Pekerja melakukan proses pencetakan balok timah di Divisi Pengolahan dan Peleburan Unit Metalurgi PT Timah Tbk di Mentok, Kabupaten Bangka Barat, Kepulauan Bangka Belitung, Rabu (22/1/2025). Foto: Nova Wahyudi/ANTARA FOTO
Holding BUMN industri pertambangan, MIND ID, mengungkapkan produksi timah Indonesia sedikit menurun pada 2024. Ini juga membuat kontribusi timah nasional secara global juga merosot.
Berdasarkan data ekspor tahun 2023, Indonesia menyumbang sekitar 17,5 persen dari total pasokan timah dunia. Dengan volume produksi mencapai 65.000 ton.
Namun, produksi timah nasional pada tahun 2024 turun menjadi hanya mencapai 45.000 ton.
"Sehingga hanya berkontribusi sekitar 12 persen dari kontribusi timah dunia," ucap Direktur Utama MIND ID Maroef Sjamsoeddin dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi VI, Jakarta Pusat, Rabu (14/5).
Maroef menyebutkan, harga timah di dunia menjadi naik dari harga rata-rata USD 26.583 per ton pada tahun 2023 menjadi harga rata-rata USD 31.164 per ton pada tahun 2024 imbas dari penurunan produksi tersebut.
"Hal tersebut membuktikan pengaruh pasokan timah Indonesia terhadap pasar global," tambah Maroef.
Secara global, ada negara yang menjadi produsen timah terbesar, yaitu China, Myanmar, dan Peru. "(Sementara) di Indonesia, ada BUMN PT Timah dan juga BUMS swasta," tambah Maroef.
Maroef juga menyampaikan, kerja sama antara Indonesia, China, dan Peru perlu ditingkatkan sehingga dapat meningkatkan peranan dalam pasar global.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar