Jalan masuk "Sludukan" melewati kolong jembatan yang merupakan jalan pintas saat penutupan u-turn di jalur arteri di Desa Legok, Kecamatan Lohbener, Kabupaten Indramayu (22/3/2026). Foto: Panji Asmara/kumparan
Terik matahari menyengat aspal Jalur Pantura Indramayu. Di atasnya, deru mesin ribuan kendaraan pemudik menciptakan simfoni bising yang tak putus-putus.
Namun, tepat di bawah salah satu jembatan di Jalan Pantura Indramayu, ada kehidupan lain yang berdenyut, sebuah dunia bernama "Sludukan".
Bagi warga lokal, "Sludukan" bukan sekadar jalur pintas. Ia adalah jawaban atas "tembok raksasa" berupa penutupan U-Turn (putaran balik) yang dilakukan pihak kepolisian demi kelancaran arus mudik.
Tanpa celah ini, warga harus memutar hingga berkilo-kilometer jauhnya hanya untuk mencapai sisi jalan di seberang.
Kreativitas di Kolong Jembatan
Lorong "Sludukan" melewati kolong jembatan yang merupakan jalan pintas saat penutupan u-turn di jalur arteri di Desa Legok, Kecamatan Lohbener, Kabupaten Indramayu (22/3/2026). Foto: Panji Asmara/kumparan
Pantauan kumparan di lokasi menunjukkan pemandangan unik. Puluhan motor mengantre dengan tertib untuk menuruni sisi jalan, masuk ke kolong jembatan yang biasanya tergenang air.
Untuk menyulap rawa dan sungai kecil menjadi jalan yang layak dilalui, warga setempat bergotong royong membangun infrastruktur sederhana namun fungsional. Mulai dari jembatan bambu, bendungan mini hingga menyiapkan pompa agar air tidak merembes ke kolong jembatan tersebut.
Antara Kebutuhan dan Keikhlasan
Setiap pengendara yang melintas biasanya merogoh kocek untuk memberikan uang seikhlasnya ke dalam kotak yang dijaga warga.
Tak ada tarif dipatok, namun kepingan koin dan lembaran dua ribuan itu menjadi bahan bakar agar jalur tetap bisa beroperasi.
Jalan masuk "Sludukan" melewati kolong jembatan yang merupakan jalan pintas saat penutupan u-turn di jalur arteri di Desa Legok, Kecamatan Lohbener, Kabupaten Indramayu (22/3/2026). Foto: Panji Asmara/kumparan
Bagi Maman (42), seorang pedagang sayur lokal, penutupan U-Turn di jalur utama adalah hambatan besar bagi mata pencahariannya. Ia adalah salah satu pengguna setia jalur bawah jembatan ini.
"Kalau harus memutar ke putaran resmi, jaraknya bisa 5 sampai 7 kilometer. Belum lagi macetnya arus mudik yang bikin motor susah selap-selip. Lewat 'Sludukan' ini cuma butuh 5 menit. Bayar dua ribu atau lima ribu rupiah ya ikhlas saja, hitung-hitung ganti uang bensin dan tenaga warga yang jaga," ujar Maman kepada kumparan sambil lewati "Sludukan", Minggu (22/3).
Operasional di Balik Lumpur
Di sisi lain, Kaso (62), salah satu warga yang menginisiasi pembuatan jalur pintas ini, menjelaskan bahwa operasional "Sludukan" tidak semudah yang terlihat.
Jalan masuk "Sludukan" melewati kolong jembatan yang merupakan jalan pintas saat penutupan u-turn di jalur arteri di Desa Legok, Kecamatan Lohbener, Kabupaten Indramayu (22/3/2026). Foto: Panji Asmara/kumparan
Baginya, ini adalah bentuk layanan sekaligus upaya mengais rezeki di tengah keramaian mudik.
"Kami di sini tidak cuma berdiri minta uang. Lihat itu, pompa air harus nyala terus. Kalau mati sebentar saja, air sungai merembes dan jalanan jadi kubangan lumpur. Bambu-bambu ini juga setiap dua hari harus dicek, kalau ada yang retak langsung ganti biar pemudik lokal tidak celaka," jelas Kaso.
Dalam sehari, tercatat bisa ratusan motor yang memilih "nyeluduk" di bawah jembatan ini. Kaso menambahkan bahwa jalur ini sebenarnya jauh lebih aman dibanding kebiasaan lama warga.
"Dulu warga sering nekat bongkar pembatas jalan (MCB) di atas, itu bahaya sekali atau melanggar aturan polisi. Mending lewat bawah sini, pelan tapi selamat," pungkasnya.
Fenomena "Sludukan" ini sudah menjadi tradisi tahunan di Indramayu. Meski sederhana dan berlantai bambu, jalur ini tetap setia menjadi penyambung ekonomi dan napas kehidupan warga lokal di tengah keriuhan arus mudik lebaran yang melintas di atas kepala mereka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar