Pemandangan drone menunjukkan tentara Thailand dan polisi anti huru hara berhadapan dengan warga Kamboja di sebuah desa yang disengketakan di sepanjang perbatasan Thailand-Kamboja di Sa Kaeo, Thailand, Rabu (17/9/2025). Foto: Royal Thai Army/Handout via Reuters
Kamboja mengevakuasi ratusan warganya di desa sekitar perbatasan dengan Thailand pada Kamis (13/11). Langkah itu diambil setelah batalnya perjanjian damai dua negara.
Hancurnya perjanjian damai disebabkan terlukanya lima tentara Thailand di perbatasan akibat terkena ranjau darat. Thailand menuduh Kamboja menanam ranjau darat baru di perbatasan.
Kamboja membantah tuduhan tersebut. Meski demikian, Thailand tetap memutus perjanjian yang disepakati bulan lalu saat KTT ASEAN di Kuala Lumpur.
Atase militer dan diplomat dari 23 negara mengunjungi toko swalayan 7-11 di sebuah SPBU Thailand yang terkena tembakan artileri Kamboja di kota Kantharalak, provinsi perbatasan Thailand, Sisaket, Jumat (1/8/2025). Foto: Lillian Suwanrumpha/AFP
Merespons ancaman pecahnya konflik, Wakil Gubernur Provinsi Banteay Meanchey, Ly Sovannarith, menyebut sebanyak 250 keluarga di Prey Chan yang berada di barat laut wilayahnya sudah dievakuasi.
Mereka dibawa ke sebuah kuil Buddha yang berada 29 kilometer dari kota Prey Chan, seperti dikutip dari Al-Jazeera.
Sehari sebelum evakuasi, seorang warga Kamboja bernama Dy Nai tewas akibat baku tembak dua negara di desa tempatnya tinggal.
Perdana Menteri Kamboja yang ditunjuk Hun Manet tiba untuk menghadiri pertemuan parlemen di gedung Majelis Nasional di Phnom Penh pada 22 Agustus 2023. Foto: Tang Chhin Sothy / AFP
Pertempuran antar dua negara pada Rabu (12/11) juga dikonfirmasi Perdana Menteri Hun Manet. Dia menyebut selain satu orang tewas, baku tembak menyebabkan tiga orang terluka.
Sampai sekarang, Kamboja dan Thailand saling menyalahkan. Mereka sama-sama membantah bahwa pihaknya yang pertama kali menembak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar