Suasana saat proses ekshumasi makam Rasya, bocah 6 tahun yang tewas dianiaya ibu tiri di Bojong Gede, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (23/10/2025). Foto: Amira Nada Fauziyyah/kumparan
Relawan pemandi jenazah, Sugeng menjadi salah satu saksi penting di kasus penganiayaan Muhammad Arrasya Alfarizky (6) oleh ibu tirinya di Bojonggede, Kabupaten Bogor.
Sugeng mengaku sempat merasa janggal saat memandikan jenazah korban, namun saat itu ia memilih mempercayai penjelasan ayah korban yang menyebut anaknya meninggal karena sakit dan terjatuh.
"Pertama saya lihat di mulutnya itu ada tisu untuk menyumpal mulutnya. Setelah saya buka, ternyata ada luka sobek yang cukup besar di bibir bawah dan masih berdarah," kata Sugeng, relawan dari Yayasan Halaawatul Iman, pada kumparan, Kamis (23/10).
Selain luka di bibir, Sugeng juga menemukan sejumlah lebam di pelipis kanan dan perut korban.
"Di pelipis kanan itu membiru, di perut juga lebam agak lebar. Terus di kepala juga ada benjolan-benjolan besar di kanan, kiri, dan belakang," ujarnya.
Rumah kontrakan tempat bocah dipukuli ibu tiri hingga tewas, di Perumahan Griya Citayam Permai, Bojonggede, Kabupaten Bogor, Rabu (22/10/2025). Foto: Dok. kumparan
Ukuran lebam, kata Sugeng, lebih lebar daripada ukuran telapak tangan orang dewasa. Sementara, pada hampir setiap benjolan di kepala, terdapat luka yang ia duga disebabkan oleh pukulan benda tumpul.
Saat ditanya mengenai penyebab luka, ayah korban mengatakan kepada Sugeng bahwa anaknya 'Kejedot pintu dan jatuh di kamar mandi'. Penjelasan itu membuat Sugeng tak melanjutkan pertanyaan lebih jauh.
"Saya percaya dulu. Karena tugas saya saat itu cuma memandikan jenazah. Walaupun dalam hati saya sempat merasa janggal," ucapnya.
Sugeng, pemandi jenazah Rasya, bocah 6 tahun yang tewas dianiaya ibu tiri di Bojonggede, Bogor, Kamis (23/10/2025). Foto: Amira Nada Fauziyyah/kumparan
Sugeng menyebut, selama proses pemulasaran, ekspresi kedua orang tua korban tampak berbeda.
"Kalau bapaknya sempat nangis waktu menggotong jenazah anaknya, kelihatan lemas. Tapi ibunya, yang belakangan saya tahu ternyata ibu tiri, terbilang jutek," katanya.
Meski sempat curiga dengan luka-luka yang dilihatnya, Sugeng mengaku memilih diam.
"Itu bagian dari etika memandikan jenazah. Enggak boleh cerita ke orang luar, kecuali untuk kepentingan tertentu," katanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar