Presiden AS Donald Trump menyaksikan pertemuan dengan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen (tidak terlihat dalam foto) setelah pengumuman kesepakatan perdagangan antara AS dan UE di Turnberry, Skotlandia, Inggris, 27 Juli 2025. Foto: Evelyn Hockstein/REUTERS
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memberlakukan tarif impor tinggi terhadap puluhan mitra dagang menjelang tenggat kesepakatan dagang pada Jumat (1/8). Adapun Kanada dikenakan tarif 35 persen, dari yang sebelumnya 25 persen.
Trump merilis perintah eksekutif yang menetapkan kenaikan tarif impor antara 10 persen hingga 41 persen terhadap 69 negara mitra dagang, yang akan berlaku dalam waktu tujuh hari sejak pengumuman tersebut.
Beberapa negara telah mencapai kesepakatan pengurangan tarif, sementara lainnya tidak mendapat kesempatan untuk bernegosiasi dengan pemerintahannya. Dalam dokumen perintah tersebut disebutkan bahwa barang dari negara-negara yang tidak tercantum dalam lampiran akan dikenai tarif standar sebesar 10 persen.
Trump menyatakan bahwa sebagian mitra dagang, meskipun telah melakukan negosiasi, dinilainya menawarkan persyaratan yang tidak cukup untuk mengatasi ketidakseimbangan dalam hubungan dagang dengan AS atau tidak cukup sejalan dengan kepentingan ekonomi dan keamanan nasional negara tersebut.
Secara khusus, Trump juga mengeluarkan perintah terpisah untuk Kanada, menaikkan tarif barang Kanada yang dikenakan tarif terkait fentanyl dari sebelumnya 25 persen menjadi 35 persen. Ia menuduh Kanada telah "gagal bekerja sama" dalam mengatasi arus fentanyl ke AS.
"Menanggapi ketidakpedulian dan tindakan balasan Kanada yang berkelanjutan. Presiden Trump merasa perlu untuk menaikkan tarif terhadap Kanada dari 25 persen menjadi 35 persen guna mengatasi keadaan darurat yang ada secara efektif," tulis Gedung Putih seperti dikutip dari Reuters, Jumat (1/8).
Peningkatan tarif terhadap barang Kanada ini sangat kontras dengan keputusan Trump yang memberi kelonggaran kepada Meksiko selama 90 hari dari tarif baru sebesar 30 persen untuk banyak barang, guna memberi waktu lebih dalam menyusun kesepakatan perdagangan yang lebih luas.
Seorang pejabat AS menyampaikan kepada wartawan bahwa masih ada beberapa kesepakatan dagang yang akan diumumkan menyusul diberlakukannya tarif "resiprokal" baru dari Trump.
"Kami punya beberapa kesepakatan. Dan saya tidak ingin mendahului Presiden dalam mengumumkan kesepakatan itu," ujar pejabat tersebut.
Terkait tarif tinggi atas barang dari Kanada, mitra dagang AS terbesar kedua setelah Meksiko, pejabat itu menyebut bahwa pihak Kanada "belum menunjukkan tingkat keterbukaan yang sama seperti yang kami lihat dari pihak Meksiko."
Penundaan tarif untuk Meksiko ini mencegah penerapan tarif 30 persen atas sebagian besar barang non-otomotif dan non-logam dari Meksiko yang sudah sesuai aturan asal barang dalam Perjanjian Dagang AS-Meksiko-Kanada (USMCA). Keputusan ini diambil setelah Trump melakukan panggilan telepon dengan Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum pada Kamis pagi (31/7).
"Kami berhasil menghindari kenaikan tarif yang seharusnya berlaku besok," tulis Sheinbaum dalam unggahan di media sosial X. Ia pun menyebut percakapannya dengan Trump "sangat baik."
Menurut Kementerian Ekonomi Meksiko, sekitar 85 persen impor AS dari Meksiko sudah memenuhi ketentuan asal barang dalam USMCA, sehingga terlindungi dari tarif 25 persen yang diberlakukan terkait krisis fentanyl.
Trump juga menegaskan bahwa AS akan tetap memberlakukan tarif 50 persen untuk baja, aluminium, dan tembaga asal Meksiko, serta tarif 25 persen untuk mobil dan barang-barang lain dari Meksiko yang tidak sesuai dengan USMCA dan masih terkait krisis fentanyl.
"Selain itu, Meksiko telah setuju untuk segera menghapus Hambatan Non-Tarif Perdagangan, yang jumlahnya sangat banyak," tulis Trump dalam unggahan di Truth Social tanpa merinci lebih lanjut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar