Search This Blog

Kisah Shallom Meniti Asa di Sekolah Rakyat, Tak Lagi Setrika Baju Tetangga

kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
Kisah Shallom Meniti Asa di Sekolah Rakyat, Tak Lagi Setrika Baju Tetangga
Jul 29th 2025, 10:38 by kumparanNEWS

Shallom Alleanore (13), siswa Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 10 Kabupaten Bogor. Foto: Kemensos RI
Shallom Alleanore (13), siswa Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 10 Kabupaten Bogor. Foto: Kemensos RI

Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 10 Kabupaten Bogor telah mengubah keseharian siswanya, Shallom Alleanore (13), selama dua pekan. Ia merasa beruntung dengan kehidupan barunya.

"Kalau di rumah biasanya makan juga enggak tentu. Kadang satu kali, kadang-kadang enggak makan. Kalau di sini maksimal sehari tiga kali terus dapat snack juga. Jadi, beruntung banget aku bisa sekolah di sini," kata Shallom di SRMP 10 Kabupaten Bogor, Sentra Terpadu Inten Soeweno, Selasa (29/7/2025).

Ia menceritakan ibunya berprofesi sebagai tukang masak catering. Sementara ayahnya sudah meninggal sejak ia masih berada di kandungan.

"Kalau bapak (sambung) serabutan, kadang-kadang pijet orang," jelasnya.

Untuk membantu perekonomian keluarga, ia kerap menerima permintaan setrika baju tetangganya sejak kelas 5 SD. Tiap menyetrika, ia diupah Rp 25 ribu sampai Rp 50 ribu bergantung kuantitas.

"Kalau dikasih upah, kasih mamahku buat biayain sekolah adik," jelasnya.

Anak kelima dari enam bersaudara ini memiliki tiga kakak yang menetap bersama neneknya di Papua. Kakak nomor tiga ternyata mendapatkan beasiswa ke Australia dan menjadi arsitek. Sementara itu, ia dan adiknya tinggal bersama ibu dan ayah sambungnya.

"Aku pengin kayak kakak jadi arsitek," ujarnya.

Shallom Alleanore (13), siswa Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 10 Kabupaten Bogor. Foto: Kemensos RI
Shallom Alleanore (13), siswa Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 10 Kabupaten Bogor. Foto: Kemensos RI

Kini, Shallom tak lagi menyetrika baju untuk membantu ekonomi orang tuanya. Ia memulai kesehariannya dengan lebih teratur. Para siswa Sekolah Rakyat sudah bangun pukul 04.30 WIB untuk salat subuh.

"Habis salat subuh, mandi, sarapan, lalu belajar," ungkapnya.

Selama proses belajar, ia mengatakan, matematika dan bahasa inggris menjadi mata pelajaran favoritnya. Saat menemui kesulitan saat belajar, ia tak memilih menyerah.

"Namanya belajar, kadang susah, kadang gampang. Kalau pengin sukses ya sudah, lanjutin aja," katanya.

Usai kegiatan belajar, Shallom mengikuti jadwal asrama untuk tidur pukul 9 malam. Selama berasrama dua pekan di Sekolah Rakyat, ia mengaku sudah betah.

"Yang bikin betah karena punya lingkungan yang bagus, punya banyak teman, baik semua teman-temannya," kata dia.

Tinggal berasrama, ia menuturkan sudah memiliki banyak teman baik sekamar maupun sekelas. Biasanya saat di luar jam belajar atau akhir pekan, ia suka bermain dengan mereka di lingkungan asrama.

"Main kayak anak-anak seperti biasa kaya petak umpet," jelas dia.

Dua pekan berasrama di Sekolah Rakyat, Shallom tak menampik rindu dengan keluarganya, namun kerinduannya sirna karena orang tuanya kerap menjenguk di sekolah. Ia pun menyampaikan pesan untuk orang tuanya.

"Sehat selalu ya. Maafin aku belum bisa jadi anak yang terbaik di luar sana. Doakan anak perempuanmu sukses ya, ma," ungkap Shallom.

Media files:
01k1a3cw9f8sycysfe51bcd5d1.jpg image/jpeg,
You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar