Sebuah apartemen di Gaza kembali diserang Israel pada Sabtu, 31 Januari 2026. Foto: Dawoud Abu Alkas/REUTERS
Serangan Israel kembali menghantam Jalur Gaza pada Sabtu (31/1), menewaskan sedikitnya 12 warga Palestina. Serangan ini menjadi salah satu yang paling mematikan sejak gencatan senjata diberlakukan pada Oktober 2025 lalu.
Rumah sakit di Gaza melaporkan, serangan terjadi di wilayah Gaza utara dan selatan. Target serangan mencakup sebuah apartemen di Kota Gaza serta kamp tenda pengungsi di Khan Younis. Dari total korban, dua di antaranya perempuan dan enam lainnya anak-anak dari dua keluarga berbeda.
"Serangan di Gaza menewaskan tiga anak, bibi mereka, dan neneknya," kata pihak Rumah Sakit Shifa, seperti dikutip dari AP News. Sang ibu dilaporkan selamat.
Sementara itu, Rumah Sakit Nasser menyebut serangan ke kamp tenda di Khan Younis memicu kebakaran besar. "Tujuh orang tewas, termasuk seorang ayah, tiga anaknya, dan tiga cucunya," ujar pejabat rumah sakit tersebut.
Warga Gaza mendirikan salat jenazah berjamaah, usai serangan Israel pada Sabtu (31/1). Foto: Ramadan Abed/REUTERS
Serangan ini terjadi sehari sebelum penyeberangan Rafah di perbatasan Gaza-Mesir dijadwalkan dibuka kembali secara terbatas. Pembukaan Rafah disebut sebagai langkah penting dalam fase kedua gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat (AS).
Bagi warga Palestina, Rafah menjadi jalur vital untuk evakuasi medis. Sebagian besar fasilitas kesehatan di Gaza dilaporkan rusak atau hancur akibat perang.
Meski begitu, serangan terbaru ini menegaskan bahwa kekerasan masih berlanjut. Kementerian Kesehatan Gaza mencatat lebih dari 500 warga Palestina tewas akibat serangan Israel sejak gencatan senjata dimulai pada 10 Oktober.
Militer Israel hingga kini belum memberikan tanggapan resmi terkait serangan tersebut.
Kepala BPOM, Taruna Ikrar, di Jakarta, Senin (19/5/2025). Foto: Abid Raihan/kumparan
BPOM menemukan dugaan penyalahgunaan gas Nitrous Oxide (N2O). N2O lazim digunakan untuk medis, kuliner, dan otomotif. Dalam penggunaan medis, gas ini hanya dapat dipakai di rumah sakit. Namun, kini gas tersebut justru diiklankan untuk dihirup pengguna.
Kepala BPOM, Taruna Ikrar, menyebut tim siber dan intelijennya menemukan ketidaksesuaian teknik pemasaran N2O. Saat ini, yang tengah ramai dibicarakan di media sosial yakni produk N2O dengan nama Whip Pink, yang kerap disalahgunakan.
Menurut Ikrar, tim dari BPOM menemukan teknik marketing yang malah menunjukkan N2O ini bisa menimbulkan efek "nge-fly" untuk pemakainya.
"Tim kami dari siber dan tim intelijen lagi bekerja sekarang kita akan menandai penjualan-penjualan yang di online dan kita temukan memang itu terdapat kesalahan dan itu bagian yang kami laporkan tadi," ucap Taruna di Kantor BPOM, Jakarta pada Jumat (30/1).
Taruna menyebut, BPOM akan bekerja sama dengan Kemenkes dan BNN untuk meregulasi produk N2O ini.
"Produknya kita akan arahkan sesuai aturan yang ada, ketiga yang berhubungan dengan dampak kepada masyarakat ini kita akan koordinasikan dengan Kemenkes dan kepolisian serta Badan Narkotika, karena aturan seharusnya itu bukan yang hanya berhubungan dengan yang N2O untuk anestesi," ucap Taruna.
Ilustrasi gas tertawa. Foto: Ink Drop/Shutterstock
Taruna mengatakan BPOM akan terus menelusuri produk tersebut. Ia menyebut telah melacak produsen dari N2O ini.
"Dan kita lagi proses sekarang produsen yang seharusnya, karena saya lihat ada beberapa ketimpangan, salah satunya tentang nomor izin perusahaannya dan lainnya," ucap Taruna.
Nilai Gen Z Rentan Salah Gunakan Whip Pink
Taruna mengatakan, motif daripada orang yang menyalahgunakan Whip Pink adalah ingin 'coba-coba'. Maka, remaja lah yang paling rentan menyalahgunakannya.
"Saya melihat motifnya mereka ingin coba-coba ya, setelah dia rasakan jadi kebiasaan, jadi kalau dikatakan yang rentan usia yang punya keinginan-keinginantahuan itu tinggi, usia remaja," ucap Taruna.