Ilustrasi peta Thailand dan Kamboja. Foto: sasirin pamai/Shutterstock
Sebagai sesama anggota ASEAN, kita sangat menyesalkan terjadinya perang antara Thailand-Kamboja yang meletus pada Kamis pagi (24/7/25). Masing-masing negara telah menuduh pihak lain yang memulai.
Thailand misalnya, mengatakan bahwa Kamboja merupakan pihak pertama yang melepaskan tembakan. Sementara Kementerian Pertahanan Nasional Kamboja mengatakan bahwa Thailand secara sengaja telah mengerahkan pasukannya dalam jumlah yang cukup besar ke daerah konflik, dengan membawa senjata berat. Para pasukan itu, menurut mereka, telah melancarkan serangan udara guna menduduki wilayah Kamboja.
Imbasnya, perang antara kedua negara pun pecah, setidaknya belasan orang tewas, dan puluhan ribu lainnya mengungsi.
Keadaan semakin memburuk setelah pemerintah Thailand mengusir Duta Besar Kamboja dan menarik utusannya dari Phnom Penh. Kita berharap agar kedua negara bisa secepatnya menghentikan peperangan, lalu menyelesaikan masalah mereka melalui meja perundingan.
"Menang jadi arang, kalah jadi abu"
Kata-kata ini hendaknya benar-benar disadari oleh kedua belah pihak. Jika perang ini terus berlanjut maka baik yang menang maupun yang kalah akhirnya akan sama-sama hancur dan mengalami kerugian.
Untuk itu kita berharap agar Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, sebagai Ketua Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) saat ini untuk melakukan langkah-langkah konkret demi menghentikan peperangan dan mendesak kedua negara agar dapat menyelesaikan masalah mereka melalui meja perundingan.
Ini sangat penting dilakukan karena kita ingin kawasan ASEAN tetap menjadi kawasan yang aman, tentram, dan damai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar