CTO GDP Venture & CEO GDP Labs On Lee memberikan pemaparan saat sesi The Plaiground pada acara kumparan AI for Indonesia 2025 di The Ballroom at Djakarta Theater, Jakarta Pusat, Kamis (23/10/2025). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
CEO GDP Labs sekaligus CTO GDP Venture, On Lee, memberikan pandangannya mengenai masa depan tenaga kerja di era kecerdasan buatan (AI). Menurutnya, AI sendiri tidak akan menggantikan manusia. Justru, manusia yang tidak memanfaatkan AI akan tergantikan oleh mereka yang menggunakannya.
Pernyataan ini disampaikannya acara kumparan AI for Indonesia 2025 yang digelar di Djakarta Theatre, Jakarta Pusat, Kamis (23/10).
Orang yang tidak menggunakan AI akan digantikan oleh orang yang menggunakan AI. AI sendiri tidak akan pernah menggantikan manusia.- On Lee, CTO, GDP Venture & CEO, GDP Labs -
Menurutnya, AI berfungsi sebagai amplifier atau pengganda kemampuan manusia secara eksponensial. Ia menganalogikan, jika seseorang memiliki kemampuan bernilai 3 dari 10, maka dengan bantuan AI, kemampuannya bisa meningkat menjadi 30. Hal inilah yang mengubah manusia biasa menjadi "manusia super" di dunia kerja.
"Inilah mengapa manusia bisa menjadi manusia super (dengan AI)," ujarnya.
On Lee membuktikan klaimnya dengan sejumlah contoh konkret yang telah diterapkan di GDP Labs dan dirinya sendiri. Ia mencontohkan salah satu contoh paling dramatis adalah kemampuan AI dalam merangkum informasi.
"Saya memasukkan sebuah podcast YouTube berdurasi lebih dari 5 jam dan meminta AI untuk merangkumnya. Proses itu hanya memakan waktu 22 detik," ungkapnya.
Kecepatan ini, menurutnya, mengubah perilaku kerja secara fundamental. Ia juga membandingkan kecepatan mengetik seorang profesional yang rata-rata 80 kata per menit, dengan AI yang kini 150 kali lebih cepat. Angka ini diperkirakannya akan terus meningkat hingga 300 kali lipat pada tahun depan.
CTO GDP Venture & CEO GDP Labs On Lee memberikan pemaparan saat sesi The Plaiground pada acara kumparan AI for Indonesia 2025 di The Ballroom at Djakarta Theater, Jakarta Pusat, Kamis (23/10/2025). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
Di sektor pengembangan perangkat lunak, GDP Labs juga merasakan dampaknya. Proses pembuatan product requirement menjadi tiga kali lebih cepat dan proses testing juga jauh lebih efisien.
Tidak hanya berteori, On Lee menegaskan bahwa GDP Labs telah "bertaruh penuh" pada AI dalam tiga tahun terakhir. Adopsi AI bukan lagi pilihan, melainkan sebuah kewajiban bagi seluruh karyawannya.
"Pada dasarnya, delapan tahun lalu untuk setiap teknologi baru, saya mewajibkan karyawan saya untuk mempelajarinya dalam waktu dua tahun. Jika mereka gagal, mereka harus meninggalkan perusahaan," katanya, menekankan budaya adaptasi yang kuat.
Untuk mendukung kebijakan ini, perusahaan memfasilitasi setiap karyawan dengan setidaknya satu asisten AI yang biayanya ditanggung perusahaan. Bahkan, beberapa karyawan dengan kebutuhan khusus dibekali akses ke AI premium dengan biaya langganan hingga USD 200 per bulan.
Lebih jauh lagi, On Lee mengungkapkan ambisinya untuk masa depan.
"Saat ini rasio kami satu banding satu. Tahun depan, semoga kami bisa memiliki rasio satu banding lima: satu manusia dan lima karyawan digital," pungkasnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar