Search This Blog

Pertahanan Rakyat Semesta Berbasis Agama dalam Ketahanan Nasional 2045

kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
Pertahanan Rakyat Semesta Berbasis Agama dalam Ketahanan Nasional 2045
Feb 14th 2026, 17:00 by Malik Abdul

Ilustrasi simbol beberapa Agama. Foto: Shutter Stock
Ilustrasi simbol beberapa Agama. Foto: Shutter Stock

Pertahanan Rakyat Semesta Berbasis Agama menjadi relevan ketika ancaman terhadap negara bukan lagi selalu berbentuk serangan militer. Ancaman terhadap sebuah negara hari ini tidak lagi selalu datang dalam bentuk serangan militer.

Ia bisa hadir dalam wujud yang lebih halus: disinformasi, polarisasi identitas, radikalisme, konflik horizontal, hingga melemahnya kepercayaan publik terhadap negara. Dalam konteks Indonesia yang majemuk, ancaman semacam ini justru berpotensi lebih destruktif dibandingkan agresi bersenjata.

Indonesia sejak awal menganut Sistem Pertahanan dan Keamanan Rakyat Semesta (Sishankamrata), sebuah doktrin yang menempatkan rakyat sebagai subjek pertahanan, bukan sekadar objek yang dilindungi.

Pasal 30 UUD 1945 menegaskan bahwa pertahanan dilaksanakan oleh TNI dan Polri sebagai kekuatan utama, dengan rakyat sebagai kekuatan pendukung. Dalam kerangka ketahanan nasional, keterlibatan masyarakat menjadi elemen strategis dalam menghadapi ancaman non-militer yang semakin kompleks.

Ilustrasi kohesi masyarakat. Foto: Jonny Gios/Unsplash
Ilustrasi kohesi masyarakat. Foto: Jonny Gios/Unsplash

Namun pertanyaannya: Bagaimana rakyat berperan dalam menghadapi ancaman non-militer yang semakin kompleks?

Agama sebagai Modal Sosial Pertahanan

Indonesia adalah negara dengan tingkat religiusitas tinggi. Jaringan organisasi keagamaan menjangkau hingga ke akar rumput, dengan tingkat kepercayaan sosial yang kuat.

Dalam sejarah perjuangan kemerdekaan, legitimasi keagamaan terbukti mampu mengonsolidasikan solidaritas dan keberanian kolektif rakyat. Namun konteks hari ini berbeda. Penjajahan fisik bukan lagi ancaman utama. Tantangan terbesar justru berada di ruang sosial, ideologis, dan kognitif masyarakat.

Jika ancaman kini bersifat non-militer, pertahanan pun tidak cukup hanya mengandalkan instrumen militer. Ketahanan sosial menjadi kunci. Dalam konteks ini, agama dapat diposisikan sebagai sumber daya moral dan sosial yang memperkuat daya tahan internal bangsa.

Bukan dalam arti menjadikan agama sebagai alat politik atau menggeser prinsip negara Pancasila, melainkan memanfaatkan nilai dan jejaring sosialnya untuk menopang stabilitas nasional.

Tiga Mekanisme Pertahanan Berbasis Agama

Ilustrasi pemuka agama saat memberikan ceramah. Foto: Getty Images
Ilustrasi pemuka agama saat memberikan ceramah. Foto: Getty Images

Pertama, internalisasi nilai keagamaan dalam pendidikan bela negara. Nilai seperti amanah, keadilan, pengorbanan, dan tanggung jawab sosial memiliki daya ikat moral yang kuat. Dalam situasi krisis—baik bencana alam, konflik sosial, maupun tekanan ekonomi—ketahanan masyarakat sangat bergantung pada karakter warganya.

Ketika warga memiliki disiplin moral, kejujuran, dan kesadaran kolektif, stabilitas lebih mudah dijaga. Sebaliknya, tanpa fondasi nilai, krisis mudah berubah menjadi kekacauan.

Ilustrasi ajaran agama. Foto: Shutter Stock
Ilustrasi ajaran agama. Foto: Shutter Stock

Kedua, pemberdayaan organisasi keagamaan sebagai penguat ketahanan komunitas. Organisasi keagamaan selama ini telah berperan dalam mitigasi bencana, mediasi konflik lokal, hingga menjaga ketertiban sosial di tingkat akar rumput. Kedekatan mereka dengan masyarakat memungkinkan deteksi dini potensi konflik.

Dalam berbagai situasi ketegangan, tokoh agama sering kali lebih didengar daripada aparat formal. Ini adalah kekuatan sosial yang tidak bisa diabaikan dalam sistem pertahanan non-militer.

Ketiga, penguatan moderasi beragama sebagai pencegah ancaman internal. Radikalisme dan konflik identitas berkembang ketika tafsir eksklusif mendominasi ruang sosial tanpa penyeimbang. Moderasi beragama bukan sekadar slogan toleransi, melainkan juga mekanisme pencegahan konflik.

Ilustrasi agama Konghucu. Foto: Nugroho Sejati/kumparan
Ilustrasi agama Konghucu. Foto: Nugroho Sejati/kumparan

Ketika masyarakat secara kolektif menolak legitimasi kekerasan atas nama agama, ruang gerak kelompok ekstrem menyempit. Stabilitas internal negara pun lebih terjaga.

Ketiga mekanisme ini bekerja secara simultan sebagai lapisan pertahanan sosial yang menopang sistem pertahanan semesta.

Relevansi Menuju 2045

Menuju tahun 2045, Indonesia diproyeksikan mencapai lebih dari 320 juta penduduk dengan dominasi usia produktif. Bonus demografi bisa menjadi kekuatan, tetapi juga bisa menjadi sumber kerentanan jika tidak diiringi penguatan nilai kewargaan dan kohesi sosial.

Tanpa fondasi moral dan solidaritas, populasi produktif yang besar justru berisiko terjebak dalam polarisasi identitas, mobilisasi massa yang tidak terkendali, dan penyebaran disinformasi yang masif. Instrumen keamanan konvensional tidak cukup untuk mengelola dinamika ini.

Ilustrasi masyarakat. Foto: Djem/Shutterstock
Ilustrasi masyarakat. Foto: Djem/Shutterstock

Di sinilah pertahanan berbasis masyarakat menjadi krusial. Agama—dengan jaringannya yang luas dan legitimasi sosial yang kuat—dapat berfungsi sebagai penopang stabilitas internal, selama tetap dikelola secara konstitusional dan inklusif.

Integrasi agama dalam kerangka pertahanan non-militer harus tetap berada dalam batas negara hukum. Ia tidak boleh berubah menjadi dominasi satu identitas atas yang lain.

Dengan pendekatan yang sistematis dan inklusif, agama dapat memperkuat ketahanan nasional tanpa menggeser prinsip Pancasila. Dalam sistem pertahanan semesta, kekuatan terbesar bukan hanya pada senjata, melainkan juga pada daya tahan masyarakatnya.

Menuju Indonesia 2045, pertanyaan mendasarnya bukan hanya "Seberapa kuat militer kita?" melainkan "Seberapa kokoh kohesi sosial kita?" Dan dalam konteks Indonesia, kohesi itu tidak bisa dilepaskan dari peran agama sebagai sumber nilai dan solidaritas.

Media files:
01kh6g3qv88qvjef7d1axzr48j.jpg image/jpeg,
You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar