Search This Blog

Menkes: Rekrut Dokter Spesialis Bukan Lagi Karena Terkenal atau Orang Tua Kaya

kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
Menkes: Rekrut Dokter Spesialis Bukan Lagi Karena Terkenal atau Orang Tua Kaya
Feb 25th 2026, 11:50 by kumparanNEWS

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyampaikan paparan saat mengikuti rapat kerja bersama Komisi IX DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (11/2/2026). Foto: Rivan Awal Lingga/ANTARA FOTO
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyampaikan paparan saat mengikuti rapat kerja bersama Komisi IX DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (11/2/2026). Foto: Rivan Awal Lingga/ANTARA FOTO

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan rekrutmen peserta pendidikan dokter spesialis berbasis rumah sakit (hospital-based) tidak lagi ditentukan oleh kemampuan finansial atau latar belakang keluarga, tetapi kebutuhan layanan di daerah.

Menurut Budi, Indonesia masih kekurangan puluhan ribu dokter spesialis, terutama di wilayah yang jauh dari kota besar. Di sisi lain, pemerintah tengah memasang alat kesehatan modern secara masif hingga tingkat kabupaten/kota, bahkan hingga daerah yang jauh dari kota besar. Tapi, persoalan utama tetap pada jumlah dan distribusi dokter.

Suasana orientasi pusat Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) di Rumah Sakit Pendidikan Penyelenggara Utama (RSPPU) di Gedung Kemenkes, Jakarta Selatan, Rabu (25/2).  Foto: Amira Nada Fauziyyah/kumparan
Suasana orientasi pusat Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) di Rumah Sakit Pendidikan Penyelenggara Utama (RSPPU) di Gedung Kemenkes, Jakarta Selatan, Rabu (25/2). Foto: Amira Nada Fauziyyah/kumparan

"Mulai tahun ini, Kementerian Kesehatan akan secara agresif memasang alat-alat modern di seluruh kabupaten/kota. Kekurangannya cuma satu, adalah jumlah dokter dan terutama distribusi," ujar Budi dalam sambutannya di kegiatan orientasi pusat Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) di RSPPU di Gedung Kemenkes, Jakarta Selatan, Rabu (25/2) pagi.

Karena itu, skema hospital-based didesain sebagai instrumen distribusi tenaga spesialis berbasis kebutuhan riil rumah sakit daerah. Sebab, selama ini dokter spesialis dicetak hanya dari kampus atau university-based.

"Ini adalah cara paling efektif untuk mendistribusikan dokter, karena yang direkrut, yang dipilih, bukan yang mampu. Bukan yang berasal orang tuanya orang terkenal. Bukan yang berasal dari golongan tertentu atau agama tertentu atau suku tertentu." --Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin.

Ia menegaskan, peserta yang direkrut adalah dokter yang bekerja di rumah sakit dengan kebutuhan layanan spesialistik tinggi.

"Yang kita rekrut adalah dokter-dokter yang berasal dari rumah sakit yang memang banyak pasiennya membutuhkan layanan spesialistik tersebut. Cara kita merekrut berdasarkan kebutuhan masing-masing daerah," ujarnya.

Budi juga menyebut prioritas diberikan kepada putra-putri asli daerah agar setelah lulus mereka kembali dan memperkuat layanan kesehatan setempat.

"Siapa pun asal orang tuanya, apa pun sukunya dia, apa pun agamanya dia, selama dia memang putra-putri daerah yang bekerja di rumah sakit yang membutuhkan layanan spesialistik, dia yang akan kita rekrut duluan," imbuh dia.

Media files:
01kh61441czcfwzwfm93p4xqav.jpg image/jpeg,
You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar