik kerja lapangan di wilayah tersebut.
“Waktu itu ada program dari mahasiswa PKL Kesehatan Lingkungan. Mereka mengarahkan untuk mendirikan bank sampah. Alhamdulillah dengan arahan itu, bank sampah bisa berjalan sampai sekarang,” kata Sukini.
Pada awalnya, seluruh operasional dijalankan secara swadaya oleh warga.
“Kalau awalnya memang swadaya. Baru pada April 2019 dibina PT Pegadaian. Alhamdulillah dapat dukungan sarana prasarana, jadi gedungnya bisa lebih layak,” ujarnya.
Sampah Ditimbang, Jadi Tabungan
Bank sampah ini mengelola sampah anorganik seperti kardus, kertas, dan botol plastik.
Sampah yang disetor warga dipilah, ditimbang, lalu dijual ke pengepul dan bank sampah induk. Hasilnya dicatat sebagai tabungan.
Dalam sebulan, volume sampah yang terkumpul bisa mencapai lebih dari satu ton.
“Enggak stabil memang, kadang naik kadang turun. Tapi alhamdulillah warga antusias dan nasabah terus bertambah,” kata Sukini.
Saat ini terdapat sekitar 80 nasabah aktif. Sebagian di antaranya mengonversi tabungan sampah menjadi emas.
“Nah ini ada yang sampai Rp 8 juta dalam satu tahun. Kemarin sudah diambil buat kebutuhan Lebaran,” ujarnya.
Proses pemilahan sampah di Bank Sampah Bumi Lestari, Kelurahan Srengseng, Jakarta Barat. Foto: Dok. Bank Sampah Bumi Lestari
Bisa Beli Beras dari Sampah
Manfaat ekonomi program ini dirasakan langsung oleh warga.
“Ada warga yang bilang, alhamdulillah setelah ada bank sampah bisa beli beras, bisa beli sayuran dari uang sampah,” kata Sukini.
Sumarni (63), salah satu nasabah, juga merasakan dampak serupa, baik dari sisi tambahan penghasilan maupun kebersihan lingkungan.
Sejumlah orang memulung barang bekas dari tumpukan sampah di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu Bantargebang, Cikiwul, Bekasi, Jawa Barat, Senin (11/5/2026). Foto: Darryl Ramadhan/ANTARA FOTO
Kurangi Sampah ke Bantar Gebang
Ketua RW 07, Suprapto (69), menyebut bank sampah ini turut membantu mengurangi volume sampah yang dikirim ke Bantar Gebang.
“Setiap penimbangan, paling minim bisa menyerap tiga truk sampah, kadang sampai empat truk. Itu sangat membantu,” ujarnya.
Proses pemilahan sampah di Bank Sampah Bumi Lestari, Kelurahan Srengseng, Jakarta Barat. Foto: Dok. Bank Sampah Bumi Lestari
Tantangan: Minim Insentif dan Regenerasi
Meski berjalan baik, pengelolaan bank sampah masih menghadapi sejumlah kendala.
Sukini menyebut, pengurus bekerja secara sukarela tanpa insentif.
“Pengurus bank sampah ini kerja murni sosial. Mau makan, minum, masih pakai uang pribadi sendiri,” ujarnya.
Selain itu, regenerasi pengurus menjadi tantangan karena minat generasi muda masih rendah.
“Anak muda suruh gantiin pada enggak mau. Sebenernya saya juga sudah capek, tapi belum ada yang gantiin,” kata Suprapto.
Kondisi Bank Sampah Bumi Lestari di Kelurahan Srengseng, Jakarta Barat, dengan volume sampah yang tersisa relatif sedikit usai proses pengangkutan beberapa hari lalu, Jumat (15/5/2026). Foto: Aditya Nugraha/kumparan
Pengurus berharap ada dukungan lebih dari pemerintah, baik dalam bentuk insentif maupun fasilitas pendukung.
Bagi mereka, sampah bukan sekadar limbah, melainkan sumber manfaat jika dikelola dengan baik.
Kondisi Bank Sampah Bumi Lestari di Kelurahan Srengseng, Jakarta Barat, dengan volume sampah yang tersisa relatif sedikit usai proses pengangkutan beberapa hari lalu, Jumat (15/5/2026). Foto: Aditya Nugraha/kumparan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar