Apr 14th 2025, 14:07, by Moh Fajri, kumparanBISNIS
Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam Konferensi Pers soal Kesiapan Indonesia Bernegosiasi dengan AS terkait tarif Trump, di kantornya, Senin (14/4/2025). Foto: Widya Islamiati/kumparan
Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan akan ada perusahaan Indonesia yang berinvestasi di Amerika Serikat (AS). Rencana itu menjadi salah satu bagian dari poin-poin yang akan dinegosiasikan dengan AS usai Indonesia dikenakan tarif impor 32 persen.
"Dan secara teknis selain mengundang investasi Amerika di Indonesia, Indonesia juga akan ada perusahaan yang akan investasi di Amerika," kata Airlangga di kantornya, Senin (14/4).
Meski begitu, Airlangga mengatakan keputusan penyuntikan investasi ini masih bergantung pada kesepakatan pembicaraan saat negosiasi antara kedua negara tersebut. Sehingga, Airlangga belum membeberkan lebih jelas rencana investasi perusahaan Indonesia di AS ini, termasuk apakah nantinya perusahaan tersebut pelat merah atau swasta.
"Sehingga seluruhnya tentu tergantung daripada pembicaraan nanti," terang Airlangga.
Dalam kesempatan yang sama, Wakil Menteri Investasi, Todotua Pasaribu, mengatakan pemerintah berharap perusahaan yang akan menyuntikkan modal di AS adalah perusahaan pelat merah.
Dia menilai saat ini merupakan momentum yang tepat bagi Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara untuk berperan.
"Kita harapkan harus pakai strategi BUMN kita lah artinya dengan adanya Danantara kan sebenernya strategi itu baik kita berinvestasi dalam negeri maupun di luar negeri. Kan bisa jauh lebih fleksibel daripada sebelum Danantara," kata Todo di Kantor Kemenko Bidang Perekonomian, Senin (14/4).
Dari sisi sektor, Todotua membocorkan kemungkinan perusahaan ini bergerak di bidang minyak dan gas atau migas (oil and gas) juga Information Technology (IT).
Di sektor migas, kata Todotua, sebelumnya perusahaan asal Indonesia sudah ada yang mendarat dan berinvestasi di luar negeri, yaitu Pertamina melalui anak usahanya.
Todotua juga belum memastikan bentuk usaha yang dibangun di negeri Paman Sam itu seperti apa, apakah akuisisi sumur, atau di bagian upstream atau midstream.
Dari sektor IT, Todotua mengatakan bisa menjadi investasi di AS sejalan dengan kepentingan Indonesia.
"Mungkin kita juga bisa mendevelop R&D kita ke depan kenapa gak kita berinvestasi misalnya di perusahaan AI yang ada di luar. Karena kan dengan kita masuk berinvestasi kan sebenernya kita bisa dapat give it back-nya itu dalam bentuk strategik R&D kita ke depan," jelas Todotua.
Todotua menjelaskan dari segi modal untuk perusahaan Tanah Air berinvestasi di AS, Indonesia tidak harus menggelontorkan modal secara keseluruhan untuk membangun usaha di AS. Dia melihat ada opsi untuk mengikuti proyek-proyek tertentu.
"Kan combine investment kan juga boleh. Kita bisa ikut dalam project, part of daripada itu. Tetapi selain memang strategi getting margin, kita juga punya strategi bisa mendapatkan leverage daripada riset pengetahuan teknologinya. Kan strateginya itu tidak ada masalah," tutur Todotua.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar