Presiden Indonesia Prabowo Subianto berpidato di Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa ke-80 di Markas Besar PBB di New York, AS, Selasa (23/9/2025). Foto: Mike Segar/REUTERS
Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto memamerkan Indonesia telah mencapai swasembadaberas dan siap mengekspor komoditas tersebut saat berpidato di Sidang Majelis Umum PBB ke-80 di New York, Selasa (23/9).
"Tahun ini, Indonesia mencatat produksi beras dan cadangan gabah tertinggi dalam sejarah kami, kami kini telah swasembada beras, dan kami mulai mengekspor beras ke negara-negara lain yang membutuhkan, termasuk menyediakan beras untuk Palestina," ujar Prabowo.
Lalu seperti apa data produksi beras di Indonesia?
Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Arief Prasetyo Adi memastikan hingga kini data menunjukkan Indonesia bisa memenuhi kebutuhan beras nasional dari produksi dalam negeri.
"Kebutuhan beras nasional 30,5 juta ton satu tahun, kemudian sampai dengan Oktober kita produksinya 31 juta ton. Jadi kalau (produksi) 30,5 (juta ton) kemudian kebutuhan produksinya sampai Oktober 31 (juta ton), itu artinya kita on track (swasembada pangan)," tutur Arief di Kantor Bapanas, Jakarta, Rabu (24/9).
Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Arief Prasetyo Adi di Kantor Kemenko Bidang Pangan, Jakarta, Jumat (25/7). Foto: Widya Islamiati/kumparan
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi beras nasional pada Januari–Oktober 2025 diperkirakan mencapai 31,04 juta ton. Jumlah ini naik 3,37 juta ton atau 12,16 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, kebutuhan konsumsi beras selama periode tersebut tercatat 25,83 juta ton. Dengan demikian, neraca produksi dan konsumsi beras diproyeksikan surplus sekitar 5,2 juta ton hingga akhir tahun ini, atau meningkat 3,32 juta ton dibandingkan surplus pada periode yang sama tahun lalu.
Dua pekerja mengangkut beras di Gudang Bulog Palebon, Semarang, Jawa Tengah, Rabu (26/2/2025). Foto: Aprillio Akbar/ANTARA FOTO
Kemudian per 17 September 2025, Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikantongi oleh Perum Bulog adalah sebesar 3,9 juta ton atau menurun dari Juli lalu yang sebanyak 4,2 juta ton.
Penurunan CBP ini disebabkan langkah pemerintah melakukan intervensi pasokan dan harga pangan melalui program bantuan pangan sebanyak 10 kg per bulan selama dua bulan untuk 18,27 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM).
Selain itu, pemerintah juga mulai mendistribusikan beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) Rp 12.500 per kg mulai Juli lalu dengan kuota hingga Desember sebanyak 1,3 juta ton.
Kemudian realisasi penyaluran CBP sepanjang 2025 ini per 17 September mencapai 798,8 ribu ton, terdiri dari penyaluran SPHP 374,8 ribu ton, lalu bantuan pangan beras Juni dan Juli sebanyak 365,5 ribu ton. Selain itu, ada pula penyaluran dalam bentuk program golongan anggaran 60,1 ribu ton dan tanggap darurat 418 ton.
CBP pertama kali menyentuh 4 juta ton pada akhir Mei 2025 lalu dan merupakan rekor tertinggi sejak Perum Bulog berdiri pada tahun 1969, yang pertama kali terjadi pada akhir Mei 2025.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar