Search This Blog

Curhat Dirut Garuda Indonesia: Margin Tipis, Penumpang Turun

kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
Curhat Dirut Garuda Indonesia: Margin Tipis, Penumpang Turun
May 22nd 2025, 13:03 by kumparanBISNIS

Direktur Utama Garuda Indonesia Wamildan Tsani dalam acara Garuda Indonesia UOB Card Livery Launch di Hanggar IV GMF Aeroasia, Kamis (27/2/2025). Foto: Ave Airiza Gunanto/kumparan
Direktur Utama Garuda Indonesia Wamildan Tsani dalam acara Garuda Indonesia UOB Card Livery Launch di Hanggar IV GMF Aeroasia, Kamis (27/2/2025). Foto: Ave Airiza Gunanto/kumparan

Direktur Utama Garuda Indonesia Wamildan Tsani membeberkan tantangan utama yang dihadapi industri penerbangan saat ini.

Tantangan ini berkaitan dengan regulasi Tarif Batas Atas (TBA) harga tiket serta pelemahan nilai tukar rupiah sejak 2019 membuat harga tiket terus naik.

"Sejak perumusan TBA terakhir pada tahun 2019, struktur biaya maskapai telah mengalami perubahan secara signifikan, terutama terkait dengan peningkatan harga avtur dan juga adanya beban maintenance," kata Wamildan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi V DPR RI, Kamis (22/5).

Wamildan melihat adanya margin atau porsi keuntungan sangat tipis di industri maskapai di tengah tren penurunan jumlah penumpang pesawat.

"Ini tentunya memberikan beban yang sangat berat kepada maskapai penerbangan, karena dengan penurunan plot factor atau jumlah penumpang 3-5 persen, ini sangat mempengaruhi margin dari profit dari maskapai," jelasnya.

Dia mencontohkan atas ketiga tantangan tadi terdapat evolusi biaya operasional rute CGK-DPS atau Bandara Soekarno Hatta Cengkareng ke Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali.

Pada 2019, biaya per penerbangan sebesar Rp 194 juta saat penerbangan. Kemudian ada peningkatan Maintenance, Repair, and Operations (MRO) sebesar 40 persen atau Rp 31 juta sejak 2019, kenaikan harga bahan bakar 23 persen atau sebesar Rp 25 juta.

Rapat Dengar Pendapat Komisi V DPR RI dengan Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (22/5/2025). Foto: Widya/kumparan
Rapat Dengar Pendapat Komisi V DPR RI dengan Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (22/5/2025). Foto: Widya/kumparan

Lalu ada pertumbuhan Upah Minimum Regional (UMR) sebesar 35 persen atau Rp 12 juta, peningkatan biaya dari provider sebesar 43 persen atau Rp 8 juta, kemudian kenaikan biaya lain-lain sebesar Rp 13 juta dan interest cost Rp 2 juta.

Selain itu, sebagian besar komponen dibayar dengan menggunakan dolar AS. Sehingga kenaikan nilai tukar rupiah turut menyumbang kenaikan biaya operasional.

"Sehingga total kenaikan biaya menjadi Rp 269 juta atau terdapat kenaikan 38 persen. Jadi dengan adanya kenaikan nilai tukar valas sebesar 14-15 persen sejak 2019, ini memberikan tekanan margin yang lebih tinggi," jelasnya.

Media files:
01jn3bc6vcz3ka782tyw620pcp.jpg image/jpeg,
You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar