Search This Blog

Komisi X ke Mu'ti: Sekolah Inklusif Mahal, Tes Psikologi Tak Ditanggung BPJS

kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
Komisi X ke Mu'ti: Sekolah Inklusif Mahal, Tes Psikologi Tak Ditanggung BPJS
Oct 31st 2025, 11:16 by kumparanNEWS

Wakil Ketua Komisi X DPR, Himmatul Aliyah menghadiri peluncuran Bulan Guru Nasional 2025 di SLBN 01 Jakarta, Jumat (31/10/2025).  Foto: Abid Raihan/kumparan
Wakil Ketua Komisi X DPR, Himmatul Aliyah menghadiri peluncuran Bulan Guru Nasional 2025 di SLBN 01 Jakarta, Jumat (31/10/2025). Foto: Abid Raihan/kumparan

Mendikdasmen Abdul Mu'ti meluncurkan Bulan Guru Nasional di SLBN 1 dan SLB-A Pembina Jakarta, Jumat (31/10). Hadir pula Wakil Ketua Komisi X DPR Himmatul Aliyah.

Dalam kesempatan itu, Himma sempat menyampaikan aspirasi dari hasil reses ke dapilnya. Ini berkaitan dengan sekolah inklusif yang sekarang makin dibutuhkan masyarakat.

Terlebih, sekolah ini dibutuhkan bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Sayangnya, jumlahnya tak banyak dan biayanya juga mahal.

"Kesulitan masuk sekolah inklusif karena memang sekolah inklusif itu rata-rata katanya mahal. Dan ketika ingin masuk harus tes psikolog, tes psikolognya itu tidak ditanggung oleh BPJS. Sehingga cukup memberatkan bagi yang kurang mampu untuk mereka tes psikologis untuk membuktikan bahwa bisa masuk ke dalam sekolah yang inklusif," ungkap Himma dalam sambutannya.

Tak cuma itu, guru-guru yang menangani anak berkebutuhan khusus juga jumlahnya masih sedikit.

Mendikdasmen, Abdul Muti meluncurkan Bulan Guru Nasional 2025 di SLBN 01 Jakarta, Jumat (31/10/2025).  Foto: Abid Raihan/kumparan
Mendikdasmen, Abdul Muti meluncurkan Bulan Guru Nasional 2025 di SLBN 01 Jakarta, Jumat (31/10/2025). Foto: Abid Raihan/kumparan

Di sisi lain, politikus Partai Gerindra itu juga menyampaikan ada aspirasi lain soal sekolah inklusif. Himma menyebut ada juga masukan agar sekolah inklusif ditiadakan karena khawatir terjadinya bullying terhadap anak berkebutuhan khusus.

"Satu sisi ingin ada sekolah inklusif, anak-anak bisa masuk sekolah inklusif. Satu sisi ada yang bilang jangan ada sekolah inklusif katanya. Karena biasanya anak-anak ABK itu katanya nanti tidak bisa, bahkan ada yang dianggap mungkin berbeda gitu. Sehingga menjadi korban bully. Nah korban perundungan. Jadi ada dua pesan," tutur dia.

Karena itu, dia meminta Abdul Mu'ti bersama jajaran Kemendikdasmen memikirkan solusi yang tepat atas permasalahan ini. Paling tidak ada jalan tengah agar anak-anak berkebutuhan khusus tetap bisa mendapat hak terhadap pendidikan berkualitas di sekolah tempat mereka belajar.

"Tapi kita cari jalan tengah yang terbaik dari dua pesan tersebut," ucap dia.

Media files:
01k8w6t3jtvmaq6bgt86fhms2n.jpg image/jpeg,
You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar