Search This Blog

Cerita Sopir Truk Sampah Trauma-Antre Berhari-hari Imbas Longsor Bantargebang

kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
Cerita Sopir Truk Sampah Trauma-Antre Berhari-hari Imbas Longsor Bantargebang
Apr 3rd 2026, 14:36 by kumparanNEWS

Fatan - Petugas PPSU di Tj. Priok Foto: Kevin Daniel/kumparan
Fatan - Petugas PPSU di Tj. Priok Foto: Kevin Daniel/kumparan

Insiden longsornya Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Kota Bekasi, Jawa Barat, yang menewaskan empat orang sopir truk dan petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) menyisakan trauma bagi para pekerja di sana.

Fatan, seorang anggota PPSU dari Kelurahan Kebon Bawang yang sedang ditugaskan berjaga di lokasi tumpukan sampah tersebut, mengaku banyak rekan-rekannya, khususnya sopir truk sampah, mengalami trauma.

"Ya jadi semakin numpuk. Banyak sopir yang trauma, karena kejadian itu memakan korban," ungkap Fatan.

Pengendara sepeda motor melintas di dekat antrean truk sampah di Jalan Pangkalan Lima, Ciketing Udik, Bekasi, Jawa Barat, imbas longsor di Bantargebang, Jumat (13/3/2026). Foto: Darryl Ramadhan/ANTARA FOTO
Pengendara sepeda motor melintas di dekat antrean truk sampah di Jalan Pangkalan Lima, Ciketing Udik, Bekasi, Jawa Barat, imbas longsor di Bantargebang, Jumat (13/3/2026). Foto: Darryl Ramadhan/ANTARA FOTO

Selain dibayangi rasa was-was akan longsor susulan, Fatan menyebut para sopir truk juga terkuras secara fisik dan mental akibat lamanya waktu tunggu.

"Sebenarnya yang bikin trauma itu juga karena waktunya habis. Lama, sampai berhari-hari, gara-gara nunggu antrean buat pembuangan. Di sini muat penuh, tapi di sana mereka nggak bisa langsung buang, harus nunggu dulu," jelasnya.

Foto udara antrean truk di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat, Senin (24/11/2025). Foto: Darryl Ramadhan/kumparan
Foto udara antrean truk di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat, Senin (24/11/2025). Foto: Darryl Ramadhan/kumparan

Saat insiden mematikan itu terjadi, antrean pembuangan di Bantargebang bisa memakan waktu hingga berhari-hari bagi satu armada.

"Kemarin pas kejadian itu, sempat sampai dua hari. Kalau kondisi sudah normal, biasanya bisa langsung buang," tambahnya.

Penumpukan limbah yang terjadi di Tanjung Priok saat ini merupakan imbas langsung dari pembatasan kuota angkut pasca-longsor. Alur distribusi terhambat, sementara volume sampah harian warga terus berdatangan tanpa henti.

"Kuotanya berkurang. Utara (Jakarta Utara) dapat jatah tertentu untuk mengurangi dampak penumpukan di sana. Cuma ya imbasnya ke sini, jadi susah," keluh Fatan.

Di tengah situasi serba terbatas ini, Fatan dan petugas lainnya terpaksa memantau dan menjaga gunungan sampah di sepanjang jalan tersebut karena ketiadaan tempat penampungan alternatif.

"Kita di sini nggak punya pool cadangan lagi. Buat numpuk di Waduk Cincin benar-benar nggak bisa. Kita ikutin perintah saja. Kalau disuruh jaga, ya jaga," tuturnya.

Sebagai ujung tombak kebersihan lingkungan, Fatan hanya bisa pasrah sembari berharap krisis tata kelola sampah ini segera menemukan jalan keluar.

"Mudah-mudahan Bantargebang cepat selesai, jadi di sini bisa kembali beroperasi normal, nggak ada penumpukan sampah lagi. Biar Jakartanya lebih indah, bersih, dan sehat," tutup Fatan penuh harap.

Media files:
01kkjqgnf7rb6k1xx07twz7t1b.jpg image/jpeg,
You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar