Feb 6th 2023, 14:58, by Gitario Vista Inasis, kumparanTRAVEL
Ilustrasi pesawat. Foto: joo830908/Shutterstock
Setiap pesawat komersial biasanya menyediakan life vest atau jaket keselamatan di bagian bawah kursi penumpang. Jaket atau rompi keselamatan tersebut berfungsi sebagai alat untuk berjaga-jaga ketika pesawat melakukan pendaratan di air.
Sebagian dari travelermungkin bertanya-tanya, daripada rompi keselamatan kenapa pesawat komersial tidak menyediakan parasut saja? Ya, jika terjadi hal darurat, kita tinggal melompat dari atas pesawat untuk menyelamatkan diri. Simpel bukan?
Ilustrasi orang yang melompat dari pesawat. Foto: Shutterstock
Jika kamu berpikiran demikian, hal tersebut ternyata salah. Meski ada beberapa pesawat yang menyediakan parasut untuk para penumpangnya, seperti pesawat militer. Pesawat komersial justru dilarang membekali parasut untuk penumpangnya karena alasan keamanan.
Dilansir Lad Bible, seorang instruktur penerbangan, Ethan Gregerson, menyampaikan setidaknya ada beberapa alasan kenapa parasut di pesawat komersial merupakan hal yang tidak mungkin.
Ilustrasi pesawat. Foto: joo830908/Shutterstock
Pertama, itu berkaitan dengan tekanan udara yang sangat kuat ketika pesawat mengudara.
"Pertama dan alasan yang paling utama adalah karena tekanan udara saat pesawat mencapai ketinggian daya jelajah. Kamu harus mengalahkan gaya lebih dari 10.000 pound atau lebih dari 5 ton untuk membuka paksa pintu pesawat," kata dia.
Alasan kedua adalah karena beban dari parasut tersebut. Sebagai contoh, ketika maskapai harus membekali setiap penumpang dengan parasut. Bayangkan, berapa jumlah parasut yang harus dibawa yang berimbas dengan bertambahnya bobot pesawat.
Desc: Ilustrasi strap warna merah di pintu darurat pesawat. Foto: Almaz Mustafin/Shutterstock
"Alasan kedua adalah karena berat. Menurut Google, satu parasut setidaknya memiliki berat 31 pound (atau sekitar 14 kg). Karena hal tersebut, untuk mengkompensasi beban tambahan dari parasut, kamu (maskapai) mungkin harus mengurangi beban dengan membawa penumpang dalam jumlah yang lebih sedikit," lanjut Gregerson.
Alasan Lain Kenapa Tak Ada Parasut di Pesawat Komersial
Adapun, alasan lainnya adalah karena dalam konteks darurat tidak ada penumpang yang dibekali dengan pengetahuan bagaimana caranya menggunakan parasut.
Tak hanya itu, penumpang juga tidak dibekali bagaimana cara mendarat dengan benar. Bahkan, seorang penerjun payung pun membutuhkan pelatihan dan beberapa persiapan sebelum melakukan aksinya.
"Ketika seorang penerjun payung jatuh dari pesawat dan parasut dikembangkan (dalam keadaan terikat ke pesawat), biasanya membutuhkan waktu empat hingga lima jam pelatihan," kata Director of Safety and Training for the U.S Parachute Association, Jim Crouch seperti dikutip dari Conde Nast Traveler.
"Bahkan apabila seseorang sudah terlatih untuk menggunakan parasut, dalam kondisi pesawat komersial yang biasanya melintas di ketinggian 35.000 kaki, hal itu pun juga tidak pantas dilakukan," lanjutnya.
Parasut juga tak bisa dipakai semudah menggunakan pelampung penyelamat yang tersedia di bawah kursi pesawat. Selain itu, ukurannya juga harus pas dengan tubuh masing-masing penumpang.
Terjun dengan parasut pun tak semudah bayangan orang awam.
Menurut USPA USParachute Association, cara tandem adalah cara termudah dan paling popular untuk melakukan terjun payung atau sky diving untuk pertama kalinya. Peserta yang belum pernah melakukan terjun payung sebelumnya perlu waktu setengah jam untuk mengikuti instruksi di darat.
Setelah itu, penerjunan terjun payung akan dilakukan dari ketinggian 13.000 kaki, bersama berimpitan dengan instruktur berpengalaman.
Pada penerjunan Accelerated Freefall, penerjun dengan sistem parasut yang terpasang harus ditemani oleh dua instruktur di sisi kiri dan kanannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar