Search This Blog

SPBE dan Warisan Birokrasi yang Terlalu Tangguh untuk Diubah (TTuD)

kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
SPBE dan Warisan Birokrasi yang Terlalu Tangguh untuk Diubah (TTuD)
Aug 3rd 2025, 10:52 by Ruslan Effendi

Elderly-person-is-serving-boot-service-his-own-personal-workshop (Ilustrasi)/Image by fxquadro on Freepik
Elderly-person-is-serving-boot-service-his-own-personal-workshop (Ilustrasi)/Image by fxquadro on Freepik

Pemerintah Indonesia tengah gencar mendorong transformasi digital birokrasi melalui kebijakan Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE). Regulasi seperti Perpres No. 95 Tahun 2018 dan Arsitektur SPBE Nasional menunjukkan semangatnya secara jelas, yaitu menjadikan birokrasi lebih efisien, terintegrasi, dan responsif terhadap kebutuhan publik. Tapi pertanyaannya, apakah teknologi cukup untuk mengubah cara kerja birokrasi?

Di atas kertas, SPBE menjanjikan banyak hal, misalnya interoperabilitas data, pelayanan satu pintu, sistem pengukuran kinerja elektronik, hingga integrasi lintas sektor. Namun dalam praktiknya, banyak inovasi SPBE justru terserap ke dalam pola kerja birokrasi lama. Aplikasi dibuat tanpa integrasi, e-kinerja diukur berdasarkan presensi, dan dashboard digital tetap bergantung pada input manual.

Masalah utamanya bukan pada teknologinya, tetapi pada struktur birokrasi yang terlalu tangguh untuk diubah. Struktur ini merupakan enduring structure--pola relasi kekuasaan, norma kerja, dan logika prosedural yang sudah lama terbentuk dan tetap bekerja meskipun ada kebijakan baru.

Contohnya jelas dalam sistem insentif. Tunjangan kinerja yang dimaksudkan untuk mendorong meritokrasi, pada kenyataannya hanya bergeser menjadi tambahan penghasilan berbasis absensi. Reformasi berbasis data pun seringkali hanya mengganti formulir fisik menjadi digital, tanpa mengubah logika kerja hierarkis dan sektoral.

SPBE bukan sekadar soal aplikasi. Ia membutuhkan perubahan dalam cara berpikir birokrasi, dari budaya dokumentatif ke budaya kolaboratif; dari logika asal selamat ke logika akuntabilitas berbasis hasil. Sayangnya, warisan birokrasi Weberian yang menekankan stabilitas, kepatuhan, dan kontrol vertikal masih sangat kuat. Bahkan ketika sistem digital diperkenalkan, yang berubah hanya tampilannya—bukan cara bekerjanya.

Maka tak heran jika SPBE kerap berakhir sebagai etalase reformasi. Ia tampak maju di permukaan, namun tidak cukup mengguncang struktur dalam. Kita sedang berhadapan dengan transformasi yang bersifat teknologis, tapi bukan transformatif.

Pertanyaannya kini, beranikah kita mengubah bukan hanya perangkat lunaknya, tetapi juga cara kita memandang dan mempraktikkan birokrasi?

Media files:
01k1pzqtyb0wa7mfmqzyskyfjz.jpg image/jpeg,
You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar