Bagian dari asrama terlihat setelah kebakaran di Hillside Endarasha Primary di Nyeri, Kenya, Jumat, 6 September 2024. Foto: AP Photo
Jumlah korban tewas akibat kebakaran yang melanda asrama di sebuah sekolah dasar di Kenya tengah pada Jumat (6/9) malam bertambah. Kini, totalnya 21 orang.
Jaksa penuntut mengatakan mereka telah memerintahkan polisi untuk menyelidiki apakah tragedi itu disebabkan oleh kelalaian atau kecerobohan, dan bersumpah bahwa mereka yang terbukti bersalah akan diadili.
Api melalap asrama di sekolah dasar di daerah Nyeri saat lebih dari 150 anak laki-laki berusia antara sembilan dan 13 tahun sedang tidur.
Juru bicara pemerintah Isaac Mwaura mengatakan total 19 jenazah telah ditemukan di lokasi kejadian dan dua lainnya meninggal di rumah sakit.
Dari total 156 anak laki-laki di asrama saat itu, sebanyak 139 orang telah ditemukan, baik di rumah maupun di rumah sakit.
"Ini adalah bencana yang di luar imajinasi kita," kata Mwaura dikutip dari AFP, Minggu (8/9).
Bagian dari asrama terlihat setelah kebakaran di Hillside Endarasha Primary di Nyeri, Kenya, Jumat, 6 September 2024. Foto: AP Photo
"Sungguh menyedihkan bagi negara ini kehilangan begitu banyak warga Kenya muda dan berbakat. Hati kami sangat sedih," sambungnya.
Penyebab kebakaran itu belum diketahui. Mayat korban kebakaran ini ditemukan dengan kondisi sulit dikenali.
Kepala patologi pemerintah, Johansen Oduor, mengatakan autopsi akan dimulai pada hari Selasa (10/9).
Direktur Kejaksaan Umum, Renson Ingonga, telah menginstruksikan polisi untuk melakukan investigasi menyeluruh guna mengetahui penyebab kebakaran.
"Setiap orang yang terbukti bersalah atas tragedi kebakaran tersebut akan segera dibawa melalui proses pengadilan pidana yang semestinya," kata Renson.
Seorang lansia berinisial HS (75) yang tinggal di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, menjadi korban penipuan. Ia mengalami kerugian hingga Rp 1,2 miliar.
Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Ade Ary Syam, mengatakan peristiwa ini terjadi pada Kamis (5/9). Kala itu, korban mendapat telepon dari seseorang yang mengaku petugas BPJS.
"Korban dihubungi oleh pelaku yang mengaku dari BPJS, memberi tahu bahwa BPJS milik korban ada yang menggunakan untuk transaksi obat-obatan terlarang," ujar Ade dalam keterangannya, Sabtu (7/9).
Setelah telepon ditutup, Ade melanjutkan, korban kembali mendapat telepon lainnya. Kali ini, dari seseorang yang mengaku merupakan anggota kepolisian.
Dalam sambungan telepon itu, pelaku yang mengaku polisi tersebut menginformasikan bahwa saldo dalam rekening korban sudah diambil oleh seseorang.
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Ade Ary Syam Indradi. Foto: Aprilandika Pratama/kumparan
"Pelaku lainnya menghubungi korban yang mengaku petugas kepolisian dari Polwiltabes Bandung, dan memberi tahu bahwa saldo di rekening korban hilang diambil oleh seseorang dan mengarahkan korban untuk mengganti pin," ungkap Ade.
Dengan polosnya, korban mengganti pin ATM-nya dan memberitahunya kepada pelaku. Alhasil, korban mengalami kerugian hingga miliaran Rupiah.
"Setelah itu korban mendapati saldo berkurang di rekening bank CIMB Niaga dan rekening Dolar hilang sebesar Rp. 1.232.499.000," beber Ade.
Atas kejadian ini, korban melaporkannya ke pihak kepolisian. Perkara ini tengah diselidiki oleh Polres Metro Jakarta Selatan.