Presiden Prabowo Subianto berjabat tangan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin saat melakukan pertemuan di Kremlin di Moskow, Rusia, Rabu (10/12/2025). Foto: Bakom RI
Presiden Prabowo terbang ke Moskow pada Minggu (12/4) malam untuk bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. Perjalanan ini makan waktu 12 jam nonstop.
Kemlu Rusia dalam pernyataan tertulis mengatakan, pertemuan kedua kepala negara itu akan berlangsung pada Senin (13/4) waktu setempat.
“Pada 13 April, Presiden Rusia Vladimir Putin akan mengadakan pembicaraan di Moskow dengan Presiden Indonesia Prabowo Subianto, yang akan melakukan kunjungan kerja ke Rusia,” kata Kemlu Rusia.
“Para pemimpin tersebut akan membahas kondisi terkini dan prospek untuk memperdalam kemitraan strategis Rusia–Indonesia, serta isu-isu internasional dan regional yang mendesak,” lanjutnya.
Presiden Prabowo Subianto terbang menuju Moskow untuk bertemu Presiden Vladimir Putin. Foto: Dok Sekretariat Kabinet
Bahas Energi dan Geopolitik
Sebelumnya, pada Sabtu (11/2), Menlu RI Sugiono mengatakan bahwa krisis energi global akan juga masuk pembicaraan.
“Beliau akan bertemu dengan Presiden Putin dan juga akan membahas mengenai geopolitik dunia dan juga pasti membahas tentang situasi energi,” katanya.
Sedangkan menurut Seskab Teddy Indra Wijaya, ada dua hal yang dibahas Prabowo dan Putin, yaitu:
Ketahanan energi, melanjutkan kerja sama dengan Pemerintah Rusia dan memastikan pasokan energi nasional yang stabil, termasuk ketersediaan minyak.
Geopolitik dunia, menyuarakan posisi strategis Indonesia dalam menjaga stabilitas dan perdamaian global.
Turut mendampingi Presiden Prabowo dalam penerbangan ke Rusia, Menteri Luar Negeri Sugiono, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dan Seskab Teddy Indra Wijaya.
Sebelumnya, Prabowo telah mengadakan pertemuan bilateral dengan Putin pada Juni 2025 di St Petersburg dan pada 10 Desember 2025 di Istana Kremlin, Moskow.
Ilustrasi pendaki gunung. Photo by Toomas Tartes on Unsplash
Setiap tahun, berita tentang pendaki yang ditemukan tak bernyawa di lereng gunung kembali mengisi kolom berita. Publik berduka, komunitas pendaki bersuara, lalu semuanya berlalu begitu saja hingga kejadian serupa terulang musim berikutnya. Kita terlalu sering menyalahkan cuaca buruk, medan yang berat, atau nasib. Namun jarang sekali kita jujur pada diri sendiri: banyak dari kematian itu sebenarnya bisa dicegah. Dan penyebabnya, lebih sering dari yang kita duga, adalah hipotermia.
Hipotermia bukan sekadar kondisi "kedinginan parah." Ia adalah kegagalan fisiologis sistemik, sebuah spiral ke bawah yang dimulai diam-diam, tanpa peringatan keras, tanpa rasa sakit yang mencolok. Paal et al. (2022) mendefinisikannya sebagai penurunan suhu inti tubuh di bawah 35°C, ketika sistem termoregulasi yang selama ini bekerja tanpa henti mulai kalah dari lingkungan. Ketika itu terjadi, jantung, otak, dan seluruh organ vital perlahan berhenti berfungsi optimal. Dan dalam kondisi ekstrem pegunungan, proses itu bisa berlangsung jauh lebih cepat dari yang kita bayangkan.
Yang membuat hipotermia begitu berbahaya bukan semata-mata intensitasnya, melainkan cara ia datang: perlahan, menipu, dan sering tidak dikenali bahkan oleh si penderita sendiri. Bjertnæs et al. (2022) mencatat bahwa salah satu tanda paling paradoks dari hipotermia sedang adalah berhentinya rasa menggigil yang kerap disalahartikan sebagai tanda membaik, padahal ia justru menandakan bahwa tubuh telah kehabisan cadangan energi untuk bertahan. Pada titik inilah banyak pendaki, dan bahkan rekan seperjalanan mereka, terlena. Mereka mengira yang terburuk sudah lewat. Padahal yang terburuk baru saja dimulai.
Kita perlu bicara jujur tentang siapa yang paling berisiko. Jawabannya mungkin mengejutkan: bukan hanya pendaki pemula. Fudge (2016) menemukan bahwa dalam survei terhadap para pendaki gunung, tiga penyebab utama cedera dingin adalah pakaian yang tidak sesuai, penggunaan peralatan yang keliru, dan kurangnya pengetahuan tentang persiapan menghadapi dingin. Ketiga faktor ini tidak eksklusif milik pemula. Pendaki berpengalaman pun kerap terjebak dalam ilusi bahwa pengalaman masa lalu cukup sebagai perlindungan. Padahal gunung tidak peduli seberapa sering kamu mendaki. Ia hanya tahu seberapa siap kamu hari ini.
Yang lebih mengkhawatirkan lagi adalah bagaimana faktor risiko di pegunungan bekerja secara sinergis. Szymczak et al. (2022) lewat simulasi neraca panas di lingkungan Gunung Everest menunjukkan bahwa ketika seorang pendaki yang kelelahan terpaksa berhenti akibat cuaca yang memburuk mendadak, cedera, atau sekadar kehabisan tenaga, produksi panas metabolik tubuh anjlok drastis. Di ketinggian, kemampuan tubuh mengkompensasi penurunan ini sangat terbatas. Inilah jebakan sesungguhnya: kamu masih bisa berjalan, masih bisa berbicara, lalu tiba-tiba tidak bisa lagi. Duong dan Patel (2024) mengingatkan bahwa pada hipotermia berat, disfungsi jantung dan sistem saraf dapat terjadi begitu cepat sehingga jendela waktu untuk intervensi menjadi sangat sempit.
Namun saya tidak menulis ini untuk menakut-nakuti. Saya menulis ini karena percaya bahwa kesadaran adalah obat terbaik yang kita miliki dan kita belum cukup menggunakannya. Paal et al. (2022) menegaskan bahwa pencegahan hipotermia jauh lebih mudah dan efektif daripada penanganannya di lapangan. Teknik layering, pemantauan kondisi cuaca secara aktif, kecukupan kalori dan hidrasi, serta keberanian untuk memutuskan turun gunung ketika situasi memburuk, semua itu bukan tanda kelemahan. Semua itu adalah tanda kebijaksanaan.
Ada satu hal yang menurut saya paling mendesak untuk diubah: cara kita memandang keputusan berbalik arah. Dalam kultur pendakian kita, terlalu sering keberhasilan diukur dari apakah seseorang berhasil menapakkan kaki di puncak. Pendaki yang memilih turun demi keselamatan kerap dipandang sebelah mata, bahkan oleh dirinya sendiri. Padahal Van Veelen et al. (2025) dalam tinjauan medis mereka tentang penanganan darurat di pendakian ketinggian tinggi secara eksplisit menyebutkan bahwa penghentian pendakian yang tepat waktu dan keputusan turun saat kondisi memburuk adalah komponen krusial keselamatan yang tidak bisa diabaikan.
Gunung akan selalu ada. Ia tidak ke mana-mana. Tapi nyawa manusia sekali hilang tidak pernah kembali.
Maka sebelum kamu memasang tali di carrier, sebelum kamu mengecek perkiraan cuaca terakhir kali, tanyakan dulu pada dirimu sendiri: apakah aku benar-benar siap, bukan hanya untuk mendaki, tapi juga untuk pulang?