Search This Blog

Zulhas Usul Kaji Ulang Program Bansos Beras dan Uang: Tidak Produktif Rakyatnya

kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
Zulhas Usul Kaji Ulang Program Bansos Beras dan Uang: Tidak Produktif Rakyatnya
Nov 1st 2025, 12:16 by kumparanBISNIS

Menko Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) di Kantor Kemenko Bidang Pangan, Jakarta. Foto: Widya Islamiati/kumparan
Menko Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) di Kantor Kemenko Bidang Pangan, Jakarta. Foto: Widya Islamiati/kumparan

Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) menilai Indonesia tidak akan bisa maju tanpa peningkatan produktivitas masyarakat. Menurut Zulhas, kemajuan bangsa tidak semata bergantung pada bantuan sosial, melainkan pada kemampuan rakyatnya untuk produktif dan mandiri.

"Kami meyakini negara itu akan maju, bangsa itu akan maju kalau dia produktif. Tidak mungkin bangsa itu maju kalau tidak produktif rakyatnya," ujar Zulkifli Hasan dalam acara Festival Ekonomi Keuangan Digital Indonesia (FEKDI) dan Indonesia Fintech Summit & Expo (IFSE) 2025, di JCC, Sabtu (1/11).

Meski mengakui bantuan sosial (bansos) memiliki manfaat, Zulkifli menilai program bansos beras dan uang perlu dievaluasi agar tidak hanya bersifat jangka pendek.

"Kami bukan tidak setuju bantuan sosial, tentu itu bagus. Tapi kalau bantuan sosial orang susah kasih beras, orang susah kasih uang berpuluh-puluh tahun, berpuluh-puluh tahun, saya kira itu kita mesti kaji," katanya.

Dia menyoroti kondisi perekonomian Tanah Air setelah lebih dari dua dekade reformasi. Menurutnya, meski ada kemajuan dibanding masa lalu, Indonesia masih tertinggal dari sejumlah negara lain di kawasan.

"Nah selama 28 tahun ini kita reformasi ini, memang kita maju, kita dibanding 28 tahun yang lalu, Indonesia maju. Tapi dibanding teman-teman kita yang lain, negara-negara yang lain, pada saat bersamaan kita jauh tertinggal," ujarnya.

Zulhas juga mengenang pada dekade 1980-an, posisi ekonomi Indonesia sempat lebih unggul dibanding China. Kala itu, RI bahkan telah memiliki sejumlah industri strategis seperti pesawat terbang, baja, dan petrokimia.

"Tahun 80-an dibanding dengan Tiongkok, GDP kita lebih tinggi. Pada waktu itu kita sudah bisa bikin pesawat terbang, kita sudah punya Krakatau Steel, kita sudah punya PT PAL, kita sudah punya petrokimia, kita punya pabrik pupuk, kita punya satelit Palapa," ucapnya.

Zulhas melanjutkan, pada masa itu, pertumbuhan ekonomi nasional mampu mencapai rata-rata 7,5 persen selama bertahun-tahun. Karena itu, ia menilai target pertumbuhan ekonomi tinggi bukan hal yang mustahil.

Namun kini, kata Zulhas, Indonesia justru tertinggal dibanding negara tetangga. Ia mencontohkan Malaysia dan Thailand yang memiliki pendapatan per kapita lebih tinggi.

"Sekarang jangankan dibanding dengan Tiongkok, apalagi Tiongkok dan Korea Selatan, dengan Malaysia saja kita sudah kalah. Malaysia sekarang income per capita 12 ribu USD, Thailand hampir 8 ribu, kita masih 4 ribu lebih. Kenapa? Karena mereka produktif," imbuh Zulhas.

Media files:
01k0byr82816bfjnmav23pcfcb.jpg image/jpeg,
You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar