Search This Blog

Konflik Sudan: Militer AS Mengevakuasi Diplomatnya dari Khartoum

kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
Konflik Sudan: Militer AS Mengevakuasi Diplomatnya dari Khartoum
Apr 23rd 2023, 14:40, by BBC NEWS INDONESIA, BBC NEWS INDONESIA

Arab Saudi menyambut warga AS dari Sudan di Pelabuhan Laut Jeddah dengan permen dan mawar pada hari Sabtu
Arab Saudi menyambut warga AS dari Sudan di Pelabuhan Laut Jeddah dengan permen dan mawar pada hari Sabtu

Militer Amerika Serikat telah mengevakuasi para diplomat dan keluarga mereka dari Khartoum, ibu kota Sudan, kata Presiden AS Joe Biden.

Konflik bersenjata antara tentara Sudan (SAF) dan paramiliter Pasukan Dukungan Cepat (RSF) terus berlangsung di Khartoum sejak Sabtu (15/04) lalu.

"Hari ini, atas perintah saya, militer Amerika Serikat melakukan operasi untuk mengeluarkan personel pemerintah AS dari Khartoum," katanya dalam sebuah pernyataan.

Seorang pejabat AS mengatakan kurang dari 100 orang AS dievakuasi pada Minggu pagi. Sebanyak tiga helikopter Chinook mendarat di dekat Kedutaan AS untuk menjemput mereka.

Perebutan kekuasaan antara SAF dan RSF menyebabkan terjadinya pengeboman besar-besaran di ibu kota itu, yang menewaskan ratusan orang dan melukai ribuan lainnya.

Dalam komunikasi dengan wartawan setelah misi dilakukan, Letnan Jenderal Douglas Sims mengatakan, lebih dari 100 personel Angkatan Laut dan Pasukan Khusus Angkatan Darat AS terbang dari Djibouti ke Ethiopia dan mendarat di Sudan, selama kurang dari satu jam.

Dia menggambarkan evakuasi itu sebagai operasi yang "cepat dan bersih".

Biden berterima kasih kepada Djibouti, Ethiopia, dan Arab Saudi, dengan mengatakan bahwa negara-negara tersebut "sangat penting bagi keberhasilan operasi kami".

Asap mengepul di udara akibat konflik tentara Sudan dan paramiliter RSF di Khartoum, Sudan, Rabu (19/04).
Asap mengepul di udara akibat konflik tentara Sudan dan paramiliter RSF di Khartoum, Sudan, Rabu (19/04).

Usai evakuasi, Kedutaan Besar AS di Khartoum sekarang ditutup.

Sebuah cuitan di akun resmi Kedubes AS menyebut, pemerintah AS tidak dapat menyediakan layanan konsuler bagi warganya di Sudan, dan juga tidak cukup aman bagi pemerintah untuk mengevakuasi warga negara AS.

Aksi pemerintah AS adalah evakuasi warga asing kedua sejak kekerasan meletus di ibu kota Sudan pekan lalu.

Pada hari Sabtu, lebih dari 150 warga, diplomat, dan pejabat internasional dievakuasi melalui jalur laut ke Pelabuhan Jeddah di Arab Saudi. Mereka sebagian besar adalah warga negara-negara Teluk, serta Mesir, Pakistan, dan Kanada.

Pada Minggu, Kementerian Luar Negeri Prancis mengumumkan mulai mengevakuasi warga dan staf diplomatnya dari negara itu, menurut media Prancis.

Kementerian tersebut juga mengatakan telah memulai "operasi evakuasi cepat" dan bahwa warga negara Eropa serta orang-orang dari "negara mitra sekutu" juga akan dibantu.

Biden mendesak gencatan senjata

Presiden AS Joe Biden.
Presiden AS Joe Biden.

Kantor berita Reuters mengutip pejabat AS yang mengatakan, beberapa diplomat dari negara lain juga dievakuasi dalam operasi AS, dan pesawat AS tidak diserang selama aksi itu.

Bandara Khartoum telah berulang kali menjadi sasaran penembakan, sehingga penerbangan evakuasi dari sana tidak mungkin dilakukan.

Dalam pernyataannya, Biden mengatakan: "Saya menerima laporan rutin dari tim saya tentang pekerjaan berkelanjutan mereka untuk membantu orang Amerika di Sudan, sejauh mungkin."

Dia mengutuk peperangan di Sudan seraya mengatakan dua pasukan yang bermusuhan "harus menerapkan gencatan senjata segera dan tanpa syarat, mengizinkan akses kemanusiaan tanpa hambatan, dan menghormati keinginan rakyat Sudan".

Selain itu, pemerintah Inggris mengatakan sedang mempertimbangkan cara untuk mengevakuasi stafnya.

Sebuah nomor kontak telah disiapkan untuk mereka yang membutuhkan bantuan mendesak, dan warga negara Inggris di Sudan didesak untuk memberi tahu posisi mereka kepada Kementerian Luar Negeri Inggris.

Evakuasi yang dilakukan oleh Inggris diharapkan sangat terbatas dan fokus pada staf diplomatik - tidak sebanding dengan evakuasi massal dari Afghanistan pada tahun 2021.

Sementara itu pemerintah Kanada telah mengatakan kepada warganya di Sudan untuk "berlindung di tempat yang aman", tetap mengisi daya ponsel mereka, mengunci pintu dan jendela, dan "mempertimbangkan untuk meninggalkan negara itu jika ada cara yang aman untuk melakukannya".

Bagaimana dengan nasib para WNI?

Sebelumnya, pada Kamis (20/04), Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengatakan, pemerintah Indonesa terus mempersiapkan proses evakuasi bagi WNI yang tinggal di Sudan.

"Persiapan evakuasi terus dimatangkan sambil menunggu saat yang tepat untuk bisa melakukan evakuasi dengan tetap mempertimbangkan keselamatan WNI," kata Retno, dikutip dari kantor berita Antara.

Berdasarkan data Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Khartoum, terdapat 1.209 WNI yang tinggal di Sudan, sebagian besar adalah pelajar dan mahasiswa.

Tim perlindungan WNI dari KBRI Khartoum telah mengevakuasi 43 WNI yang terjebak di lokasi pertempuran ke tempat perlindungan KBRI.

Menlu Retno menambahkan, proses evakuasi tersebut dapat berlangsung jika kedua pihak yang berkonflik, yaitu tentara Sudan (SAF) dan paramiliter Pasukan Dukungan Cepat (RSF) menyetujui jeda kemanusiaan.

"Jeda kemanusiaan akan menjadi kunci bagi pelaksanaan evakuasi dan keberlanjutan bantuan kemanusiaan," kata Retno.

Konflik Sudan: Militer AS Mengevakuasi Diplomatnya dari Khartoum

Pertempuran sengit pecah di Khartoum pada 15 April.

Inti dari konflik itu adalah perebutan kekuasaan antara pasukan yang setia kepada panglima militer Sudan Abdel Fatteh al-Burhan dan saingannya RSF.

Penembakan dan pengeboman yang hampir terus-menerus terjadi di Khartoum dan di tempat lain telah menyebabkan terputusnya aliran listrik, akses yang aman ke makanan dan air bagi sebagian besar penduduk.

Beberapa upaya gencatan senjata yang tampaknya telah disetujui oleh kedua belah pihak diabaikan, termasuk jeda tiga hari untuk menandai hari raya Idulfitri, yang dimulai pada hari Jumat.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan, pertempuran itu telah menewaskan lebih dari 400 orang dan melukai ribuan lainnya. Namun jumlah korban tewas diyakini jauh lebih tinggi karena sulitnya akses untuk menuju rumah sakit.

Warga Inggris terlantar dan frustrasi

Perdana Menteri Inggris Rishi Sunak memimpin pertemuan darurat Cobra (rapat untuk mendiskusikan masalah krisis nasional, regional, dan internasional) pada hari Sabtu untuk membahas konflik yang terjadi Sudan dan pembicaraan lebih lanjut diharapkan dilaksanakan pada Minggu.

Menteri Luar Negeri James Cleverly telah mempersingkat tur Pasifik dan kembali ke London.

Beberapa warga negara Inggris yang terjebak di Sudan menyuarakan rasa frustrasi dan kecemasan mengenai tidak adanya angkutan udara.

Seorang warga Inggris di Khartoum bernama Iman Abu mengatakan dia telah mendaftarkan dirinya dan kedua anaknya, seperti yang diinstruksikan, "dan sejak itu - tidak ada perkembangan".

"Kami tidak tahu tentang skala waktu atau kerangka waktu. Kami tidak tahu seperti apa jadinya. Apakah kami akan diterbangkan dari Bandara Khartoum? Apakah kami harus pergi melalui jalan darat? Sungguh membuat frustrasi karena tidak ada kontak manusia apa pun," keluhnya.

Warga negara Inggris lainnya di Khartoum mengatakan kepada BBC bahwa dia merasa "benar-benar ditinggalkan" oleh pemerintah Inggris, karena tidak mendapatkan "informasi sama sekali" tentang kemungkinan rencana evakuasi.

Media files:
01gypgwjnmgkrb1g52a1478tbx.jpg (image/jpeg)
You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar