Search This Blog

Jalan Pengabdian Driver Ambulans di Jogja: Melaju Demi Berkah, Bukan Bayaran

kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
Jalan Pengabdian Driver Ambulans di Jogja: Melaju Demi Berkah, Bukan Bayaran
Jun 13th 2025, 14:29 by Pandangan Jogja

Bandi Nugroho, driver ambulans asal Cilacap, Jawa Tengah, yang mengantar pasien ke RSUP Dr Sardjito, DIY. Foto: Pandangan Jogja/Resti Damayanti
Bandi Nugroho, driver ambulans asal Cilacap, Jawa Tengah, yang mengantar pasien ke RSUP Dr Sardjito, DIY. Foto: Pandangan Jogja/Resti Damayanti

Setiap pagi, belasan hingga puluhan ambulans dari berbagai daerah terparkir berderet di ruas Jalan Selokan Mataram, Pogung Kidul, Sleman, tak jauh dari Gedung Pascasarjana UGM.

Pada Selasa (10/6) pagi sekitar pukul 10.00 WIB, Pandangan Jogja mencatat sedikitnya 23 ambulans terparkir di sepanjang jalan sejauh 90 meter, sekitar 80 meter dari Apartemen Taman Melati dan Ayam Goreng Mbak Ninit.

Titik ini sudah lebih dari satu dekade menjadi tempat parkir favorit para pengemudi ambulans luar kota yang mengantar pasien kontrol ke RSUP Dr Sardjito.

Warung makanan di Pogung Kidul, Sleman, tempat langganan para driver ambulans istirahat. Foto: Resti Damayanti/Pandangan Jogja
Warung makanan di Pogung Kidul, Sleman, tempat langganan para driver ambulans istirahat. Foto: Resti Damayanti/Pandangan Jogja

Di sela waktu tunggu, mereka beristirahat, makan, ngopi, hingga berbincang dengan sesama sopir ambulans. Suasana yang nyaman, dekat masjid, makanan terjangkau, dan lingkungan yang ramah membuat mereka betah.

"Kalau temen-temen di sini karena cocok, nyaman, adem, makanannya murah, orangnya welcome, dekat masjid. Ini buktinya temen-temen pada santai di sini, curhat berbagai macam," ujar Nanang Eko Supriyo (45), sopir ambulans dari Magelang.

Ambulans yang parkir di lokasi itu datang dari berbagai daerah, baik dari DIY maupun luar DIY seperti Pacitan, Tegal, Cilacap, Banyumas, Banjarnegara, Wonosobo, Magelang, hingga Temanggung. Mereka berasal dari ambulans milik desa, kabupaten, organisasi seperti NU dan Muhammadiyah, sekolah, PMI, hingga partai politik.

Bagi para sopir, tempat ini bukan sekadar lokasi singgah. Dari sinilah mereka memulai perjalanan-perjalanan yang mempertaruhkan nyawa, bukan untuk mencari uang, tapi demi membantu sesama.

"Keberkahan nggak harus berhubungan dengan materi. Berkahnya nggak mesti dapet uang, ikhlas aja," kata Bandi Nugroho (46), sopir ambulans dari Cilacap.

Bandi telah menjalani profesi ini selama tujuh tahun. Ia mengingat salah satu perjalanan paling melelahkan saat harus membawa pasien kanker tulang belakang dari Cilacap ke Solo selama sembilan jam, padahal normalnya hanya lima hingga enam jam. Karena pasien sensitif terhadap getaran, ambulans harus berhenti setiap kali pasien merasa kesakitan.

"Itu melebihi Cilacap–Jakarta. Yang namanya pelayanan, mau gimana lagi. Delapan orang megangin ini. Geser dikit, kita berhenti. Cilacap–Solo berangkatnya sembilan jam. Kalau Cilacap–Jakarta tujuh jam. Berhenti, benerin, mungkin sakit," ujarnya.

Nanang Eko Supriyo (45), sopir ambulans dari Magelang. Foto: Pandangan Jogja/Resti Damayanti
Nanang Eko Supriyo (45), sopir ambulans dari Magelang. Foto: Pandangan Jogja/Resti Damayanti

Nanang, yang sudah tiga tahun mengemudi ambulans, juga mengenang momen genting ketika membawa pasien dengan asam lambung akut dari Magelang ke Sardjito. Karena jalanan padat, ia terpaksa melawan arus.

"Pernah dapat pasien dari Ngaglik (Magelang). Jam 9 sampai sini (RS Sardjito), dokternya bilang kalau telat 5–10 menit saja sudah gagal. Waktu itu padat (jalannya), saya ambil sebelah kanan, saya lawan arus," kata Nanang.

"Risiko saya tanggung, yang penting pasien segera tertolong. Karena kalau pasien sudah napas lemah ini harus segera lari, udah dibantu oksigen, harus lari," lanjutnya.

Deretan ambulans yang parkir di Pogung Kidul, Sleman. Foto: Pandangan Jogja/Resti Damayanti
Deretan ambulans yang parkir di Pogung Kidul, Sleman. Foto: Pandangan Jogja/Resti Damayanti

Ia juga pernah membawa pasien dalam kondisi kritis, namun belum sempat sampai rumah sakit, pasien tersebut meninggal dunia.

"Saya pernah membawa itu, kritis. Saya ditelepon bahwa itu sudah red code perjalanan karena traffic-nya penuh dan ada beberapa kendaraan yang nggak beri jalan ke kita. Belum sampai di rumah sakit, sudah tidak bisa tertolong lagi," ujarnya.

Meski berat dan penuh risiko, Nanang menyebut bahwa ini adalah cara terbaik dirinya bisa membantu orang lain.

"Kemampuan saya untuk bisa membantu orang lain baru seperti ini. Belum yang lain. Baru bisa membantu orang lain dengan cara ini," jelasnya.

Jalan Pogung bukan hanya tempat parkir. Bagi mereka, ini adalah persinggahan dalam jalan panjang pengabdian. Melaju bukan demi bayaran, tapi demi nyawa dan keberkahan

@pandanganjogja

Siapa yang kampung atau desanya punya ambulans? Setiap hari, puluhan ambulans parkir berderet di Jalan Selokan Mataram, Pogung Kidul, Sleman. Deretan mobil ini berasal dari berbagai daerah luar DIY, dengan identitas kepemilikan yang beragam. Mulai dari ambulans desa, milik organisasi keagamaan, sekolah, yayasan, hingga partai politik. Pandangan Jogja melihat Ambulans milik Partai Nasdem dan Partai Golkar. Sayangnya driver dari partai ini terlalu pemalu untuk diwawancara. Dapet wawancara malah ambulans milik pemerintah desa. Btw, desamu punya ambulans? Aset: Artikel: Pandangan Jogja Video: Pandangan Jogja/Iqbaltwq #ambulans #sardjito #pogung #sleman #pandanganjogja #insightpandanganjogja #driverambulans #yogyakarta

♬ suara asli - Pandangan Jogja - Pandangan Jogja

Media files:
01jxm2n7dfksjyfcnyfyn9azq2.jpg image/jpeg,
You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar