Search This Blog

Negosiasi Ulang Disebut Jadi Opsi Penyelesaian Utang Kereta Cepat

kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
Negosiasi Ulang Disebut Jadi Opsi Penyelesaian Utang Kereta Cepat
Aug 24th 2025, 18:03 by kumparanBISNIS

Kereta cepat Whoosh melintas di Kota Cimahi, Jawa Barat, Kamis (31/7/2025). Foto: Abdan Syakura/ANTARA FOTO
Kereta cepat Whoosh melintas di Kota Cimahi, Jawa Barat, Kamis (31/7/2025). Foto: Abdan Syakura/ANTARA FOTO

Danantara kini sedang menyusun langkah restrukturisasi utang jumbo proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung (KCJB). Meski demikian, langkah ini dipandang hanya akan mengalihkan beban dari PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) kepada Danantara.

PSBI merupakan pemegan saham mayoritas atau 60 persen dari PT KCIC yang mengelola proyek KCJB. Pengamat BUMN dari NEXT Indonesia Center, Herry Gunawan, menilai opsi yang bisa dilakukan saat ini adalah negosiasi ulang antara pemerintah Indonesia dengan pemerintah China (government to government/G to G).

"Kalau antar-pemerintah kan lebih memungkinkan cari solusi. Bisa saja dengan model kompensasi, seperti negosiasi dengan tarif Amerika," kata Herry kepada kumparan, Minggu (24/8).

Secara rinci, komposisi pemegang saham PSBI adalah PT Kereta Api Indonesia (Persero) sebesar 51,37 persen, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk 39,12 persen, PT Perkebunan Nusantara I 1,21 persen, dan PT Jasa Marga (Persero) Tbk 8,30 persen.

Sementara dari pihak China, Beijing Yawan HSR Co. Ltd terdiri dari CREC 42,88 persen, Sinohydro 30 persen, CRRC 12 persen, CRSC 10,12 persen, dan CRIC 5 persen.

Herry melihat beban keuangan KCJB saat ini juga tidak hanya berasal dari utang, melainkan juga operasional. Ia pun memperingatkan

"Jangan libatkan pemerintah di sini (operasional), misalnya mengandalkan APBN. Sekarang kan ruang gerak APBN juga sudah sesak," ujarnya.

Untuk masalah operasional, Herry menilai pangkal persoalannya adalah kegiatan usaha KCJB belum memenuhi skala ekonomi.

Kereta cepat Whoosh melintas di Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Kamis (31/7/2025). Foto: Abdan Syakura/ANTARA FOTO
Kereta cepat Whoosh melintas di Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Kamis (31/7/2025). Foto: Abdan Syakura/ANTARA FOTO

Menurutnya, jika masalah operasional tidak dapat ditutupi oleh efisiensi beban, maka harus dilakukan dengan cara menaikkan pendapatan yang segera dipikirkan oleh Danantara.

"Kalau sulit dipenuhi oleh bisnis inti, dalam hal ini layanan kereta cepat Jakarta–Bandung, yang harus dicari adalah peluang ekspansi layanan yang tidak memerlukan biaya tambahan, tetapi mengandalkan kekuatan internal sebagai peluang. Itu pun kalau ada ya," kata Herry.

Sementara itu, pengamat BUMN Toto Pranoto menilai langkah keterlibatan Danantara yang sedang menyusun restrukturisasi utang sudah tepat.

"Kalau utang proyek KCIC tidak dikeluarkan dari neraca konsolidasi KAI, maka aspek going concern KAI menjadi pertanyaan besar. Memang seharusnya negara lewat Danantara harus take over masalah utang ini, sehingga beban keuangan KAI ada jalan keluarnya," kata Toto.

Ia menyarankan agar Danantara bisa langsung mendiskusikan restrukturisasi utang dengan kreditur proyek. Selain itu, opsi lainnya adalah mencarikan investor strategis yang berminat mengambil sebagian porsi kepemilikan Indonesia dalam proyek, sehingga beban utang bisa berkurang.

Meski demikian, ia tetap menekankan agar Danantara juga memberi solusi untuk meningkatkan pendapatan operasional. Salah satunya bisa dilakukan dengan pembangunan Transit Oriented Development (TOD) di sekitar wilayah proyek KCJB.

Pengamat BUMN dari FE UI Toto Pranoto memaparkan kondisi BUMN di diskusi soal likuidasi BUMN, Rabu (17/11). Foto: Wendiyanto Saputro/kumparan
Pengamat BUMN dari FE UI Toto Pranoto memaparkan kondisi BUMN di diskusi soal likuidasi BUMN, Rabu (17/11). Foto: Wendiyanto Saputro/kumparan

"Langkah lain, Danantara harus memaksa manajemen KCIC lebih optimal generate income, baik peningkatan occupancy rate penumpang maupun peningkatan nilai komersial dari TOD wilayah penghentian kereta cepat," ujarnya.

Sebelumnya, restrukturisasi utang KCJB sudah masuk ke dalam salah satu dari 22 program kerja strategis yang tercantum dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) 2025 Danantara.

Restrukturisasi ini dinilai krusial karena proyek kereta cepat dengan nama Whoosh tersebut menyedot dana jumbo dan kini menimbulkan beban keuangan yang cukup besar bagi konsorsium pengelola.

CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, mengaku tengah mengevaluasi secara menyeluruh skema penyelesaian utang KCJB. Menurut dia, Danantara ingin memastikan setiap aksi korporasi yang dilakukan bersifat menyelesaikan masalah secara permanen, bukan sekadar menundanya.

"Ya sama juga kita sedang evaluasi ini, dan kita mau memastikan supaya ini bisa. Kalau kita melakukan suatu corporate action itu tuntas, jadi bukan hanya sifatnya menunda masalah," kata Rosan di Kantor Kemenko Perekonomian, Selasa (5/8).

"Jadi kita akan lakukan, nanti pada saatnya kita akan umumkan langkah-langkah kita dalam merestrukturisasi KCIC atau Whoosh ini," katanya.

Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia, Dony Oskaria, juga mengungkapkan bahwa pihaknya tengah merumuskan beberapa opsi restrukturisasi yang akan ditawarkan kepada pemerintah. Ia menegaskan, proses ini sedang dipikirkan secara matang sebelum usulan resmi disampaikan.

Media files:
01k1fkncp6hypk58azdhrszdrf.jpg image/jpeg,
You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar